Dua Dosen Untirta Ditahan

SERANG, SNOL Proyek pengadaan peralatan laboratorium di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dari Kemendikbud senilai Rp 49 miliar tahun 2010 kembali memakan korban.

Sebelumnya, mantan Purek II Untirta, Sudendi dan Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa, Edwin Perdana Adiwijaya, telah divonis masing-masing tiga tahun penjara dan kini mendekam di penjara.

Senin (4/3), giliran dua dosen Untirta yang menyusul masuk bui. Kedua dosen tersebut yakni Dusep Suhendar dan Alfian, yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi yang sama. Keduanya berstatus sebagai tahanan penyidikKejaksaan Negeri (Kejari) Serang dan mendekam di Rutan Kelas II B Serang selama 20 hari ke depan.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Serang, Triono Rahyudi mengungkapkan, penahanan terhadap keduanya menyusul dilakukannya pelimpahan tahap II atas berkas perkara kedua tersangka dalam perkara korupsi ini dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten ke Kejari Serang.

Kedua dosen tersangka itu ditahan guna mempermudah jalannya proses penyidikan dan penuntutan yang akan dilakukan oleh tim penyidik. Pertimbangan lainnya adalah karena alasan objektif dan subjektif. “Tiga tersangka sebelumnya juga dilakukan penahanan. Maka dengan mempertimbangkan alasan tersebut, kami dari pihak penyidik melakukan penahanan terhadap kedua tersangka,” kata Triono, kemarin.

Selain menahan kedua tersangka, dalam pelimpahan jilid dua kemarin, penyidik Kejati Banten juga melimpahkan sejumlah barang bukti kepada penyidik Kejari Serang. Barang bukti yang dilimpahkan antara lain berupa uang sebesar Rp 188 juta dan sejumlah dokumen. “Barang bukti yang dulu digunakan pada saat sidang kasus Untirta Jilid I juga turut dilimpahkan ke kami,” terang Triono.

Triono mengungkapkan, dalam waktu dekat akan segera menyusun rencana dakwaan serta melimpahkannya ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Serang. Namun, saat ditanya kapan kepastian proses penyusunan rencana dakwaan itu, Triono enggan mengungkapkannya. “Yang jelas segera akan kami selesaikan dan kami limpahkan ke pengadilan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, sejumlah pihak yang telah menjadi saksi dalam kasus Untirta Jilid I, akan kembali dipanggil untuk menjadi saksi dalam kasus Untirta Jilid II itu. “Ya kalau memang perlu akan dihadirkan lagi di dalam persidangan,” ujarnya singkat seraya mengatakan, setidaknya ada 10 jaksa yang akan menangani perkara tersebut.

Triono menegaskan, kedua dosen itu dijerat dan diancam Pasal 2 ayat (1), Pasal (3), dan Pasal 11 jo Pasal 18 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 sebagaimana perubahan Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pantauan Satelit News, dengan didampingi masing-masing kuasa hukumnya, kedua tersangka tiba di Kejati Banten sekitar pukul 10.00 WIB. Keduanya langsung masuk dalam ruang Kasi Penuntutuan Kejati Banten, Mochammad Mahmud untuk menjalani pemeriksaan dan melengkapi berkas administrasi. Sekitar pukul 12.00 proses pemeriksaan selesai dan kedua tersangka langsung dibawa ke Kejari Serang.

Tiba di Kejari Serang, kedua tersangka masih didampingi kuasa hukumnya kembali menjalani pemeriksaan di ruang Kasi Pidsus. Proses pemeriksaan berlangsung cukup lama kira-kira empat jam. Sekitar pukul 16.15 proses pemeriksaan selesai dan keduanya lantas digelandang ke Rutan Kelas II B Serang dengan menggunakan mobil tahanan Kejari.

Para wartawan yang sebelumnya telah menunggu untuk meminta konfirmasi kepada kedua tersangka hanya mendapat senyuman dari keduanya. Mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sementara itu, pengacara Alfian, Alisati Siregar mengatakan, pihaknya telah melakukan upaya penangguhan penahanan terhadap kliennya namun ditolak oleh pihak kejaksaan. “Sudah (pengajuan penangguhan penahanan), tapi ditolak. Mudah-mudahan saja ada keringanan yang diberikan klien saya karena dia kan sudah mengembalikan sejumlah uang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kasi Penuntutan Kejati Banten, Mochammad Mahmud mengungkapkan, meski keduanya telah mengembalikan uang yang diduga hasil korupsi, namun hal itu tidak menghentikan proses hukum atas keduanya. Kejati menilai jika perbuatan tersangka mengembalikan uang tersebut hanyalah sebatas pada itikad baik tersangka.

“Tersangka Alfian telah mengembalikan uang sebesar Rp138 juta, sedangkan sisanya sebanyak Rp50 juta dikembalikan tersangka Dusep. Akan tetapi meski telah mengembalikan, kami melihat hal itu hanya sebatas itikad baik tersangka saja. Terkait bersalah atau tidaknya akan kita lihat di dalam persidangan nanti,” ujar Mahmud. (bagas/dan/igo/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.