Tak Perlu Sewa Stan, Cukup Kirim Barang

UPAYA EVI SURIYADI JEMBATANI PEBISNIS PEMULA MASUK MAL

Dengan semboyan jualan di mal jadi mungkin, anak-anak muda ini mengajak para pebisnis pemula yang umumnya berjualan di dunia maya beralih ke dunia nyata. Bagaimana caranya?

M. Hilmi Setiawan, Jakarta

“BAPAK naik eskalator satu kali, lalu naik lift ke lantai tiga. Lokasinya ada di sisi kanan, di lorong mau ke toilet.” Begitulah kata resepsionis Emporium Pluit Mall menunjukkan tempat operasi kantor etalasepreneur.com yang dikelola Evi Suriyadi. Setelah berjalan di tengah produk brand-brand asing, akhirnya sampai juga di lokasi jualan unik itu.
Lokasinya memang di lorong menuju toilet. Sekilas terkesan jorok memajang barang jualan di tempat seperti itu. Namun, jika dicermati, justru di lorong itulah para pengunjung pusat perbelanjaan ramai hilir mudik. Pada akhir pekan, pusat perbelanjaan tersebut bisa didatangi 60 ribuan orang.
Sesuai namanya, stan etalasepreneur adalah jajaran etalase-etalase yang berderet dan bertumpuk rapi. Setiap etalase juga diberi warna-warna mencolok yang berbeda-beda. Banyak orang yang ingin ke toilet menoleh dan bahkan melihat-lihat sejenak gerai itu.
Total ada sekitar seratus unit etalase yang masing-masing berukuran 35 x 35 cm. Karena bisnis inovatif tersebut baru dimulai awal Januari lalu, jumlah penyewa etalase masih 20-an orang.
“Tapi, kita optimistis bisnis model ini terus berkembang. Apalagi, penguasa pemula di Indonesia banyak sekali,” tutur Evi Suriyadi.
Dalam menjalankan bisnis tersebut, bujang kelahiran 27 Agustus 1976 itu dibantu beberapa rekan. Misalnya, Darvin Kurniawan (business director), Yusen Widjaja (marketing staff), dan Maya Anggung sebagai staf administrasi.
Gadis asal Lampung itu menjelaskan, usaha kreatif yang dijalankan tersebut sejatinya telah berkembang pesat di Australia dan Singapura. Bahkan, di beberapa mal di Singapura, para penggagas bisnis model itu tidak menggunakan lorong. Tapi, dengan sokongan modal besar, mereka menyewa stan umum untuk disewakan kembali kepada wirausahawan muda dengan harga murah.
“Indonesia potensinya besar sekali. Baik itu pengusaha pemula maupun calon pembelinya,” tandas Evi.
Evi mengamati, para wirausaha atau entrepreneur pemula biasanya memiliki hambatan yang sejenis. Yakni, keterbatasan akses modal dan tempat berjualan. Padahal, aktivitas usaha para pebisnis pemula atau belia itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, “kenekatan” mereka ikut membuat perekonomian Indonesia stabil.
Keterbatasan akses jualan itu bisa dilihat dari banyaknya pengusaha pemula yang memajang barang di situs online gratisan. Padahal, tingkat keterbacaannya belum terjamin.
Tapi, dengan gagasan yang dia cetuskan, para pengusaha pemula berpeluang menjual atau memamerkan barang dagangannya di mal. “Sebelumnya, jangankan memamerkan di dalam mal, di luar mal saja mereka takut diusir,” tandasnya.
Evi menceritakan, mewujudkan usaha seperti yang dirinya rintis tersebut tidak selesai dalam sekejap mata. Tetapi, sudah dimulai pertengahan tahun lalu. Kala itu dia bersama tim menjajaki sejumlah mal ternama di Jakarta dan sekitarnya.
Sayang, saat itu jawaban dari pengelola mal masih kurang menggembirakan. “Rata-rata ditolak karena memang ini jenis usaha yang pertama kali di Indonesia. Jadi, wajar jika ada yang ragu,” ujar lulusan graphic design di Cyber Media, Jakarta, itu.
Ditolak sejumlah mal, semangat Evi dan teman-temannya tidak kendur. Tetapi, justru terlecut. Akhirnya, ada tanggapan baik dari pengelola Emporium Pluit Mall. Dengan lobi-lobi getol, akhirnya pengelola mal sepakat menyewakan space kepada Evi dan rekan-rekannya.
Setelah mendapat persetujuan, logistik perlengkapan berupa susunan etalase yang membentuk huruf L langsung dibuat. “Kita berterima kasih untuk pengelola mal yang sudah mendukung usaha para pelaku usaha kecil dan menengah,” ujar dia.
Lantas, tim lainnya langsung promosi dengan berbagai cara, termasuk lewat internet. Evi mengatakan, modal yang dikeluarkan tidak sedikit. Mereka mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah.
“Ini adalah usaha jangka panjang. Tidak apa-apa seluruh tim kompak kita nomboki dulu,” kata dia. Oleh pengelola mal, mereka diberi masa percobaan sekitar enam bulan. Tetapi, masa sewa itu akan diperpanjang otomatis selama dua tahun dengan melalui evaluasi terlebih dahulu. Evi optimistis usaha dirinya dan rekan-rekannya itu berjalan terus.
Keyakinan tersebut muncul karena minat para pengusaha pemula lumayan tinggi. Awal promosi, mereka sudah diserbu ratusan calon penyewa etalase. Tetapi, sejak berdiri awal Januari lalu, calon penyewa yang akhirnya benar-benar menyewa masih 20-an orang.
Evi mengatakan, jasa sewa etalase mereka cukup terjangkau, yakni Rp 250 ribu per bulan. “Jadi, per minggunya hanya Rp 50 ribuan,” kata dia. Harga sewa etalase itu jauh lebih murah daripada jika para pengusaha pemula tersebut menyewa secara pribadi. Rata-rata harga sewa stan di mal bisa mencapai puluhan juta per bulan.
Sistem yang dijalankan, mereka menyewakan etalase kepada pengusaha pemula atau umum. “Sekarang yang menyewa ini selain dari Jakarta, juga ada dari Bandung dan Surabaya,” katanya.
Pengusaha yang menyewa etalase tidak perlu datang ke Jakarta atau ke mal tersebut. Tetapi, cukup berinteraksi melalui telepon atau chatting. Para pengusaha itu kemudian mengirim contoh barang dagangannya ke markas etalasepreneur.com. Setelah deal, barang dagangan bisa langsung dipajang di etalase tersebut. Hasil penjualan akan dikirim kepada pemilik barang.
Evi mengatakan, pihaknya saat ini terus menjajaki membuka gerai baru di pusat perbelanjaan lainnya. Komunikasi intensif telah dilakukan dengan pengelola Mall of Indonesia (MOI) dan Central Park Mall yang semuanya di Jakarta.
“Tidak menutup kemungkinan juga didirikan gerai serupa di luar Jakarta,” tandasnya. Dengan tagline jualan di mal jadi mungkin!, Evi mengatakan, sudah saatnya para pebisnis pemula yang umumnya berjualan di dunia maya kini beralih ke dunia nyata. (*/c5/c10/nw/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.