Djoko Susilo dan Istri Nyamar Beli Rumah di Yogya

JAKARTA,SNOL Fakta baru terungkap dalam persidangan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil korupsi pengadaan Simulator SIM di Korlantas, Mabes Polri, dengan terdakwa mantan Kepala Korlantas Irjen Djoko Susilo.
Adalah saksi Saroyini Wuran yang menguatkan dakwaan Jaksa KPK bahwa Irjen Djoko Susilo telah membeli sebuah rumah di Jalan Langenastran Kidul nomor 7 RT 6/2 Keraton Panembahan, Yogyakarta, atas nama anaknya Poppy Femialya.
Saroyini Wuryan Rahayu selaku pemilik rumah mengaku, ketika membeli rumah itu Djoko Susilo dan istri pertamanya Suratmi, mengaku bekerja sebagai distributor dalam bidang komunikasi.
“Waktu itu diakui pekerjaannya jika tidak salah distributor Telkomsel atau Indosat,” kata Saroyini ketika bersaksi untuk terdakwa Djoko Susilo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (5/7).
Saroyini mengaku pernah bertemu Poppy ketika menandatangani akta jual beli dan mendapat bayaran Rp 2 miliar atas menjual rumah seluas 287 meter persegi tersebut. Sementara, di akta jual beli harga yang tercantum Rp 500 juta. Saroyini juga mengaku bertemu langsung dengan terdakwa Djoko Susilo dan istrinya ketika menawar rumah.
Djoko Susilo didakwa melakukan tindak pidana korupsi dalam pelaksanaan pengadaan driving simulator uji pengemudi roda dua dan roda empat tahun anggaran 2011 di Korlantas Mabes Polri. Tindakannya merugikan keuangan negara mencapai Rp 144 miliar.
Dalam surat dakwaan yang dibacakan JPU dari KPK dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa 23 Apri, Djoko selaku Kakorlantas Polri diduga melakukan tindak pidana pencucian uang, dengan menyembunyikan harta yang jumlahnya jauh dari total penghasilan sebagai anggota Kepolisian dan dari usahanya.
Menurut jaksa, selama tahun 2003 sampai 2012, Djoko diduga memiliki harta lebih dari Rp 100 miliar yang disembunyikan dengan mengatasnamakan istri dan anaknya.
“Tercatat bahwa seluruh harta terdakwa Djoko yang diperoleh sejak tahun 2003 sampai Maret 2010 Rp 53.894.480.929 dan 60.000 dolar Amerika diduga sebagai hasil tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan tugas dan jabatan,” kata Jaksa.
Sedangkan, Kekayaan yang diperoleh sejak tanggal 22 Oktober 2010 sampai tahun 2012 Rp 42.965.516.000. Harta yang dialihkan dengan menjual aset tahun 2012 Rp 15.009.904.000. Harta tersebut diduga hasil tindak pidana korupsi juga.
Dalam dakwaan tim JPU KPK, Mantan Gubernur Akpol Semarang itu, terungkap diduga menyamarkan harta hasil tindak pidana korupsi yang mengatasnamakan anaknya Poppy Femialya.
Pada 11 Maret 2010, terdakwa menggunakan nama Poppy Femialya membeli dua bidang tanah terdiri dari, sebidang tanah seluas 287 meter persegi dengan sertifikat hak milik nomor: 01239/Panembahan yang terletak di Kelurahan Panembahan Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta atau dikenal dengan nama Jalan Langenastran Kidul No 7 RT 6/2 Keraton Panembahan Yogyakarata. Dibeli dari Slamet Wiryodihardjo Salib dan Saroyini Wuryan Rahayu Salib dengan harga Rp300 juta.
Kedua, sebidang tanah seluas 286 meter persegi yang tercantum dalam akta jual beli seharga Rp 250 juta. Padahal, untuk dua sertifikat tanah tersebut dibayarkan seharga Rp 2 miliar.
Beli SPBU Pakai Nama Mertua
Irjen Djoko Susilo juga diketahui membeli Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 414404, di Kapuk Raya, Jakarta Utara seharga Rp 1,25 miliar. SPBU itu dibeli atas nama Djoko Waskito, ayah Dipta Anindita pada Oktober 2010.
Begitu dikatakan Soekirno saat memberikan kesaksian untuk terdakwa Djoko Susilo. Soekirno merupakan bekas pemilik SPBU tersebut. “Total yang saya terima Rp 1.250.000.000,” kata dia.
Dipta Anindita  merupakan istri ketiga Djoko Susilo.
Soekirno, melanjutkan keterangannya, menjelaskan, Djoko Susilo tidak membeli secara langsung. Melainkan, melalui perantara. Pada Oktober 2010 dirinya didatangi seorang bernama Eddy Budi Susanto untuk menanyakan ihwal SPBU yang mau dijual.
“Bahwa pada bulan Oktober 2010, itu datang seorang yang bernama Eddy Budi Susanto (Direktur PT Kestrelindo Aviatikara) ke rumah saya, untuk menanyai penjualan SPBU kami ini,” ujar Soekirno.
Saat itu, dia diberitahu bahwa Eddy adalah seorang yang mewakili pembeli. “Beliau (Eddy) mengatakan, saya mewakili pembeli,” kata Soekirno menirukan Eddy.
Meski sudah mendesak, Soekirno tetap tak dapat jawaban siapa nama pembelinya. Eddy, kata Soekirno, hanya senyam-senyum. “Dan setelah transaksi selesai, baru diketahui pembelinya itu adalah bapak Djoko Waskito. Itu saya ketahui setelah akta jual belinya diberikan kepada saya,” ungkapnya.
Saat itu, kata Soekirno, tawar menawar harga disepakati Rp 11.250.000.000. Beberapa hari kemudian, Eddy mendatanginya lagi dan menyatakan minta harga dinaikkan. Saat itu, Soekirno mengaku heran mengapa harga tersebut harus dinaikkan.
“Saya mau minta komisi, jasa perantara,” ucap Eddy seperti ditirukan Soekirno.
Merasa tak dirugikan, akhirnya Soekirno menyanggupi menaikkan harga menjadi Rp 1,5 miliar. “Yang Rp 250 juta dikembalikan ke Eddy Budi Susanto,” imbuhnya.
Pada kesempatan ini, Soekirno mengaku kenal dengan Notaris Erick Maliangkay. Akta Jual Beli, kata Soekirno, diurus oleh Erick. “Kenal pada saat melakukan transaksi jual beli SPBU 3414404. Saya tidak tahu dibuat dimana, tapi ditandatangani di rumah saya, 22 Oktober 2010,” tandasnya.(ald/zul/rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.