Bentrok Berdarah di Pamulang

Demo Mahasiswa Unpam Tolak Wakapolri, 7 Luka
PAMULANG, SNOL Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berubah mencekam, Kamis (18/10). Puluhan mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) terlibat bentrok dengan aparat kepolisian saat berunjuk rasa menolak kedatangan Wakapolri Komisaris Jenderal Nanan Sukarna di kampus tersebut. Lima orang polisi dan tiga mahasiswa terluka dalam bentrokan itu.
Aksi penolakan ini didasari ketidaksukaan sekelompok mahasiswa kepada Polri yang dianggap sudah main ranah korupsi ke kampus Unpam. Tak ayal, saat Nanan datang bersama rombongan, langsung dihadang puluhan mahasiswa. Bahkan, mereka langsung melakukan aksi dorong kepada Nanan.

Tindakan mahasiswa yang di luar dugaan langsung mendapat respon pengamanan oleh aparat. Seketika itu, salah seorang mahasiswa semester 7, Fakultas Hukum Unpam atas nama Benediktus Mega Pradita (20) terkena pukulan di bagian hidung hingga mengucurkan darah segar.
Tak terima kawannya diperlakukan kasar, barisan aksi pun tanpa rasa takut langsung melakukan kembali aksi dorong. Bahkan, Nanan yang langsung menghadapi pendemo di barisan depan sempat tejengkang lantaran kena dorong oleh jumlah mahasiswa yang terus bertambah dalam melakukan aksi.

Meskipun dapat dorongan dan hampir terjatuh, Nanan terus bertahan di barisan depan, dan tetap menghadang dorongan para mahasiswa yang terus menyanyikan lagu Indonesia Raya dan memukulkan bambu panjang yang mereka bawa. Pihak rektorat maupun polisi pun hanya bisa membiarkan aksi tersebut.
“Tidak ada polisi yang pukul-pukul. Saya ke sini dengan maksud baik. Tidak ada mahasiswa yang dipukul,” kata Nanan, yang langsung pergi meninggalkan lokasi aksi ke ruang aoditorium utama untuk menghadiri seminar nasional bersama ratusan mahasiswa Fakultas Hukum, Ekonomi dan Keguruan.

Mulai Brutal
Lepas Nanan menuju auditorium, aksi masih terus berlanjut. Kali ini, mahasiswa mulai melakukan aksinya dengan lebih brutal. Bambu-bambu jadi senjata mereka untuk menghalau polisi masuk ke areal kampus. Sampai akhirnya, mahasiswa yang merangsek menuju keluar kampus untuk menghalau kedatangan aparat kepolisian menduduki sebuah truk persenjataan polisi. Di sana, mereka nenurunkan tameng jaga polisi.

Ulah ini menyedot emosi beberapa aparat. Langkah antisipatif dan pengamanan pun dilakukan. Sayang, tindakan polisi justru menyulut emosi balik mahasiwa dan mulai memukulkan bambunya, sampai melemparkan batu ukuran sedang ke arah polisi.

Polisi yang terdesak dan mulai terancam, kemudian mempersenjatai diri mereka dengan senjata gas air mata. Saat itulah, satu per satu tembakan gas air mata dilontarkan kepada pendemo.

Sayang, justru tindakan polisi ini tidak membuat mahasiswa jera. Sebaliknya, mereka malah melakukan perlawanan balik. Sehingga, saling serang terus berlanjut sampai jatuh 5 korban dari kepolisian dan dua korban dari mahasiwa. Semuanya langsung dilarikan ke puskesmas Pamulang dan RSU Kota Tangsel. Bahkan akibat bentrok ini, Jalan Pajajaran, Pamulang Barat sempat ditutup.

Adapun korban dari pihak kepolisian antara lain, Brigadir Suryana patah jari kiri dan bocor kepala, Briptu Sulistiyono luka bagian dagu dan pingsan, Wakapolsek Pamulang AKP Tatang terkena sabetan Bambu, Briptu Dedy robek di pelipis mata dan kepala, Aipda Samsudin luka di bagian kepala.

Sementara dari mahasiswa, Zundi, mahasiswa semeter 7 Fakultas Teknik, luka memar dan bocor bagian kepala, Ferry Irawan, mahasiswa semeter 8 Fakultas Hukum, terkena proyektil peluru karet di bagian kiri perut, serta Benediktus Mega Pradita mahasiswa semester 7, Fakultas Hukum, luka patah hidung dan pelipis mata.

