Tepung Tapioka Modifikasi Sanfianti Kohar, Berkah bagi Petani Singkong

Sanfianti Kohar menjawab kegelisahan industri di Indonesia dengan temuan tepung tapioka termodifikasi. Tak hanya punya standar kualitas impor dari Jerman, yang terpenting tepung tersebut berbasis nonchemical.

HENNY GALA P, Tangerang

Malam di pengujung Mei 2009, di salah satu sudut meja panjang di sebuah laboratium, Sanfianti Kohar ditemani tumpukan kertas putih yang penuh rumus kimia, alat penimbang digital pengukur massa, hingga puluhan tabung reaksi. Dia berkali-kali mengaduk sebuah zat putih dengan cepat, tapi kadang juga pelan.
Dia kemudian menulis setiap hasil yang diperoleh dari riset itu di laptop-nya. Bunyi ketikan keyboard-nya yang cepat memecah hening ruang penelitian. Sesekali dia melihat jam digital di tangan kirinya yang beberapa menit lagi masuk pukul 8 malam. Hampir setiap hari selama tiga bulan sejak Maret, dia selalu pulang larut.
Perasaan waswas dikejar deadline sungguh ingin melesak keluar dari dada. “Dalam hati sempat berpikir, penelitian ini tidak bakal selesai,” ungkap Sanfianti saat ditemui Jawa Pos di Swiss German University (SGU), Tangerang, Selasa (8/1).
Sebagai mahasiswa berprestasi di angkatannya, empat tahun lalu Sanfianti menerima tugas yang sangat menantang dari dekan sekaligus dosen pembimbingnya, Dr Maruli Panjaitan. Dia ditunjuk untuk menuntaskan suatu masalah yang dihadapi puluhan perusahaan makanan olahan besar di Indonesia. Yakni, seretnya produksi tepung tapioka yang berkualitas internasional dan tingginya ongkos importasi bahan baku tepung tapioka.
Jika melihat deret angka jumlah kebutuhan tepung tapioka nasional, produksi tepung yang terbuat dari singkong lokal itu hanya bisa memenuhi 25 persen dari total kebutuhan. Adapun 75 persen kekurangan kebutuhan industri itu dipenuhi dari impor. Terutama dari Jerman dan Amerika Serikat.
Tingginya kebutuhan tepung tapioka tidak hanya untuk bahan baku makanan olahan, tapi juga untuk bahan kosmetik, kimia, hingga bumbu masak. “Tugas saya mengurangi sebagian masalah yang dihadapi industri pengolahan bakso dan chicken nugget,” terang perempuan kelahiran 30 Maret 1987 tersebut.
Memang terkesan sederhana, namun faktanya betul bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi dua makanan ini dalam jumlah besar. Setiap tahun lemari pendingin sebuah pusat perbelanjaan menawarkan ratusan ton bakso dan nugget kemasan, yang selalu ludes diserbu ibu-ibu rumah tangga. Kalangan menengah ke atas yang doyan nongkrong di kafe-kafe juga gemar melahap dua makanan yang disajikan dalam bentuk gorengan itu. Belum lagi industri besar yang produk bakso dan nugget-nya dilempar ke pasar internasional.
Melihat efek yang luar biasa masif itu, Sanfianti akhirnya terpancing untuk mewujudkan tantangan sang dosen itu. “Saya harus menyelesaikan tesis ini dalam waktu tiga bulan. Jika tidak bisa, saya terpaksa lulus tahun depannya,” papar Sanfianti yang saat itu mengenakan baju cheongsam (pakaian tradisional perempuan Tiongkok) warna hijau gelap bermotif batik itu.
Sanfianti mengawali risetnya dengan mengunjungi beberapa lokasi di Bogor. Di antaranya pusat industri tepung tapioka dan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Di lokasi-lokasi itu dia mencari sampel tepung tapioka lokal paling bagus. Maklum, Bogor merupakan salah satu kota yang menghasilkan singkong tinggi dengan kualitas nomor satu. Industri tepung tapioka di kota itu selama ini telah menjalin kerja sama dengan para petani singkong.
“Saya pulang ke kampus dengan membawa beberapa kilo tepung tapioka. Malah karena bilang untuk riset, saya ditawari tepung sekarung. Tepung tapioka di Bogor cukup melimpah,” jelas Sanfianti sembari memandang Dr Maruli Panjaitan yang duduk di sebelahnya.
Dengan alat laboratorium yang terbatas, Sanfianti memulai penelitian dengan cara fisika. Tepung tapioka lokal itu dites kadar keasamannya guna mendapatkan kandungan aslinya. Selanjutnya dia baru membandingkannya dengan tepung tapioka yang diimpor dari Jerman atau AS yang terkenal bagus.
“Tepung tapioka lokal ternyata punya pH (kadar keasaman) rendah. Sebaliknya, pH tepung tapioka impor sangat tinggi,” terangnya dengan sorot mata meyakinkan.
Dari situ, putri pasangan Junaidi Kohar dan Marinda Husada itu mendapatkan pertanyaan awal dari sebuah akar masalah: bagaimana membuat tepung tapioka dengan kandungan basa. Tak jadi problem yang besar bagi Sanfianti yang lulus dengan predikat cumlaude itu. Di otak kirinya yang encer langsung tebersit karagenan: senyawa yang diperoleh dari ekstraksi rumput laut.
“Pakai karagenan bisa menghindarkan tubuh dari zat adiktif dan meningkatkan kekenyalan produk turunannya,” jelas mantan mahasiswa jurusan Food Technology SGU itu.
Proses untuk menciptakan kandungan tepung tapioka yang mirip dengan tepung tapioka impor dari Jerman itu butuh waktu lebih dari dua bulan. Setelah tahap pengeringan dan pembuatan tepung tapioka modifikasi (modified starch), Sanfianti melakukan pengujian yang lebih terperinci di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasilnya pun menggembirakan. “Grafik tepung modifikasi saya dan tepung impor sama. Dipastikan 98 persen kandungannya juga sama,” tutur dia lantas tersenyum.
Dengan rasa percaya diri yang besar, pada akhir Mei 2009, Sanfiati memaparkan hasil temuannya itu di depan penguji tesis. “Grogi dan underpressure. Karena yang menguji langsung rektor dan profesor dari Jerman. Presentasinya juga harus dalam bahasa Inggris,” ungkapnya.
Pascapresentasi tesis itu, pihak kampus menilai temuan Sanfianti layak dipatenkan di Kementerian Hukum dan HAM. Butuh tempo cukup lama untuk memastikan bahwa belum ada produk yang sama dengan tepung tapioka modifikasi itu. (*/c2/ari/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.