Kasus Sofware Diungkit Lagi

Mahasiswa Desak Kejati Periksa Anggota DPRD

SERANG, SNOL- Puluhan mahasiswa dari Koalisi Pergerakan Banten (KPB) kembali menggelar unjukrasa di halaman kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten, Jumat (8/3). Dalam aksinya pengunjuk rasa mendesak Kejati segera memeriksa AR salah satu anggota DPRD Banten yang diduga menerima fee dari proyek pengadaan software MIPA di Dinas Pendidikan Banten Rp5,3 miliar pada tahun 2008. Dimana kasus tersebut menyeret mantan Kepala DInas Pendidikan Provinsi Provinsi Banten Eko Endang Koswara.

Selain berorasi aksi, pengunjuk rasa juga membakar ban bekas di depan kantor Kejati di Jalan Raya Serang-Pandeglang tersebut. Akibatnya kedua jalur tersebut sempat mengalami kemacetan hingga beberapa kilometer.

Kordinator Aksi, Vredo Putra Pairus menyatakan, Kejati seharusnya sudah melakukan penyelidikan AR. Menurutnya, indikasi keterlibatan AR jelas terlihat dari pengembalian uang sebesar Rp 150 juta yang diduga uang tersebut adalah fee yang diterimanya dair terdakwa Eko yang sudah menjalani tahanan dalam kasus tersebut.

“Tapi hingga saat ini, Kejati belum melakukan pemeriksaan terhadap AR. Sesuai dengan Undang-undang pengembalian uang yang diduga dari hasil korupsi tidak menghapus tindak pidana korupsi, jadi Kejati harus melakukan pemeriksaan,” kata Vredo di sela-sela orasi berlangsung.

Namun, permintaan pengunjuk rasa tersebut belum mendapat tanggapan dari Kejati Banten, hingga akhirnya pengunjuk rasa membubarkan diri dengan tertib. Sekedar diektahui, kasus tersebut bermula saat Kejari Serang melakukan penyelidikan dalam kasus korupsi pengadaan software MIPA pada Dinas Pendidikan Rp 5,3 miliar. Dalam kasus tersebuit Kejari menetapkan mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara sebagai tersangka.

Sementara AR yang diketahui sebagai direktur CV Priyangan dan selalu kontraktor penyedia barang, dari ahsil penyelidkan AR diketahui tidak melaksanakan kegiatan. Melainkan hanya meminjmkan perusahaan tersebut keapda pihak lain. Dari Peminjaman perusahaan tersebut AR menerima fee Rp 150 juita, AR sendiir sempat diperiksa Kejari sebagai saksi. (bagas/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.