Tembakan gas air mata oleh polisi dan lemparan batu hingga bom molotov dari mahasiswa baru dapat reda setelah polisi mendorong mahasiswa masuk ke dalam kampus dan mengisolasi mereka. Bentrok terjadi hampir 2 jam lamanya, sampai benar-benar reda setelah perwakilan rektor, polisi dan warga membantu menenangkan mahasiswa.

Tindakan Proporsional
Kapolres Jakarta Selatan Kombespol Wahyu Hardiningrat mengatakan, tindakan yang dilakukan mahasiswa Unpam atas penolakan kedatangan Wakapolri dianggap berlebihan. Makanya, dia melakukan tindakan proporsional dengan mendesak mahasiswa masuk ke dalam kampus untuk mengamankan kepentingan warga yang lebih luas. “Tindakan yang kami lakukan ini proporsional,” ucapnya.

Wakapolri Komjenpol Nanan Sukarna dalam sambutannya sendiri menyatakan, pihaknya tidak pernah melindungi koruptor di tubuh Polri. Kalaupun ada polisi yang masih bertindak arogan dan tidak sesuai aturan mulai disisihkan dari jajaran kepololisian. “Saya akui masih ada polisi brengsek di tubuh kami. Tapi itu adalah oknum, dan sudah mulai kami singkirkan dari jajaran kami,” ucapnya.

Bahkan, dia berharap mahasiswa bisa membantu polisi dalam mengawasi, mengkritisi dan memberikan masukan agar kinerja dan kerja polisi lebih baik lagi. “Saya yakin tidak sedikit mahasiswa yang suka pada polisi, tapi sebagian juga pasti ada yang mau membantu polisi agar lebih baik lagi. Dan kami harapkan yang mau membantu polisi ini,” singkatnya.

Kuliah Diliburkan
Pihak rektorat Unpam sendiri menyatakan bahwa apa yang dilakukan mahasiswa bagian dari pendewasaan dan berdemokrasi. Silang pendapat dalam beberapa hal masih dianggap wajar. “Kami masih inventarisir apa latar belakang tindakan mahasiswa kami. Jelas kami berharap ini terjadi,” ucap Yoyon Darusman, Pembantu Rektor Bidang kemahasiswaan.

Dikatakan Yoyon, akibat insiden ini, pihak rektorat meliburkan proses belajar mengajar kuliah malam bagi 5.000 mahasiswanya. Langkah ini diambil untuk menjaga kondusifitas dalam kampus. “Karena suasana belum kondusif, kuliah malam bagi 5.000 mahasiswa kami diliburkan dulu,” ucap Yoyon.

Dia menuturkan, saat ini ada sekitar 28.000 mahasiswa yang kuliah di Unpam. Semua dibagi dalam jadwal perkuliahaan reguler dan malam. “Untuk reguler kami liburkan seharian penuh hari ini (kemarin), dan hanya ada seminar nasional. Dan untuk yang malam pasti kami liburkan sampai suasan kembali kondusif,” tuturnya.

Disinggung soal sanksi yang akan diberikan kepada para mahasiswanya yang melakukan aksi demonstarasi, pihaknya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Yang jelas, elaknya, ia akan mengevaluasi kegiatan mahasiswa dan akan memberikan sanksi sesuai temuan fakta di lapangan. “Mereka (mahasiswa) ini masih tahap belajar dan harus diberikan sanksi yang mendidik,” jelasnya.

Rektor Unpam Dayat Hidayat menyayangkan sikap mahasiswanya yang melakukan aksi demokrasi tanpa menggunakan logika. Sebab, sebagai bentuk pelajaran berdemokrasi, perbedaan itu hal biasa, asal jangan perbedaan ini menjadi tidanakan fisik. “Mahasiswa itu kaum akademisi, jadi harus menggunakan logikanya. Yah, kami sadari mereka dalam proses belajar, dan pasti akan lebih baik lagi nanti,” jelasnya.

Menurut rektor, sebagai institusi pendidikan, pihaknya tetap akan menberikan sanksi yang mendidik bagi mahasiswanya yang melakukan aksi hingga berujung bentrok dengan polisi. Sebab, tujuan kampus mengundang Wakapolri Nanan Sukarna juga untuk rangka mendidik. (pane/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.