Banjir Serang-Cilegon, 2.100 KK Mengungsi

CILEGON, SNOL Hujan yang mengguyur hampir seluruh Provinsi Banten, Senin (4/3) malam menyebabkan banjir di berbagai daerah. Di Kota Cilegon, se-dikitnya lima kecamatan terendam banjir. Ribuan warga mengungsi.

Pantauan Selasa (5/3), lima kecamatan yang terendam banjir yakni Kecamatan Pulomerak, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Jombang dan Kecamatan Cilegon. Ketinggian air mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa. Selain mengungsi ke rumah kerabat, warga Kecamatan Citangkil dan Kecamatan Jombang memilih mengungsi dengan membuat tenda di pinggiran rel kereta api.

Herman (52) warga Citangkil mengatakan, hujan deras yang turun semalaman menyebabkan genangan air dan masuk ke rumah warga sekitar pukul 04.00 WIB. Dia tidak menyangka karena tidak pernah hal seperti itu terjadi. ”Air naik tadi pagi (kemarin, red) sebelum Adzan Shubuh. Baru kali ini mengalami banjir setinggi ini, biasanya air cuma lewat aja,” ungkap Herman.

Kepala Markas PMI Cilegon, Nurwarta mengatakan, banjir di Kota Cilegon menyebabkan 1.500 kepala keluarga (KK) di lima kecamatan itu terpaksa mengungsi. ”Total korban banjir mencapai 1.500 KK dengan 4.000 jiwa,” tandasnya.

Banjir juga merendam tiga gedung sekolah yakni SDN Kedaleman I, Madrasah Ibtidaiyah di Kecamatan Cibeber, dan SDN Masigit I di Kecamatan Jombang. Ketinggian air yang mencapai betis orang dewasa membuat siswa diliburkan. ”Untuk sementara belajar di rumah sampai air surut,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Cilegon Muhtar Gozali.

Kepala SDN Kedaleman I, Solehah Safitri mengatakan, sebanyak 783 muridnya terpaksa diliburkan. Sementara yang sudah terlanjur datang ke sekolah dipulangkan dan diminta untuk belajar di rumah. ”Air mulai naik sekitar pukul 04.00, jadi kami tidak sempat menyelamatkan buku tulis dan buku di perpustakaan,” ujarnya.

Di Kelurahan Cibeber, mulai dari depan Polsek Cibeber hingga UPTD Kecamatan Cibeber, ketinggian hingga satu meter. Alhasil siswa SD Cibeber I, II dan TK Perintis tidak dapat melewati jalanan yang tergenang. Menurut warga banjir tersebut biasanya juga menggenangi gedung sekolah sehingga sekolah diliburkan. Bahkan sejak pukul 23.30 WIB, mesjid setempat mengeluarkan pengumuman agar warga waspada dengan makin naiknya debit air.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Suminar, mengungkapkan, banjir menyebabkan korban sebanyak 17 orang. Dari jumlah tersebut delapan orang mengalami luka, delapan orang terkena infeksi kulit, dan satu orang digigit ular.

Walikota Cilegon, Tb Iman Ariyadi langsung meninjau sejumlah lokasi banjir. Dia mengungkapkan banjir yang terjadi disebabkan oleh ukuran drainase yang mengalami penyempitan baik oleh lumpur maupun sampah-sampah yang akhirnya menyumbat sejumlah drainase. Untuk itu pihaknya sudah mengerahkan tim khusus untuk membersihkan drainase-drainase yang ada.

Di Serang, enam kelurahan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang terendam banjir yang berasal dari luapan Sungai Cibanten. Luapan air menerjang pemukiman warga dan situs Istana Kaibon sejak Senin malam. Sebanyak 600 KK terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke rumah kerabat. Pemkot Serang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) men-etapkan darurat bencana sampai empat belas hari mendatang.

Kepala BPBD Kota Serang, Maskurdi mengatakan, banjir saat ini lebih besar dan dampaknya lebih luas apabila dibandingkan beberapa waktu lalu. Kelurahan yang terkena banjir adalah Margaluyu, Banten, Kasunyatan, Kasemen, Sawahluhur dan Warungjaud. Meski demikian, BPBD hanya memasang satu tenda pengungsian dan tidak membuka dapur umum.

“Ketinggian air sekitar 50 centimeter sampai 1 meter. Tenda untuk mengungsi ditempatkan di Kampung Tanggul, daerah terparah yang kena banjir. Bantuan sembako atau makanan sudah dikirim,” kata Maskurdi.

Dikatakan Maskurdi, kerugian akibat banjir belum bisa dihitung dan sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa. Petugas BPBD yang dibantu Taruna Siaga Bencana (TAGANA), Palang Merah Indonesia (PMI), dan tim medis akan disiagakan dilokasi yang kena banjir. Ia juga sedang melakukan koordinasi dengan BPBD Banten, apabila banjir semakin membesar.

Walikota Serang, Tubagus Haerul Jaman ketika meninjau lokasi banjir menuturkan, banjir yang menjadi langganan di wilayah Kasemen dan beberapa kelurahan di Kecamatan Serang diduga akibat pendangkalan Sungai Cibanten. Debit air yang meluap akibat hujan tidak bisa tertampung lagi. Pemkot akan melakukan komunikasi dengan Pemprov, karena Sungai Cibanten menjadi kewenangan Pemprov.

Jaman mengungkapkan, untuk membantu warga yang terkena banjir, Pemkot sudah memerintahkan SKPD terkait agar memantau dan melaporkan perkembangannya. (k-10/ned/app/igo/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.