Hanya Bertahan Sehari, Bayi “Merpati” Itu Akhirnya Meninggal….

Hanya bertahan sehari, bayi prematur yang lahir di pesawat Merpati Airlines dalam penerbangan Timika-Makassar akhirnya meninggal Senin (7/1). Padahal, sang ibu sudah menyiapkan nama Annisa Laila Juwita Sari Merpati yang merupakan gabungan nama para pramugari yang menolong kelahiran bayi prematur itu.
ARINI NURUL-ROSMINI, Makassar

Kebahagiaan yang sempat tersembul pada diri Harmani, 33, dan Rudy Hamjah, 34, akhirnya pupus. Sebab, anak mereka yang baru lahir “istimewa” di dalam pesawat Merpati dengan nomor penerbangan MZ-845, Senin (7/1) pukul 22.00 Wita, tak tertolong jiwanya. Bayi yang masih merah tersebut meninggal saat dirawat intensif di Rumah Sakit Catherine Booth, Makassar.
Tak ayal, orang tua si bayi begitu terpukul ketika mengetahui anak ketiganya tersebut tak bisa diselamatkan. “Menurut perawat yang ikut menangani, anak saya didiagnosis memiliki kelainan pembuluh darah. Ada darah yang keluar dari hidung,” ungkap Rudy Hamjah ditemui di rumah duka kemarin (8/1).
Rudy beserta istrinya menyatakan tidak percaya anaknya yang memiliki berat 1,7 kilogram itu tidak berumur panjang. “Saat lahir di pesawat dan kemudian dibawa ke rumah sakit, kondisinya baik-baik saja,” ujarnya.
Kabar duka meninggalnya si putri itu diterima Rudy-Harmani sekitar pukul 22.00, Senin. Padahal, mereka sudah menyiapkan nama untuk si mungil, yakni Annisa Laila Juwita Sari Merpati. Nama tersebut merupakan gabungan empat nama pramugari Merpati yang menolong proses kelahiran di dalam pesawat. Mereka adalah Annisa Abdullah, Musyarofatul Laila, Sherly Juwita, dan Rahmasari. Ikut pula membantu proses persalinan itu Flight Operation Officer Teguh Mardianto serta seorang mahasiswi D-3 keperawatan yang menjadi penumpang pesawat tersebut. “Kami tidak menduga anak kami akan meninggal begitu cepat. Sungguh tidak mengira,” tutur Rudy dengan nada datar.
Jenazah Annisa Laila Juwita Sari Merpati kemarin pukul 08.00 dimakamkan di pemakaman kampung ibunya di Kampung Bontobua, Desa Alatengae, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Puluhan warga mengantar sampai di pemakaman. Tampak pula manajemen Merpati yang dipimpin District Manager Merpati Nusantara Airlines Branch Office Makassar Adji Kisworo.
“Yang jelas, kru pesawat kami sudah berusaha membantu semaksimal mungkin proses persalinannya. Selebihnya, itu di luar kemampuan kami,” kata Adji saat melayat ke rumah duka.
Karena Hipotermia
Menurut keterangan pihak Rumah Sakit Catherine Booth, Makassar, bayi yang lahir secara dramatis di ketinggian 32.000 kaki itu mengalami hipotermia dengan skala medis terminal state. Yaitu, ambang batas kritis maksimal yang dimungkinkan untuk bertahan hidup. Hipotermia adalah keadaan tubuh yang sangat dingin. Kedinginan yang terlalu lama bisa mengakibatkan tubuh beku, pembuluh darah mengerut, dan memutus aliran darah yang menuju hidung, telinga, jari tangan, serta jari kaki.
Dokter Robert J. Tauran SpA, tenaga medis Rumah Sakit Catherine Booth yang menangani langsung “bayi Merpati” itu, mengungkapkan, faktor cuaca menjadi penyebab utama yang membuat kondisi bayi kritis.
“Kondisi udara di kabin yang sangat dingin, kemudian perjalanan panjang yang ditempuh bayi tersebut hingga pertolongan di rumah sakit membuat suhu tubuhnya di bawah skala normal,” ucap Robert yang ditemui di tempat praktiknya di RS Ibu dan Anak Elim, Jalan Sungai Saddang, tadi malam (8/1).
Saat tiba di RS Catherine Booth, kata Robert, bayi Merpati itu memiliki suhu 34,9 derajat Celsius. Jauh dari kondisi normal bayi yang baru lahir dengan batas suhu 36-37 derajat Celsius. “Beratnya juga sangat kurang, hanya 1.800 kilogram, lantaran prematur dengan usia kehamilan sekitar 32 minggu,” jelasnya.
Usaha menyelamatkan kondisi si bayi dengan pemberian infus, sonde, susu, serta perawatan intensif di ruang inkubator tidak mampu menaikkan suhu ke ambang batas normal, setidaknya 36 derajat Celsius. Hingga akhirnya, kondisi bayi Merpati tidak mampu bertahan lama. “Hiportemianya memang sudah kritis. Sejak datang, kondisi bayi itu tidak bergerak lagi,” papar Robert.
Harmani tidak menyangka putri ketiganya yang sempat memberikan harapan tersebut bakal meninggal. “Saya sudah berupaya melahirkan dan menangani bayi saya itu. Tapi, nasib membawanya lain. Mau bagaimana lagi” Mungkin sudah jalannya,” kata Harmani.
Sedikit penyesalan tebersit di benak Harmani dan suaminya. Impian melahirkan di kampung halaman ternyata malah berbuah duka yang mendalam. (*/c5/ari/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.