Amati Jenis Senjata dan Latar Belakang Korban Cebongan

JAKARTA,SNOL Komnas HAM diminta jangan asal tuduh dalam menyelidiki siapa pelaku penyerangan Lapas Cebongan Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat  tersangka penusukan anggota Kopassus Sersan Satu Santoso.

Ada banyak dugaan muncul selain tudingan yang diarahkan kepada Kopassus sebagai pelaku serbuan maut itu.

Hal tersebut dikemukakan mantan Komandan Pusat Polisi Militer ABRI (Danpuspom ABRI) Mayor Jenderal Syamsu Djalal, mantan Komandan Satgas Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono, dan Mayjen TNI (Purn) Murwanto dalam sebuah diskusi di Jakarta (1/4).

“Coba amati jenis senjata yang digunakan dan latar belakang korban,” kata Mulyo Wibisono. Dilihat dari senjata yang digunakan menurut Mulyo, Kopassus sudah lama tak lagi menggunakan senapan serbu jenis SS1 dan AK47, yang diduga jadi senjata eksekusi korban Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Candra Galaja, Yohanis Juan Manbait, dan Gamaliel Yermianto Rohi Riwu.

Diakuinya, senapan SS1 pernah digunakan oleh marinir tapi kini sudah diganti M16. Sepengetahuan Mulyo, kedua jenis senjata tersebut masih digunakan oleh kepolisian. “Makanya kita tunggu hasil penyelidikan tim investigasi TNI,” timpal Syamsu Djalal.

Ditambahkan Syamsu, seandainya Kopassus pelakunya maka personel yang mendatangi Lapas tak perlu belasan orang tapi cukup dua atau tiga orang saja. “Kopassus itu diakui internasional, nggak perlu pasukan sebanyak itu,” tegasnya.

Soal latar belakang korban, tambah Mulyo, informasi yang didapat mereka sempat terlibat kejahatan narkotika. Dari sini bisa muncul teori bahwa keempatnya dieksekusi karena persaingan sindikat narkotika. Para pelaku kemudian menggunakan kasus penusukan sebagai pengalihan informasinya.

Sementara Murwanto meminta semua pihak agar mewaspadai keterlibatan pihak asing. Dimungkinkan mereka sengaja masuk dalam kasus ini dengan tujuan memecah belah Indonesia. “Mereka tak senang TNI terus menjaga keutuhan NKRI,” ucap mantan Sekjen Departemen Sosial ini.

Untuk itu, ketiganya meminta semua pihak agar bersabar menunggu hasil penyelidikan TNI dan polisi. Jangan sampai terjebak upaya pengarahan pemikiran yang dilakukan pihak-pihak yang diuntungkan dari kejadian ini. (pra/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.