Kerja Keras Iwan Buana FR Lahirkan Paduan Suara Kampus Islam

Nama Iwan Buana FR populer di kalangan civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Khususnya di kalangan pencinta seni paduan suara. Sebab dialah penggagas berdirinya Paduan Suara Musik (PSM) UIN. Vocal Grup yang masih eksis hingga kini di kampus tersebut.
Tidak mudah merintis seni paduan suara di UIN. Bernyanyi bersama lebih populer sebagai kegiatan keagamaan lain. Sedangkan Islam masih jauh mengenal vocal grup sebagai bagian dari seni. Namun, tanpa letih Cak Iwan, biasa pria ini disapa, terus menggagas berdirinya grup paduan suara sebagai wadah pengembangan seni di kampus tersebut.
Perjuangannya dimulai dari kedatangannya sebagai mahasiswa UIN pada tahun 1986. Sejak saat itu, Cak Iwan terus mengumpulkan sejumlah kawan-kawannya yang senada untuk mendirikan PSM UIN. Usaha itu menuai hasil pada tahun 1992. Dimana untuk pertamakalinya, berdiri PSM UIN di kampus Islam.
“Saya sendiri merintis PSM UIN sejak tahun 1986 saat saya masuk kuliah di UIN (dulu IAIN) Jakarta. Alhamdulillah, akhirnya berdiri pada tahun 1992. Pada tahun 1992, saya lolos mengikuti seleksi untuk pertukaran pemuda ASEAN bidang paduan suara,” katanya memulai cerita perjalanannya mengembangkan seni paduan suara di kampus, Jumat (18/1).
Meski begitu, pasca berdirinya PSM UIN, ia masih harus bekerja keras bersama kawan-kawannya mengembangkan seni paduan suara. Sampai akhirnya, pada awal tahun 1997, ia diminta untuk melakukan riset format paduan suara.
“Saat itu saya keliling ke beberapa PSM yang dapat saya temui untuk belajar dan berdiskusi. Akhirnya format dasar PSM UIN bisa dibuat, dan masih berlaku sampai saat ini,” imbuhnya.
Iwan Buana membeberkan, hasil riset itu pun berbuah hasil. Tepat setahun setelahnya, yakni tahun 1998, PSM UIN berhasil mengadakan pentas tunggalnya yang pertama. Bahkan bisa dilanjutkan dengan pementasan keliling Jawa bertajuk Selaras Nada Nusantara, pada April 1999.
“Ketuanya saat itu Ikong Ahmad Furqon. Pementasan keliling ini ternyata memiliki dampak lain, yaitu timbulnya gairah berseni paduan suara di lembaga pendidikan Islam. Malahan, tahun 2001, kembali pementasan keliling ini dilakukan dengan judul Rhapsody Pertiwi. Dan terus menerus pada tahun 2003, pementasan menuju pulau Sumatera, dengan judul Suluk Rampak Cinta,” ucapnya.
Lepas dari upayanya mengembangkan seni paduan suara, jauh sebelum dunia kampus Islam di Indonesia mengenal paduan suara, kalangan mahasiswa di Indonesia sudah memulainya sejak lama. Diantara nama-nama perintis paduan suara yang berpenagruh, Nortier Simanungkalit. Sedangkan di Djogja, bisa temui PS Vocalista Sonora yang tekun mengolah musik etnik indonesia dibawah arahan Paul Widyawan.
“Penggagas paduan suara mahasiswa, beberapa diantaranya bahkan memiliki pengaruh di tingkat nasional. Seperti Avip Priatna, conductor PSM Universitas Parahyangan, juga Aning Katamsi dari Paragita Universitas Indonesia. Dari sana saya tergerak untuk mengembangkannya di kampus saya,” bebernya.
Sedangkan di lembaga pendidikan Islam, ada sedikit kendala internal terkait pemahaman paduan suara yang seolah-olah bagian dari ritual peribadatan agama lain. Tetapi hal ini semakin dapat dipertipis dengan kerja keras pegiat paduan suara di lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
“Kita bisa sebut, Ikong Ahmad Furqon, Toleng Mustain Rasti Haskiyah, Kromong Afdhal Dzikri, Yulistina Lubis dari UIN Jakarta. Mereka mampu menampilkan bahwa paduan suara Islam yang mengandung dakwah,” simpulnya.
Contoh lain, ia menyebutkan Iphinx M. Nur Arifin, Siti Arfiah, Agung August Han, zainal Amroni dari PSM Gita Savana UIN Yogyakarta. Sedang dari IAIN Semarang, bisa ditengok Iwhan Miftakhudin, Abdoel Mafahirudin, dan Ipang M. Irvan.
“Bersama mereka inilah, per tahun 2005 saya kembangkan organisasi paduan suara Islam dengan nama Indonesian Moslem Choir (IMC). Kini jumlahnya sudah 16 angggota yang tersebar di kampus-kampus Islam se-Indonesia. Dan berhasil menggelar konser bersama dengan judul Tiga Damai Satu Dawai,” beber pria bertitel Magister bidang Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta ini. (pane/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.