FPI Kepung Kantor Walikota Tangsel

SERPONG,SNOL Massa Front Pembela Islam (FPI) mengepung kantor Walikota Tangerang Selatan, di Kecamatan Setu. Mereka menuntut penyelesaikan kasus dugaan penyerobotan tanah warga oleh pengusaha di Kelurahan Paku Alam, Kecamatan Serpong Utara.
Menggunakan ratusan motor dan satu unit mobil bak terbuka, massa pertama berkumpul di bundaran Alam Sutera, , Senin (24/6). Dikawal polisi, massa melakukan konvoi menuju kantor walikota sekitar pukul 13.00 WIB. Sebanyak dua ratus anggota Satpol PP Kota Tangsel, lima ratus petugas kepolisian, disiagakan di depan halaman kantor Walikota Tangsel untuk menghadang masa.
“Kami menuntut walikota menyelesaikan penyerobotan yang dilakukan Alam Sutera. Ini bentuk penjajahan baru di negeri ini,” ujar salah seorang anggota FPI di atas mobil bak terbuka.
Setelah setengah jam berorasi, Wakil Sekjen DPP FPI Awid Masyuri, Wakil Sekjen FPI Provinsi Banten Jafar Sidiq, serta Majelis Suro FPI KH Wahyudin, diterima oleh perwakilan Walikota Tangsel. Di hadapan Camat Serpong Utara Andi Patabai, Kesbangpolinmas Dedi Budiawan, dan Kasat Pol PP Sukanta, perwakilan FPI membacakan kronologi penyerobotan tanah yang diduga dilakukan oleh pengembang Alam Sutera.
Keluarga Ronah bersama ahli warisnya yang asli warga Paku Alam sejak 1953, merasa tanahnya diserobot oleh seseorang yang mengatasnamakan PT Alfa Godlland Realty yang tiba-tiba mengaku memiliki sertifikat tanah tersebut pada tahun 1984. Padahal keluarganya tidak pernah memberi apalagi menjual tanah seluas 2,2 hektar tersebut kepada perusahaan yang dikenal sebagai pengembang Alam Sutera.
“Keluarga Ronah bersama ahli warisnya memiliki girik asli beserta surat tanahnya,” ujar Wakil Sekjen FPI DPP Awid Masyuri. Hingga kini, karena ketakutan, keluarga Ronah bersembunyi dan berada dalam pengamanan FPI.
Jika memang Alam Sutera mengaku memiliki sertifikat tanah yang asli, FPI mengatakan seharusnya pengembang mau bertemu dan duduk bermusyawarah dengan ahli waris. Namun jika Alam Sutera menghendaki menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum, FPI maupun ahli waris siap.
“Justru kami menunggu itu, jika memang pada akhirnya ahli waris bersalah, kami pun akan berlapang dada dan tidak akan membela yang salah. Mari sama-sama bermusyawarah dan membuktikan permasalahan tanah ini,” pungkasnya.
Wakil Sekjen FPI Provinsi Banten Jafar Sidiq, menambahkan FPI juga menuntut dibebaskannya para ustadz, laskar, dan aktivis yang ditangkap Polres Tangerang, serta tangkap semua preman dan pecat oknum kepolisian yang membekingi atau terlibat dalam dugaan perampasan lahan rakyat.
Dedi Budiawan selaku Kesbangpolinmas yang langsung menerima berkas dari FPI berjanji akan langsung menyampaikan permasalahan tanah ini langsung kepada walikota Tangsel. “Kami berjanji akan langsung menyerahkan berkas ini kepada walikota,” ujarnya singkat. (pramita/ jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.