Tiga Kompleks Ngotot Tolak Tol Serpong-Cinere

CIPUTAT, SNOL Pendataan warga yang terkena proyek pembangunan Jalan Tol Serpong-Cinere hingga kini masih terkendala penolakan dari sejumlah komplek perumahan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Tiga kompleks perumahan saat ini belum juga terdata.
“Untuk tiga komplek yaitu Griya Azzahra, Andora dan Pertanian memang sengaja kami lewati, karena dari awal sudah melakukan penolakan,” ungkap Sekretaris Kelurahan Serua Indah, Cecep Iswandi (19/2).
Lebih lanjut Cecep mengatakan, terkait penolakan tersebut, pihaknya menyerahkan pendataan untuk ke tiga komplek dimaksud langsung kepada Panitia Pembebasan Tanah (P2T). “Karena sejak awal tiga komplek itu sudah menolak, kami serahkan pendataan pada P2T. Itupun kalau warga bersedia,” imbuhnya.
Berdasarkan pantauan Selasa (19/2) pagi, saat Satgas Pembebasan Tanah mengunjungi lokasi Kompleks Griya Azzahra, puluhan warga masih keukeuh menolak proyek pembangunan Tol Serpong-Cinere melewati kawasan mereka. “Kami bukan menolak proyek pemerintah, tapi kami cuma tidak ingin jalan tol melintasi kawasan kami,” ujar salah seorang warga Azzahra, Hadi.
Tidak hanya Azzahra, dua kompleks lain yakni Andora dan Pertanian pun hingga kini masih berkomitmen untuk menolak penggusuran.
Menanggapi hal ini, Tim Satgas Pembebasan Tanah Tol Serpong-Cinere dari BPN, Rahma mengaku dalam minggu ini akan melakukan pendataan terhadap ketiga kompleks yang menolak jalan tol. “Kemungkinan dalam minggu-minggu ini P2T langsung yang akan turun tangan dalam proses pendataan warga di tiga kompleks tersebut,” ucapnya.
Menurut Rahma, penolakan warga itu adalah wajar, namun sebaiknya dengan alasan yang bisa diterima. “Alasan menolak harus jelas. Kami juga berharap warga kompleks untuk setidaknya menerima kedatangan tim dahulu agar mengetahui manfaat besar dari pembangunan jalan tol ini,” tutupnya.
Sedangkan terkait 998 rumah di sembilan kelurahan pada dua kecamatan yang akan terkena pembebasan lahan merupakan data awal dan kemungkinan akan bertambah. Pemerintah menetapkan nominal per meter pembebasan mengacu pada harga nyata, yakni nilai pasar dan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP).
“Biasanya bertambah (jumlah rumah terkena pembebasan lahan. Karena trase itu tidak bisa dirubah lagi. NJOP se- Tangsel Rp 230 ribu sampai Rp 1 juta lebih per meternya,” kata Kepala Bagian Pertanahan Setda Pemkot Tangsel, Heru Agus Santoso saat ditemui di kantornya, kemarin.
Pada proyek nasional sepanjang 10,14 kilometer dengan lebar jalan mencapai 40-60 meter rencana RO Plain ini, kata Heru, pihaknya hanya bertugas menfasilitasi pembebasan lahan. Data sementara itu menurutnya sudah disampaikan ke Kementerian PU dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
Heru memaparkan, ada sejumlah tahapan yang harus dilalui dalam pelaksanaan jalan tol yang nantinya akan mempercepat akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. Setelah dilakukan identifikasi wilayah RT/RW yang bakal terkena pembebasan lahan. Pemerintah daerah selanjutnya akan melakukan sosialisasi ke masing-masing wilayah.
“Setelah identifikasi dan sosialisasi selesai, pengukuran lahan akan dilakukan selama tiga sampai bulan. Terhitung mulai awal Maret mendatang. Untuk pembebasan lahan di jalan Raya Siliwangi (Pamulang) saja Rp 800 ribu per meter,” paparnya. (pane/irm/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.