Amerika Galau Sikapi Kudeta Mesir

WASHINGTON,SNOL Pemerintah Amerika Serikat (AS) dihadapkan dengan pertanyaan sulit terkait pergolakan politik di Mesir.
Presiden Obama dan jajarannya harus segera menentukan apakah aksi penggulingan Mohammed Mursi oleh militer Mesir dapat dianggap aksi kudeta atau tidak.
Pertanyaan ini menjadi penting karena AS melarang pemberian bantuan kepada pemerintah asing hasil kudeta terhadap pemimpin yang terpilih secara demokratis. Sementara di sisi lain, Mesir selama ini merupakan salah satu sekutu terkuat bagi negeri Paman Sam di wilayah jazirah Arab.
Setiap tahunnya, AS memberikan bantuan sebesar USD 1,5 milliar kepada pemerintah Mesir. Sebagian besar bantuan masuk ke kantong angkatan bersenjata yang memang memegang peran penting, mengingat Mesir berbatasan langsung dengan wilayah-wilayah konflik seperti Israel, Palestina, Liberia dan Sudan.
Kegalauan pemerintah AS tercermin dari pernyataan Presiden Obama yang mengaku sangat prihatin dengan aksi militer Mesir. Namun, ia tidak menyebutnya sebagai suatu kudeta ataupun meminta agar Mursi dikembalikan ke kursinya.
Pengamat politik Mesir dari Institut Kebijakan Timur Tengah Washington, Eric Trager menilai Obama seharusnya tidak perlu bingung. Pasalnya, apa yang terjadi di Mesir memperlihatkan bahwa rakyat Mesir tidak menginginkan Mursi sebagai pemimpin mereka.
“Walau caranya tidak demokratis tapi ini memang bukan tentang demokrasi, tapi lebih kepada kesalahan Mursi dalam menjalankan pemerintahan dan ancaman runtuhnya negara Mesir,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (4/7).
Lengsernya Mursi, lanjut Trager, adalah sesuatu yang akan terjadi cepat atau lambat. Karena itu AS harus mengakui dan terus memberikan dukungan serta bantuan kepada pemerintah yang baru.
Sementara itu para legislator AS baik dari Partai Republik maupun Partai Demokrat menyambut baik penggulingan Mursi. Mereka menilai hal ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan demokrasi Mesir.
Pihak legislatif juga berharap hubungan baik AS dengan militer Mesir dapat tetap terjaga di masa yang akan datang. Pemerintah juga diingatkan bahwa penghentian bantuan bagi militer Mesir akan berdampak buruk terhadap kepentingan AS di Timur Tengah.
“Militer Mesir telah lama menjadi sekutu penting AS dan stabilisator di wilayah itu dan mungkin satu-satunya institusi yang dapat kita percaya di Mesir,” ujar legislator asal Partai Republik, Eric Cantor. (dil/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.