Srikandi, Sesepuh Komunitas Pasangan Kawin Campur di Indonesia

F-RIES W DAN IDA F-PRITO H JPNNTren kawin campur antara warga Indonesia dengan orang asing. Untuk mewadahi pasangan gado-gado itu, saat ini terdapat sejumlah komunitas. Di antaranya, Srikandi yang menyebut dirinya sebagai “god mother”-nya berbagai organisasi serupa di tanah air.

PRIYO HANDOKO, Jakarta

Tiga belas tahun lalu, sejumlah ibu bersuamikan pria asing yang anak-anaknya bersekolah di Jakarta International School (JIS) saling curhat. Berangkat dari latar kehidupan rumah tangga yang mirip, para ibu pasangan kawin campur (mixed marriage atau mixed couples) itu termotivasi untuk saling berbagi pengalaman dan dukungan secara lebih teroganisir.
Dalam tahun-tahun berikutnya pemikiran ini mulai dikonkretkan dengan menggelar coffee morning. Sampai akhirnya pada 2000, resmi dibentuk perkumpulan wanita Indonesia dalam perkawinan antar-bangsa yang kemudian disebut Srikandi. Nama Srikandi dipilih karena dianggap mencerminkan ke-Indonesiaan.
“Srikandi hadir untuk memberikan support kepada perempuan Indonesia yang melakukan pernikahan campuran dalam membina rumah tangga mereka. Biar langgeng,” kata Ries Woodhouse, salah seorang pendiri Srikandi saat berbincang di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Selasa lalu (8/1). Ida Friggeri, pengurus Srikandi, ikut duduk di sebelah Ries.
Srikandi secara rutin menggelar kegiatan. Selain seminar, Srikandi mengadakan forum diskusi bagi para anggotanya. Banyak materi yang dibahas. Di antaranya, bagaimana jati diri perempuan Indonesia dalam membina rumah tangga dengan suami asing. Termasuk soal pilihan cara dalam membesarkan anak.
Srikandi juga memberikan support informasi dan pengetahuan kepada orang-orang yang akan menikah dengan orang asing. Mulai persiapan mental, surat-surat, dan berapa biayanya.
Meski begitu, Ries menolak kalau Srikandi diposisikan seperti lembaga konsultan yang pekerjaannya memberikan advice. “Menikah dengan orang asing itu pilihan kita sendiri. Motonya kan dari kita untuk kita,” sambung Ries, lantas tersenyum. Sejak awal pendiriannya, Srikandi lebih memusatkan diri sebagai organisasi yang bersifat kekeluargaan. Mereka tidak terlalu menaruh perhatian pada advokasi hukum dan politik.
Belakangan baru muncul organisasi serupa yang lebih “agresif”. Di antaranya, Indo-Mixed Couples (Indo MC) yang membangun jaringan melalui mailing list dan berpusat di Prancis.
Dari komunikasi yang terus berjalan, semua organisasi ini, termasuk Srikandi, memutuskan membentuk payung yang lebih besar dengan nama Aliansi Pelangi Antar-Bangsa (APAB) pada 2002. Melalui APAB inilah isu status kewarganegaraan mulai digarap secara lebih serius. Terutama soal status kewarganegaraan anak yang diperoleh dari hasil kawin campur.
Bahkan, mereka ikut aktif terlibat mendorong pembahasan RUU Kewarganegaraan sampai berhasil disahkan DPR pada 2006. “Srikandi bergerak dengan membantu fund rising, bikin bazar. Uangnya lalu disetor ke APAB yang perlu dana untuk kampanye dan lobi RUU Kewarganegaraan,” cerita Ries.
Setahun sebelum disahkannya RUU Kewarganegaraan, berdiri organisasi Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu (KPC Melati) yang langsung menyatakan berafiliasi dengan APAB. Tapi, KPC Melati lebih fokus memperjuangkan status dwi kewarganegaraan. Pada 2008, muncul lagi organisasi Masyarakat Perkawinan Campuran Indonesia (Perca). Para anggota KPC Melati dan Perca umumnya merepresentasikan golongan muda, sekitar 30-an atau 40-an tahun. “Cikal bakal semua organisasi itu digerakkan Srikandi. Kami ini ibaratnya god mother,” canda Ida Friggeri.
Ries menceritakan, dirinya sering dihubungi perempuan yang bercita-cita menikah dengan pria asing. Para perempuan itu, kata Ries, bertanya bagaimana mendapatkan pria asing. Pertanyaan yang membuatnya terkesan menjadi “biro jodoh” seperti itu tentu sulit untuk dijawab. Selain motif antar-perempuan tidak sama, Ries percaya proses itu seharusnya berjalan alamiah. “Minat kawin campur ini sangat menarik. Tidak semua hanya jatuh cinta. Di luar itu, ada motivasi ekonomi atau kepuasan pribadi,” kata Ries.
Perempuan yang tengah jatuh cinta dengan pria asing sekalipun disarankan untuk benar-benar menyelidiki profil calon suaminya. Mulai latar belakang kehidupan, masa kecil, pendidikan, dan keluarga. “Kalau sudah ke luar negeri, ikut tinggal di negara orang, jangan harap ada teman, nenek, kakek, atau sepupu, yang bisa langsung ditelepon dan memberi bantuan kalau lagi ada masalah,” tuturnya.
Dia mengisahkan pada 2000, dirinya ikut tinggal suami di Genewa. Ketika itu, Ries mendapati kasus seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan pria asal Tunisia tapi berkewarganegaraan Swiss. Pria Swiss ini bertemu si perempuan Indonesia saat naik KA Bima dari Jakarta ke Surabaya pada 1990-an. Si perempuan kebetulan pramugari kereta.
Singkat cerita, keduanya menikah dan langsung tinggal di Swiss. Ternyata setelah diboyong ke Swiss, sang istri tidak boleh bergaul ke luar rumah. Bahkan, dia hanya boleh memasak dengan bahan-bahan makanan yang dibelikan suaminya. Anak-anaknya tidak boleh memakai bahasa Indonesia dan dilarang pulang ke tanah air.
“Si istri ini tidak boleh bikin makanan Indonesia karena dianggap bau, terutama sambelnya,” kisah Ries. Karena tak kuat menahan derita batin selama bertahun-tahun, si perempuan Indonesia ini akhirnya kabur dari rumah sampai akhirnya kasus tersebut ditangani Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Jenewa.
Selain latar belakang, Ries menyarankan kepada setiap orang Indonesia yang berencana menikah dengan warga asing untuk membicarakan rencana kehidupannya setelah menikah. Kelihatannya remeh, tapi justru ini sangat penting. Misalnya, di mana akan tinggal setelah menikah, gaya hidup apa yang akan dijalani -apakah separo barat, separo timur, atau memilih salah satunya. Kemudian nanti kalau tua menetap di mana, termasuk anak-anaknya akan ikut agama apa, dan bagaimana pendidikannya. “Jangan hanya cinta, cinta, cinta,” tegasnya.
Ries kembali mencontohkan ada kasus seorang perempuan Indonesia yang menikah dengan orang Prancis. Setelah menikah perempuan ini ikut suaminya ke Negeri Menara Eiffel itu. Setibanya di sana, perempuan ini kaget. Untuk tempat tinggal memang disediakan suaminya. Tapi, dia ternyata harus bekerja untuk memenuhi keperluan rumah tangga. Padahal suminya kaya. “Intinya, kalau sudah benar-benar nyambung, baru boleh kawin. Jangan cuma dibuai cinta,” kata Ries. (*/oki/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.