Dahlan Iskan Heran Daging Sapi di Singapura Lebih Murah

JAKARTA,SNOL Menteri BUMN Dahlan Iskan meragukan data-data yang beredar terkait populasi sapi dan konsumsi daging sapi di Indonesia.

Saat ini, jumlah populasi sapi disebut-sebut 14 juta ekor dan konsumsi daging 2 kg per kapita per tahun. Namun, buktinya terjadi impor sampai 300 ribu ekor setiap tahun.

“Apakah data sapi atau konsumsinya yang salah karena collecting-nya? Apalagi, meski dilakukan impor harga daging lebih mahal dibandingkan Singapura yang hanya berkisar Rp 45 ribu per kilogram. Padahal, kalau sama-sama impor mestinya harga di Singapura dan Indonesia relatif sama, tapi di sini mencapai Rp 90 ribu per kilogram,” kata Dahlan Iskan ketika berbicara dalam Silahturahmi Pers Nasional dan Bedah Kasus: Carut Marut Impor dan Masa Depan Swasembada Daging Sapi yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Hotel Hyatt, Jakarta, Rabu (6/3).

Dalam acara yang dibuka Ketua Umum PWI H Margiono itu, hadir diantaranya, Ketua Dewan Pers H Bagir Manan, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)  Oesman Sapta, Ketua Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) Irman Gusman, Wakil Ketua DPD GKR Hemas, Ketua Komisi IV DPR M Romahurmuziy, Ketua Apindo Anton J Supit, Direktur Eksekutif Asosiasi Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring dan Dirut RNI Ismet Hasan Putra.

Dahlan menambahkan, melihat terjadinya ketimpangan itu, dirinya pun mendorong  perusahaan BUMN menggalakkan peternakan dan penggemukan sapi. Saat ini, terdapat 600 ribu hektar lebih lahan dari perkebunan sawit dimiliki  PTPN.

“Dari situ kita menghasilkan 10 miliar pelepah pohon yang mesti dibuang setiap tahun, karena setiap pohon  ada 20 pelepah  mesti dibuang agar pohon sawit terurus. Nah, semua ini bisa dimanfaatkan buat makanan sapi untuk penggemukan,” terangnya.

Dahlan juga meragukan bisa terjadi swasembada daging dalam tahun 2013. Karena, untuk melakukan penggemukan sapi dibutuhkan waktu sejak bakalan hingga besar sekitar 5 tahun lagi.

“Maka saya menilai baru tercapai swasembada dalam 5 tahun lagi. Karena itu, solusinya untuk mengatasi mahalnya harga daging mengikuti sistem pasar dengan melakukan impor sapi,” terangnya.

Hanya saja, lanjut Dahlan, meski dilakukan secara sistematis agar kelak impor yang dibuka bisa menghasilkan swasembada di bidang peternakan.
“Jadi mereka yang diberikan ijin impor, mesti juga mengimpor anak sapi untuk peternakan di dalam negeri. Jadi, jika mereka memiliki keuntungan sampai Rp 45 ribu setiap kilogramnya, harus dikembalikan dalam bentuk mengimpor sapi untuk di dalam negeri,” terangnya.

Sistem itu, lanjut Dahlan, sebagaimana dilakukan Bulog, yang meskipun berhasil meraih untuk hingga Rp 800 miliar, tapi dikembalikan untuk menyangga harga pangan di dalam negeri sehingga para petani tidak kehilangan gairah dalam bertani.

Dahlan juga mengungkapkan, BUMN menargetkan sejak 2012 memelihara 100 ribu ekor sapi. Hanya saja, setelah dicari mulai dari Jatim, NTB, NTT hanya ada 20 ribu ekor sapi. Pasalnya, untuk memperoleh satu ekor anak sapi menghabiskan biaya Rp 9 juta dengan harga jual Rp 4 juta per ekor.
“Jadi, ini terjadi masalah tersendiri yang penyelesaiannya musti dilakukan terintegrasi dengan dukungan semua pihak,” terangnya.(dem/rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.