Kasus Poso karena Warga Diprovokasi Kelompok Radikal

JAKARTA,SNOL Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan keprihatinan atas aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso yang terjadi pada Senin (3/6).

Menurut Ketua Presidium IPW Neta S. Pane sikap represif polisi dalam memberantas terorisme menjadi salah satu dugaan  penyebab peristiwa bom bunuh diri di kantor polisi. Sebagian kalangan, tuturnya, dendam pada polisi.

“Ternyata menimbulkan dendam tersendiri bagi sebagian masyarakat. Contoh pada 29 Desember 2012, lima dari 15 warga Poso yang dibebaskan polisi mengalami lebam karena dianiaya saat jalani pemeriksaan selama 7 hari pascapenembakan patroli Brimob. Sikap polisi yang represif ini disikapi pula masyarakat dengan sikap nekat,” kata Neta kepada JPNN, Senin sore.

Menurutnya, adanya provokasi dari kelompok-kelompok radikal (tertuduh teroris) pada sebagian warga Poso agar semakin berani menebar teror pada polisi. Terbukti, lanjutnya, ada sejumlah kejadian polisi yang diculik dan dibunuh. Selain itu, tuturnya, di Poso konflik kelompok radikal dengan polisi terus menerus meningkat.

Kinerja intelijen juga belum maksimal mendeteksi potensi dan kekuatan kelompok-kelompok radikal ini.

“Kelompok-kelompok ini selalu melihat peluang untuk menebar teror. Apalagi jaringan radikalisme Poso dan Solo masih terangkai dan kelompok-kelompok Upik Lawanga masih menghimpun kadernya untuk membuat bom,” sambung Neta.

Radikalisme, menurut Neta, makin tinggi di daerah-daerah termasuk Poso. Oleh karena itu, potensi-potensi inilah yang harus diputus polisi agar mata rantai radikalisme di Poso bisa dihentikan. (flo/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.