Paling Mahal Gitar Bertanda Tangan John Lennon

Arfan Hidayat, Programer IT Pendiri Museum Beatles Indonesia

Demi kecintaannya pada grup musik legendaris The Beatles, profesi sebagai pegawai Bank Indonesia (BI) ditinggalkan. Arfan Hidayat lalu menggagas berdirinya Museum Beatles Indonesia. Dia juga mengekspor pernak-pernik aksesori grup musik asal Liverpool, Inggris, itu ke berbagai negara.
AGUS WIRAWAN
Tangsel

Rumah Arfan Hidayat di kompleks elite Serpong Park, Kota Tangerang Selatan, tampak berbeda dengan rumah-rumah di kanan-kirinya. Teras dan carport rumah tidak dihiasi tanaman tetapi disesaki almari-almari etalase kaca dan gambar-gambar poster The Beatles, grup musik kesayangan Arfan.
Tumpukan DVD, CD, piringan hitam, miniatur gitar, drum, serta berbagai suvenir lain tentang Beatles tertata rapi di ruang tamu dan ruang keluarga. Lantunan lagu The Beatles berjudul A Day In The Life terdengar cukup keras dari dalam rumah mengalahkan suara hujan rintik-rintik di luar.
“Dari kecil saya nggak bisa lepas dari The Beatles. Makan apa pun musiknya The Beatles,” ujar Arfan mempelesetkan iklan sebuah merek minuman saat ditemui di rumahnya, Kamis (7/2).
Rumah Arfan kini memang mirip sebuah museum. Museum The Beatles. Sebagian koleksi diletakkan di ruang tamu. Tapi, sebagian besar disimpan di dalam rumah. Bahkan saking banyaknya sampai tidak muat untuk menampung ribuan pernak-pernik grup musik yang dimotori John Lennon itu.
Pria kelahiran 8 Mei 1965 ini mengaku sudah mengumpulkan koleksi The Beatles sejak SMP hingga berusia 47 tahun saat ini. Dia mulai dikenalkan dengan alat musik gitar oleh orang tuanya saat masih TK. Orang tuanya memang gemar bermusik dan kolektor lagu-lagu hit pada masa itu. “Piringan hitam (milik) orang tua saya banyak sekali. Beberapa di antaranya lagu-lagu Beatles yang paling saya sukai,” tuturnya.
Sejak saat itu Arfan mulai menggandrungi lagu-lagu Beatles. Bahkan ketika masuk kelas VI SD di Makassar, dia dan teman-temannya sudah bermain band yang khusus melantunkan lagu-lagu The Beatles. “Mungkin waktu itu kami satu-satunya band anak-anak yang serius bermain musik, dan sepertinya satu-satunya band Indonesia yang fokus dan serius meniru Beatles,” cetusnya.
Sayang, band itu tak bisa bertahan lama. Selain personelnya sulit menyatu, ada yang berpindah aliran musik. Hanya Arfan yang “keukeuh” dengan aliran musik The Beatles. Bahkan, di usia yang masih remaja, Arfan sudah mulai mengumpulkan berbagai hal tentang grup band idolanya tersebut. “Saya juga menyimpan koleksi piringan hitam The Beatles milik almarhum Bapak,” tegasnya.
Namun, banjir besar yang melanda Makassar pada 1980-an menghancurkan banyak koleksi Beatles yang disimpan Arfan. Sebagian besar koleksi yang dikumpulkannya bertahun-tahun terkena air. Hanya sedikit yang dapat diselamatkan. “Saya sedih sekali waktu itu, sampai tidak doyan makan beberapa hari. Hampir 70 persen koleksi saya rusak terkena banjir. Termasuk buku-buku saya,” lanjutnya.
Meski begitu, Arfan tak lantas menyerah. Dia bangkit kembali untuk mengumpulkan koleksi barang-barang The Beatles. Hanya, dia butuh waktu cukup lama. Semua tenaga dan uang ia kerahkan untuk mengganti koleksinya yang rusak dan hilang. “Alhamdulillah, satu per satu barang saya peroleh dengan mudah. Sampai akhirnya koleksinya kembali banyak,” tuturnya.
Setamat SMA, Arfan mendaftar menjadi pegawai di Bank Indonesia. Hebatnya, dia diterima. Sejak itu dia berkarir dari tingkat bawah. Lebih dari 15 tahun dia bekerja di bank sentral itu.
Sementara itu, jiwa musiknya terus memberontak. Dia ingin sekali bermain musik seperti saat masih SD.
Selain pandai main musik, Arfan ternyata juga piawai membuat program komputer. Dua keahlian itu terpendam oleh kesibukan Arfan bekerja di BI. Hingga akhirnya, ketika usianya menginjak 32 tahun, keinginan Arfan untuk keluar dari pekerjaannya yang mapan sebagai staf ahli di BI dan mengembangkan hobinya bermusik, mencapai puncaknya. “Saya memberanikan diri untuk pensiun dini. Jabatan saya sudah memungkinkan untuk pension dini,” kenangnya.
Bagi Arfan, saat itulah waktunya untuk memulai “pekerjaan” baru sebagai programer komputer dan musisi. Saat itu, tahun 1997, sesaat sebelum krisis moneter melanda negeri ini, dia bertolak keluar negeri untuk bekerja sebagai tenaga IT profesional di berbagai perusahaan asing. “Saya pernah kerja di Australia, Korea, dan Afrika sebagai ahli IT. Di sela-sela bekerja saya tetap terus hunting koleksi The Beatles,” tuturnya.
Bertahun-tahun bekerja di luar negeri, Arfan rindu tanah air. Pada 2002 dia pulang dan menikmati uang hasil kerja kerasnya di luar negeri. Tak lupa dia membelanjakan sebagian penghasilannya untuk koleksi museumnya. “Sepulang dari luar negeri ternyata hobi saya mengumpulkan barang The Beatles justru makin menjadi-jadi. Sebab, saya tidak bekerja pada orang lagi sehingga bebas untuk pergi ke mana-mana,” kata Arfan yang kini membuka perusahaan di bidang IT. Kliennya antara lain beberapa rumah sakit dan perusahaan-perusahaan yang menggunakan perangkat IT dalam bekerja.
Di sela kesibukannya bekerja, Arfan masih menyempatkan diri untuk menambah koleksi Beatles-nya, terutama item-item yang belum dimilikinya. “Saya sering titip kepada teman-teman yang keluar negeri. Atau membeli barang lewat internet,” tuturnya.
Harga barang koleksi Museum Beatles di Serpong relatif mahal-mahal. Misalnya, gitar Rickenbacker bertanda tangan John Lennon yang ia beli seharga Rp 40 juta dari luar negeri. “Gara-gara beli gitar itu, istri minta saya untuk membuat kesepakatan bahwa uang dari pendapatan utama (programer IT) untuk kebutuhan keluarga. Sedangkan, uang dari pekerjaan sambilan untuk beli koleksi barang Beatles,” ungkap suami Mayasari itu.
Arfan kini memiliki tiga studio musik, yakni di Serpong, Jagakarsa, dan Depok. Studio musik itu cukup menghasilkan uang untuk menopang hobinya. Dari “duit laki” ini Arfan mampu membeli sejumlah barang berharga. Di antaranya gitar Gretsch yang dipakai George Harrison, gitar bas Hofner yang biasa dipakai Paul McCartney, dan drum set Ludwig yang kerap diidentikkan dengan Ringo Star. “Itu semua saya peroleh dengan uang dari kerja ekstra saya,” sambungnya. (*/ari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.