Limbah Mebel Jadi Alat Kesehatan Beromset Rp 70 Juta Per Bulan

F-ENO SYAHADATI DAN PRODUKNYA-RIZKI AMELIA SNSiapa sangka limbah kayu sisa pembuatan mebel bisa diubah menjadi alat terapi kesehatan dan bermanfaat untuk orang banyak. Ditangan Eno Syahadati, seorang ibu berusia 60 tahun, alat kesehatan itu kini di ekspor hingga ke mancanegara.
RizkiAmalia
Serpong

Dengan modal awal sekitar Rp 5 juta, usaha Eno sudah mampu meraih omset hingga Rp70juta setiap bulannya. Bahkan, produk kesehatan bertitel Aska Melati Health itu telah melanglang buana hingga Jerman, Belanda, Malaysia, selain menjadi mitra binaan kementrian BUMN.
Usaha Eno berawal dari tahun 1990. Saat itu, dia bersama sang suami, Suparno, memulai usaha dengan membuat alat terapi berbentuk panjang dengan sedikit gelombang.
“Dulu, suami saya sempat berkata untuk membuat kerajinan atau alat terapi dari kayu. Saat itu dirumah ada gagang kain pel yang sudah tidak terpakai, akhirnya oleh bapak dibuat menjadi sebuah alat terapi yang digunakan dijari dan tangan untuk melancarkan peredaran darah,” ujar Eno di sela-sela pameran di Summarecon Mall Serpong (SMS), Senin (21/1).
Saat itu, Eno dan suami tinggal Jakarta Pusat. Di sana mereka punya banyak tetangga keturunan Cina yang kemudian menjadi pelanggan. “Saya berpikir orang Cina kan sangat menyukai kesehatan alternatif melalui jalur terapi. Mengapa tidak mencoba memenuhi kebutuhan mereka dari sisi tersebut. Hasilnya, alhamdulillah, diterima sangat baik dipasaran saat itu. Hingga kini, usaha kami terus berkembang,” jelas Eno.
Dari satu alat terapi yang laris manis dipasaran tersebut, akhirnya Eno dan suami mencoba mengembangkan varian lain. Mulai dari alat bantu untuk penderita stroke, berupa kayu kecil yg dipahat dan dibuat sedikit seperti duri untuk melancarkan peredaran darah. Hingga alat alat terapi tulang belakang yang menjadi alat yang paling laris dipasaran.
Eno mengaku, semua alat terapinya sudah mengantongi izin dari Departemen Kesehatan (Depkes) RI. “Untuk alat kesehatan,kita memang tidak bisa main-main, karena menyangkut keselamatan diri si pasien,”ujarnya
Mempekerjakan 15 orang karyawan dirumahnya yang terletak di kawasan Alam Sutera, Eno bisa menghasilkan 50 alat kesehatan dalam sehari. Alat terapi tersebut dijual dengan harga Rp 200 ribu per buah.
Pernah, dalam satu bulan Eno menjual hingga ribuan buah produknya. “Pernah saya mendapatkan pelanggan dari Malaysia yang memesan 1000 buah alat kesehatan setiap bulannya,” tuturnya sambil tersenyum.
Limbah kayu yang digunakan Eno untuk membuat alat terapi kesehatan, dibeli dari Klender, Jakarta Timur, sentra pembuatan mebel terbesar di Jakarta. “Saya hanya ingin, bisa bermanfaat disisa hidup didunia ini,” tutup Eno sambil tersenyum. (hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.