Rosa Pernah Ngasih Uang ke Eks Purek Untirta

SERANG, SNOL Direktur Marketing PT Anak Negeri (perusahaan dibawah Grup Permai) Mindo Rosalina Manulang dan Yulianis, mantan bendahara Grup Permai, tampil sebagai saksi kasus dugaan korupsi pengadaan laboratorium Rp 49 miliar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Selasa (20/11). Di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Serang, keduanya menceritakan detil aliran uang.

Terdakwa dalam kasus ini adalah mantan Purek II Untirta Sudendi, ketua panitia pengadaan barang dan jasa Edwin Perdana Adiwijay, serta Direktur PT Putra Utara Mandiri (PUM) Reinhard Nainggolan.

Dalam kesaksian di depan majelis hakim yang dipimpin Poltak Sitorus itu, Mindo Rosalina mengungkapkan, untuk memuluskan proyek ke-16 perguruan tinggi (PT) termasuk Untirta harus dikawal agar yang mendapatkan proyek itu Grup Permai. Pengawalan itu mulai dari pembahasan di badan anggaran di Komisi X DPR tahun 2010, yang membidangi anggaran, sampai pada ketuk palu penetapan anggaran.

Proyek yang ditangani perusahaan Group Permai, itu nilai rata-rata untuk setiap perguruan tinggi mendapatkan dana sebesar Rp 20 miliar hingga Rp 50 miliar, dan salah satunya Untirta.

“Untuk mendapatkan proyek itu, kami (Grup Permai) menyetorkan uang ke Komisi X DPR RI sebesar lima persen dari total anggaran. Dan uang tersebut diberikan kepada Komisi X saat pembahasan anggaran atau sebelum diketuk palu,” kata Mindo Rosalina.

Saat ditanya majelis hakim, kepada siapa saksi menyerahkan uang tersebut, Rosalina tidak menyebutkan. Karena menurutnya, dirinya takut untuk menyebutkan karena ada ancaman kalau menyebutkan nama yang anggota DPR yang menerima uang tersebut.

Selain kepada anggota DPR, Rosa juga mengaku menyerahkan uang kepada LSM dan wartawan. ”Selain lima persen untuk Komisi X, ada juga anggaran dari Grup Permai untuk wartawan dan LSM sebesar satu persen. Tapi itu dialokasikan buat LSM dan wartawan yang sering datang ke kantor kami,” ungkapnya.

Tak hanya itu, saksi juga mengakui sering memberikan uang kepada terdakwa Sudendi dengan jumlah uang tertentu antara 5 juta hingga 20 juta. Namun pemberian uang terhadap terdakwa Sudendi hanya untuk pergantian transportasi setelah ada pertemuan di Jakarta. “Saya pernah lima kali bertemu dengan terdakwa, dan setiap pulang kami suka ngasih uang buat ganti ongkos,” ujarnya.

Rosa juga mengakui bila dalam pelaksanaan proyek di Untirta banyak rintangan. Salah satunya dari orang yang mengaku penguasa di Banten yang menginginkan proyek tersebut dikerjakan perusahaan milik orang itu. Bahkan panitia selalu mendapat ancaman. Kemudian perusahaan kontraktor ternama dari Banten itu memasukkan penawaran tender tetapi gagal karena tak sesuai spesifikasi. Namun orang yang dianggap tokoh Banten itu malah meminta uang komisi sebesar sepuluh persen dari total proyek di Untirta, namun oleh Nazarudin (selaku bos Grup Permai) permintaan itu ditolak.

“Kata Pak Nazar (Nazarudin,red) biarin saja Untirta yang menyelesaikan masalah itu dengan tokoh Banten tersebut. Biarin saja, ribut-ribut. Bahkan ketika mendapat ancaman dari sekelompok orang dari Banten itu, lelang tidak diumumkan karena memang perusahaan dari Banten itu tak dapat. Semuanya ketakutan,” katanya.

Sementara saksi Yulianis mengatakan, uang yang diserahkan ke Komisi X DPR itu melalui Angelina Sondakh dan Wayan Koster untuk dibagikan kepada anggota Komisi X. Sedangkan keuntungan setiap proyek termasuk pengadaan laboratorium di PT (Untirta) harus 40 persen. “Bila keuntungan yang didapat Grup Permai di bawah 40 persen maka akan ditolak oleh Pak Nazarudin,” tukasnya.

Setelah mendengarkan keterangan kedua saksi tersebut majelis hakim kemudian menunda sidang dan akan dilanjutkan pekan depan. (bagas/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.