Desi Bunuh Anak Tirinya Bukan karena Ekonomi

TANGERANG, SNOL Polisi terus mendalami kasus penganiayaan yang dilakukan Desi Sintya Dewi (18) terhadap anak tirinya Devina Lyra Putri (5) hingga tewas.

Dugaan sementara, pelaku melakukan penganiayaan hanya karena kesal dengan tingkah laku korban. Untuk pengembangan lebih lanjut, polisi berencana bakal memeriksa kejiwaan tersangka.

“Tidak menutup kemungkinan penyidik akan melakukan pengujian kejiwaan tersangka di Polda Metro Jaya,” kata Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Bambang Priyo Andogo di Mapolresta, Senin (18/3).

Menurut Kapolres, hasil pemeriksaan kejiwaan tersebut untuk mengetahui alasan tersangka tega melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya yang berujung kematian. “Untuk melengkapi hasil pemeriksaan, pemeriksaan kejiwaan ini dibutuhkan untuk lebih mendalami motif pelaku,” jelas Bambang.

Kondisi pelaku shock dan labil. Bahkan dalam beberapa kali pemeriksaan, tersangka yang merupakan warga Kampung Peusar, Kelurahan Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang sering pingsan.

“Kami sempat membawanya ke rumah sakit karena kekurangan cairan. Karena kondisi demikian, penyidik harus ekstra hati-hati melakukan pemeriksaan,” jelas Bambang.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Tangerang, Komisaris Shinto Silitonga, mengatakan, motif Desi Sintya Dewi menganiaya Devina Lyra Putri hingga tewas diduga karena kesal. “Motif sementara hanya karena kesal,” ujar Shinto Silitonga.

Menurut Shinto, kekesalan Desi terhadap putrinya itu diungkapkan dengan memarahi dan menganiaya sejak enam bulan terakhir ini. Shinto membantah bahwa perlakuan kasar Desi terhadap Devina lantaran faktor ekonomi. “Kalau secara ekonomi, mereka tidak masalah karena dalam satu rumah itu ada tiga orang yang memiliki sumber pendapatan,” katanya.

Dikatakan Shinto, di dalam rumah kontrakan di Kampung Peusar, Binong, Curug, Kabupaten Tangerang, itu terdapat empat orang, yaitu Desi (tersangka), ibu Desi, suami pelaku, dan Devina.

“Tiga orang bekerja, yaitu Desi sebagai terapis, ibu Desi pembantu rumah tangga, dan suami Desi sebagai sopir tembak. Secara ekonomi mereka tidak masalah,” kata Shinto.

Menangis

Desi Syntia Dewi menangis tersedu-sedu saat dihadapkan dengan wartawan yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, di aula Markas Polres Tangerang, Tigaraksa.

Menutup sebagian wajahnya, Desi yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat refleksi di bilangan Kelapa Dua itu hanya menangis tersedu-sedu. Wajahnya yang tirus terlihat pucat. Perempuan muda yang dinikahi Agus Wasito, 36 tahun, ayah kandung Devina, itu menunduk. Bulir-bulir keringat memenuhi dahinya. Mengenakan seragam tahanan biru, Desi bungkam.

Desi menikah dengan Agus pada Desember 2012, setelah pria itu bercerai dari istri pertamanya, Eka Afriyani (25 ). Agus adalah sopir tembak ekspedisi, yang tidak setiap hari berada di rumah. Sebelumnya, Devina tinggal di Lampung. Devina dan ibu tirinya diboyong Agus dan mengontrak rumah di Binong. Di rumah petak ukuran 6 x 4 meter itu juga tinggal mertua Agus, Hermiyati (42), yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan Taman Ubud, Karawaci.

Polisi telah memeriksa delapan saksi terkait kematian Devina. Mereka adalah ayah kandung Devina, Agus, lima tetangga korban; Unah, 40 tahun, Pipin Sopiah (45), Abdul Azis (30), Kurnia Endang (21), Adang (40), bidan Yeni (22), serta nenek tiri korban, Hermiyati.

Sebelum meninggal, pada Sabtu, 16 Maret 2013, korban dianiaya ibu tirinya. Dia ditampar pipi kanan dan kiri. Didorong pundaknya, jatuh telentang, kepala belakangnya membentur lantai. Korban tak sadarkan diri, kejang-kejang, dan akhirnya meninggal. Dokter forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta menyimpulkan, Devina mengalami pendarahan otak juga pernah mengalami kekerasan fisik oleh tersangka.

Pelaku sendiri sudah dijadikan tersangka dan dijerat Pasal 80 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 44 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Dengan ancaman hukuman 10 hingga 15 tahun penjara.(hendra/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.