Polisi Target Utama Teroris

CILEGON, SNOL Sasaran utama kelompok teroris bukan lagi tempat-tempat keramaian, atau sarana ibadah tetapi justru aparat kepolisian.
Pasalnya, kepolisian merupakan salah satu institusi negara yang paling merepotkan, mengetahui dan kerap membatalkan seluruh pergerakan para teroris.
Demikian disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Purnawirawan Aansyad Embai usai latihan simulasi penanganan terorisme di Pelabuhan Krakatau Bandar Samudra (KBS), Kota Cilegon, Rabu (19/6).
“Teroris mengubah target sasaran dengan mengincar kepolisian. Dugaan aksi tersebut sebagai tindakan balasan atas penangkapan teroris selama ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut Komjen Aansyad menjelaskan, aksi teror yang terjadi beberapa bulan yang lalu di markas polisi menunjukan bahwa bukan hanya masyarakat yang menjadi target, sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, polisi juga turut serta menjadi salah satu sasaran nyata para teroris.
“Polisi adalah simbol negara yang paling dekat dengan masyarakat, teroris lagi enak-enak bikin bom, datang polisi tangkap. Teroris lagi enak-enak latihan, datang polisi tangkap. Jadi bagi teroris polisi yang paling sering menggangu kegiatan mereka,” jelasnya.
Masih kata Komjen Aan, tugas menangani teroris bukan hanya menjadi tugas pihak kepolisian saja, namun seluruh elemen masyarakat berkewajiban membantu pemerantasan.
“Bukan hanya tugas Polri saja, tapi ada semua elemen, ada TNI, ada pemerintah juga. Bila kita lihat saat simulasi tadi selain Kepolisian, ada pemerintah juga turut membantu penanganan teroris. Ada pemadam kebakaran, ada ambulans, pihak rumah sakit, dan elemen lainnya. Semua turut andil dalam penanganan teroris dalam simulasi yang baru kita saksikan,” paparnya.
Jumlah teroris yang telah ditangkap pihak kepolisian hingga sampai saat ini di Indonesia telah mencapai 900 orang tersangka dan 10 pesen atau sebanyak 90 orang tersangka ditembak mati saat penangkapan. Dirinya kerap mendapat kritikan tajam dari anggota dewan terkait penanganan teriris yang harus mencabut nyawa seseorang hingga masuk dalam koridor pelanggaran HAM, namun bersandar dari pembelajaran lain, penanganan Teroris di Indonesia masih sangat santun ketimbang dengan negara lain.
“Hanya sekitar 10 persen dari 900 tersangka teroris yang ditembak mati. Coba lihat yang terjadi di Prancis, pengejaran teroris hingga menggunakan rudal untuk menghancurkan lokasi persembunyian mereka. Di Ma-laysia, menangkap teroris pakai pesawat tempur dan hingga saat ini jumlah yang tewas disana juga masih belum jelas. Coba bandingkan dengan negara kita, saat kita tangkap satu teroris saja, sudah menjadi sorotan kemana-mana. kita masih dengan senjata ditangan, yang notabene teroris sendiri juga mengenakan bom yang mengancam keselamatan kita juga. Penanganan yang kita lakukan saat ini masih lebih lembut dibanding dengan negara-negara lain,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya simulasi atau pelatihan ini, diharapkan dapat menangani dengan baik dan benar jika terjadi serangan teroris. “Saya berharap dengan ada latihan ini dapat menangani dan menanggulangi jika terjadi serangan teroris, dan pelatihan ini saya harapkan dilakukan secara rutin,” harapnya.
Berdasarkan pantauan Banten Pos (Satelit News Group) di lapangan, simulasi deteksi dan investigasi serangan teroris yang digelar di Pelabuhan Cigading, mengangkat kronologis peyerangan stasiun kereta api dan penyerangan Lapas Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah.
Teroris berhasil meluluhlantakan satu gerbong kereta api dan meledakan lapas Nusakambangan untuk meloloskan para napi teroris yang berada di dalamnya.
Namun, kesigapan aparat kepolisian yang dibantu pemerintah setempat, teroris dapat dilumpuhkan. pengejaran dilakukan hingga ke hutan bakau. Tiga otak pelaku utama teroris dapat dilumpuhkan. (nal/zal/igo/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.