35 Ribu Anak Banten Tak Sekolah

SERANG,SNOL Sebanyak 35.1269 anak usia 7-18 tahun tersebar di Kabupaten/Kota di Banten tercatat tidak sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten, Hudaya Latuconsina mengatakan, 35.1269 orang tidak sekolah tersebut mengakibatkan bertambahnya angka pengangguran pada usia produktif.

”Termasuk mempengaruhi jumlah angka kemiskinan, meningkatnya beban angkatan kerja hingga masalah sosial,” kata Hudaya di Serang, Selasa (26/3).

Secara rinci Hudaya menyebutkan, dari 35.1269 orang tidak sekolah itu, usia 7-12 sebanyak 28,711 orang, usia 13-15 sebanyak 109,149 orang, usia 16-18 sebanyak sebanyak 312, 409 orang.“Jumlah itu berdasarkan data dari BPS Provinsi Banten yang terhitung sampai akhir 2011 lalu,” ujarnya.

Penyebab anak tidak sekolah itu, lanjut Hudaya, yakni faktor ekonomi, dan sulit menjangkau lokasi sekolah. “Ada juga yang memang anak itu sudah tidak ingin sekolah. Untuk menangani persoalan itu akan dibangun USB (unit sekolah baru) dan RKB (ruang kelas baru). Juga menyelenggarakan pendidikan alternatif melalaui pendidikan 1 atap dan pembelajaran jarak jauh,” tuturnya.

Mengenai partisipasi peserta didik tahun ajaran 2011/2012, Hudaya menyatakan untuk kategori tingkat SD sebanyak 206.814 orang, Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 20.340 orang. ”Tapi, dari jumlah itu yang melanjutkan ketingkat SMP/MTs sebanyak 62.426 orang,” imbuhnya.

Kemudian pada kategori tingkat SMP/MTs sebanyak 164.728 siswa yang meliputi SMP 121.199 siswa, dan MTs sebanyak 43.529. Dari jumlah itu 99,89 persen menyelesaikan pendidikannya dan yang melanjutkan ketingkat SMA/SMK/MA 57.364 siswa.

”Untuk tingkat SMA/SMK/MA sebanyak 107.364 siswa. Dari jumlah itu yang menyelesaikan sekolahnya mencapai 99,59 persen, yang tidak selesai 0,41 persen. Lalu yang menimba pada perguruan tinggi sebanyak 1.222.417 orang, namun yang lulus hanya 137.929 orang atau 11,28 persen,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Banten, Krisna Gunata meminta Dindik Banten mendata kembali jumlah anak tesebut.”Jangan-jangan jumlahnya lebih dari itu karena datanya sudah lama. Kalau sudah didata, Dindik harus mencarikan solusinya,” kata Krisna. (mg3/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.