Dua Polsek Dibakar, Polisi Tidak Profesional

JAKARTA,SNOL Pembakaran dua kantor Polisi Sektor (Polsek) di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, sangat memprihatinkan karena terjadi beberapa jam setelah Polri merayakan hari ulang tahunnya yang ke 67. 
“Peristiwa ini makin menunjukkan secara nyata betapa makin memburuknya hubungan polisi dengan masyarakat,” ujar Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (3/7).
Neta mengatakan peristiwa pembakaran ini menunjukkan betapa tidak profesionalnya polisi. Amuk massa hingga berujung pembakaran dua kantor Polsek di Kecamatan Muara Rupit dan Rawas Ulu kemarin sore dipicu tewasnya seorang warga Desa Karang Anyar yang diduga tertembak polisi setelah memburu salah seorang perampok. Sementara setelah terjadi salah tembak, kata dia, Kapolsek, Kapolres, dan Kapolda seharusnya minta maaf dan berjanji menindak anggotanya agar tidak terjadi amuk massa.
“Tapi kenapa hal itu tidak dilakukan. Kenapa pimpinan kepolisian di daerah itu tidak tanggap. Padahal Musirawas tergolong sebagai daerah rawan konflik polisi dengan masyarakat,” keluh dia.
Neta mengungkap, sebelumnya, pada 30 April 2013 Polsek Rupit dan Polsek Karang Dapo, Musirawas, serta dua kendaraan polisi juga dibakar massa. Amuk massa berkaitan dengan pemekaran daerah. Ribuan massa memblokir Jalan Lintas Sumatera dan menyerang polisi serta membakar polsek. Akibat amuk massa ini empat warga tewas dan empat luka serta lima polisi luka.
“Berkaitan dengan adanya peristiwa-peristiwa ini, sudah saatnya Polri mengevaluasi dan mencopot Kapolsek dan Kapolres setempat, dan hadirkan pimpinan kepolisian yang peka, peduli serta tanggap di daerah tugasnya,” demikian Neta.
Sementara itu versi yang diutarakan Kepala Bagian Penerangan Satuan Polri, Kombes Rana S Permana, pembakaran Polsek akibat tertembaknya pelaku pencurian dengan kekerasan atas nama Herlika bin Hasan.
“Saat penangkapan, tim gabungan Polres dan Polsek mendapat perlawanan dari pelaku,” ujarnya di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/7).
Menurut dia, pelaku adalah residivis. Ketika awal penangkapan, aparat masih memberi peringatan. Namun, karena masih melawan dengan tembakan senjata rakitan, Heri pun dibalas tembak yang mengenai lengan dan jantung.
“Pagi ini Kapolda Sumsel tinjau TKP, dan lihat korban yang meninggal. Tim kesehatan polisi lakukan otopsi pelaku. Tim penyidik Polda Sumsel lakukan olah TKP kasus pembakaran dua Polsek itu,” jelasnya.
Untuk antisipasi gangguan keamanan lanjutan, sudah dikirimkan 1 SSK dari Polda Sumsel, 2 SSK Brimob Polda Sumsel, dan tim kesehatan ke lokasi. Selain membakar dua kantor Polsek, massa sempat menutup Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang mengakibatkan arus lalu lintas lumpuh hingga Rabu dini hari.
“Situasi kondusif. Jalinsum sempat tertutup, tapi sekarang sudah bisa dilalui dengan negosiasi oleh Polri dan TNI dan Pemda,” terangnya.
Kerugian materil yang dialami akibat kericuhan itu antara lain satu kantor Polsek Sementara Rupit, gedung kantor pajak, satu kantor Mapolsek Rawas Ulu, dan satu rumah dinas Polsek Rawas Ulu.(ald/rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.