9 Calon Petarung Pilkada Kota Tangerang Adu Program

TANGERANG, SNOL Untuk pertama kalinya, sembilan bakal calon walikota dan wakil walikota Tangerang duduk bareng. Momen langka itu terjadi dalam diskusi  politik.

Kesembilan kandidat itu diminta untuk mengemukakan visi dan misi mereka untuk membangun Kota Tangerang, dalam diskusi politik yang digelar Pokja Wartawan Harian Tangerang di aula Perguruan Tinggi Raharja, Sabtu (6/4).
Meski hanya punya cukup singkat, yakni sekitar tujuh menit, namun masing-masing balon mempergunakannya secara maksimal.

Para kandidat itu yakni Wakil Walikota Tangerang Arief R Wiesmansyah, Sekda Kota Tangerang Herry Mulya Zein, Dirut PDAM Tirta Benteng Ahmad Marju Kodri, Ketua DPD II Golkar Kota Tangerang Abdul Syukur, Ketua DPRD Kota Tangerang Herry Rumawatine, artis Umar Lubis, anggota DPR RI Dedi Gumilar atau akrab disapa Miing, Mantan Kadispora Kota Tangerang Gatot Suprianto dan Ketua DPC PPP Kota Tangerang Iskandar Zulkarnaen.

Arief R Wismansyah yang saat ini menjabat sebagai Wakil Walikota Tangerang mengatakan ingin membuat Kota Tangerang menjadi kota layak huni. Caranya dengan mengatasi persoalan banjir, pengangguran dan sampah. Menurutnya dari tahun 2009, Pemkot Tangerang sudah membuat master plan penanganan banjir dan telah diimplementasikan sehingga titik banjir di Kota Tangerang saat ini berkurang.

“Kota Tangerang punya potensi yang luar biasa, tetapi tidak lepas dari masalah seperti pengangguran, banjir dan sampah. Ini jadi perhatian kita untuk membangun kota yang maju agar menjadi kota yang layak huni,” ujarnya.

Arief juga berjanji membenahi birokrasi. “Diantaranya adalah menyederhanakan birokrasi dengan membangun smart nerwork di Puskesmas, dengan tujuan agar pelayanan semakin cepat,” tukasnya.

Harry Mulya Zaein (HMZ) yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangerang mengatakan, untuk memajukan Kota Tangerang harus melakukan pembinaan terhadap tiga hal. Yakni Sumber Daya Manusia, Lingkungan dan Perekonomian.

“Selama 10 tahun jadi Sekda, saya sudah memberikan kontribusi kemajuan Kota Tangerang. Pembangunan yang akan dilakukan nanti tidak harus terpaku pada pembangunan infrastruktur saja , tetapi juga konsep pembinaan, itu terpenting,” kata HMZ.

Dia menjelaskan, akan fokus meningkatkan kapasitas pendidikan dan kesehatan sumber daya manusia. Jika pendidikan dan kesehatan sudah terjamin, Kota Tangerang miliki SDM yang berkualitas, maju, dan siap secara bersama membangun kotanya.

Poin kedua pembinaan lingkungan. Dalam hal ini, Kota Tangerang yang memiliki luas 17.800 hektare, HMZ akan konsisten pada Rancangan Tata Ruang dan Wilayah RT/RW. Sedangkan yang terakhir adalah membina ekonominya. Kembangkan industri kecil atau UMKM dengan program pemerintah mendukung rakyat, dan tentu jalin hubungan dengan investor, agar menanamkan sahamnya di kota ini.

Sementara Ketua DPRD Kota Tangerang Herry Rumawatine mengatakan, memimpin Kota Tangerang seperti memimpin luas daerah tiga kali lipatnya BSD.

“BSD itu hanya 6 ribu hektar, sedangkan Kota Tangerang memiliki luas daerah Rp 17.800 hektare. Sehingga, tidak boleh ada pembangunan yang tertinggal di setiap luasannya,” tutur Herry.

Menurut Herry, jika masih ada jalan yang rusak di Kota Tangerang maka itu akan menjadi masalah besar. “Kebangetan banget,” pungkasnya.

Belum Fokus

Pengamat Politik, Ray Rangkuti menyoroti visi misi dari sekian banyaknya kandidat itu, tidak ada satupun yang membuat orientasi pembangunan kota. Visi misi para kandidat, kata Ray masih standar.

“Jika yang dikemukakan mengenai program teknis, menurut saya itu suatu hal yang umum atau wajar yang harus dimiliki bakal calon pengganti Wahidin Halim. Namun, dari sekian banyaknya bakal calon, tidak ada yang menawarkan diri untuk fokus pada orientasi pembangunan,” kata Ray.

Fokus orientasi pembangunan menurut Ray, seperti pemberian identitas kota. “Misalnya mau menjadi kota industri, itu berarti pemda harus memiliki keberanian menjaga sungai Cisadane agar tidak tercemar limbah industri, karenanya harus berani bertindak tegas pada pelaku industri yang mencemari lingkungan. Masa kota ini disebut kota buruh? Menurut saya itu kurang pas untuk kota metropolitan ini,” kata Ray.

M.Zaki Mubarok, akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat yang juga hadir mengemukakan hal berbeda. Sudah seharusnya, kata dia, para bakal calon pengganti Wahidin Halim ini menjaga stabilitas pembangunan yang sudah tercipta pada pemerintahan sebelumnya. Sehingga kestabilan masyarakan yang sudah terbentuk 10 tahun terakhir ini, tidak goyah atau menimbulkan rentang perpecahan.

“Juga pada pemerataan air bersih, rakyat miskin dan tertinggal. Mungkin Kota Tangerang baik di segala aspek, namun coba lihat di pinggiran atau perbatasan kota, pasti ada keterbelakangan,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Pokja Wartawan Harian Tangerang, Ahmad Jarkasih mengatakan, acara diskusi hanya sebagai awal untuk memberitahukan ke masyarakat luas akan digelarnya perhelatan akbar. “Ini baru awal untuk mengawal pesta demokrasi di Kota Tangerang,” tandasnya.(pramita/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.