Bupati Serang Membantah, Bikin Sayembara Rp 100 Juta

SERANG,SNOL Kecelakaan maut terjadi Kampung Cimanuntung, Desa Ciomas, Kecamatan Padarincang, Serang. Dua remaja teas. Rombongan Bupati Serang Ahmad Taufik Nuriman dituding terlibat dalam peristiwa itu.
Bupati Taufik Nuriman menyatakan menyiapkan Rp 100 juta buat siapa saja yang bisa membuktikan rombongannya terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan dua remaja yakni Irfan Mubarok (18) dan Ruyat (14) padaMinggu (17/3) tersebut.

“Saya akan beri Rp100 juta bagi siapa saja yang mampu membuktikan kalau saya adalah penyebab tewasnya dua remaja tersebut,” ujar Taufik Nuriman kepada wartawan di Pendopo Bupati Serang, Senin (18/3) dalam konfrensi pers juga yang dihadiri Wakil Bupati Ratu Tatu Chasanah dan sejumlah pejabat Pemkab Serang.

Taufik menjelaskan, sayembara tersebut bukan tanpa alasan. Karena tudingan yang berkembang terhadap dirinya bersama rombongan panitia pembangunan Masjid Terapung Banten (MTB) sulit dibuktikan.

“Pembuktian terhadap saya sulit dibuktikan karena memang saya bukan penyebabnya. Selain tidak ada saksi saat kejadian, secara logika mobil yang menabrak motor pasti ada bekas lecetnya meski sedikit. Namun silahkan lihat sendiri tidak ada lecet di mobil yang diisukan sebagai penabrak yakni Patroli Pengawal (Patwal) yang mengawal saya pada saat ditemukan dua remaja tersebut,” katanya.

Menurut Taufik, kronologi yang sebenarnya adalah saat itu dirinya bersama rombongan panitia pembangunan MTB tengah melakukan survei lahan alternatif sebagai lokasi MTB di Kecamatan Anyar. Setelah melakukan survei, dirinya bersama rombongan hendak kembali ke kediaman bupati di Kota Serang melalui jalur Cinangka-Padarincang-Ciomas-Pabuaran.
Namun di Desa Ciomas, Kecamatan Padarincang, rombongan berhenti karena ada laporan dari mobil Patwal yang mengatakan ada dua remaja yang mengalami kecelakaan.

Mendengar adanya laporan tersebut, lanjut Taufik, ia lantas memerintahkan mobil Patwal untuk menolong dan membawa korban ke rumah sakit terdekat. Karena saat ditemukan kondisi salah satu remaja tersebut sudah tidak bergerak.

“Jadi saat itu ditemukan sesudah kecelakaan, bukan ditabrak oleh mobil Patwal. Dengan kata lain, saya itu menolong bukan menabrak,” tegasnya.

Taufik menambahkan, logikanya selain tidak adanya bekas lecet di mobil Patwal, fakta yang bisa digunakan untuk menyangkal adalah jika memang Patwal yang menabrak, otomatis rombongan yang hanya berjarak sekitar dua meter di setiap mobilnya akan terjadi tabrakan beruntun. “Dari logika seperti itu saja diperhitungkan apakah saya menabrak atau tidak,” ungkapnya.

Sementara itu orangtua korban, Sulkhi mengaku, mengikhlaskan kepergian putranya yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas tersebut, dan tidak akan menggugat bupati karena siapa pelakunya belum didapat.

“Saya secara pribadi ikhlas dengan kepergian putra saya dan tidak akan menuntut bupati yang diisukan sebagai pelaku penabrakan,” akunya.

Informasi yang dihimpun Banten Pos (Satelit News Group), kedua remaja tersebut yakni Irfan Mubarok adalah warga Kampung Kolelet RT 2/RW 1, Desa Barugbug, Kecamatan, Padarincang, anak dari pasangan Ali Ahmad (45) dan Maemunah (35).
Ia menjadi korban tewas bersama teman satu kampungnya, Ruyat yang merupakan putra pasangan Sulkhi (35) dan Tuhah (28). Belakangan diketahui jika Sulkhi adalah Kepala Desa Barugbug, Kecamatan Padarincang.

Kasat Lantas Polres Serang, AKP Warsono mengatakan, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah TKP. Setidaknya ada delapan orang saksi yang diduga mengetahui peristiwa kecelakaan maut tersebut yang sudah dimintai keterangan.
Kedelapan orang saksi diantaranya adalah empat anak-anak yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi kejadian, sopir truk yang berada di belakang iring-iringan Bupati, dan tiga orang anggota Patwal Bupati.

Dari hasil olah TKP, Warsono mengungkapkan, diduga kedua remaja tersebut menjadi korban tabrak lari yang dilakukan oleh sebuah mobil yang melaju dari arah belakang motor korban. Hal itu terlihat dari kondisi motor yang digunakan oleh korban yang mengalami rusak parah pada bagian belakang dan sisi sebelah kanan sepeda motor itu.

“Jadi tidak mungkin kalau korban ditabrak dari arah berlawanan. Karena yang rusak parah itu adalah bagian belakangnya. Lihat saja rangka sepeda motor itu yang agak menekuk ke depan dan knalpotnya yang sampai pa-tah,” ujarnya.

Warsono menambahkan, dari hasil olah TKP pihaknya juga mendapati petunjuk baru dalam kasus ini. “Tadi (kemarin) saat olah TKP kami menemukan sebuah spakbor mobil yang diduga sebagai pelaku penabrakan. Spakbor ini ditemukan tak jauh dari lokasi sepeda motor itu jatuh,” katanya.

Pernyataan Warsono diperkuat oleh keterangan tiga saksi kunci yang mengetahui kejadian itu secara pasti. Ketiga saksi kunci itu adalah Muhammad Ojad (14), Rizki Saputra (14) dan Usep Supriyadi (13). Ketiganya mengaku sempat melihat sebuah mobil yang melaju kencang menuju arah Padarincang. Mobil itu diduga kuat sebagai pelaku penabrakan yang menyebabkan tewasnya kedua korban.

“Awalnya saya lihat motor itu ngebut, lalu tiba-tiba dari arah belakang mereka ditabrak mobil hitam. Saya tidak tahu jenisnya apa, tapi kalau tidak salah kalau nggak Avanza ya Xenia,” kata salah seorang saksi, Rizki.

Usai melihat kecelakaan itu, Rizki mengatakan, dirinya bersama kedua rekannya yang kebetulan baru pulang memancing langsung lari meninggalkan lokasi kejadian karena takut. Tidak selang berapa lama ketika mereka akan melarikan diri, mereka mendapati rombongan Bupati yang kebetulan melintas di lokasi itu, yang kemudian menolong kedua korban.

“Saya lihat ada rombongan yang mengangkut korban, tapi saya tidak tahu mereka akan dibawa kemana,” katanya. (bagas/arief/dwa/dan/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.