Sebulan Buron, Dokter Aborsi Dibekuk

SERANG, SNOL Tim Penyidik dari Satuan Reserse Kriminal Polres Serang berhasil menangkap Dokter berinisial DR (sebelumnya diberitakan sebagai RW, red).
DR adalah tersangka kasus praktek aborsi di Klinik Mulya Medika (KMM) II di Bumi Ciruas Permai (BCP), Desa Ranjeng, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, beberapa waktu lalu.
Tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) selama kurang lebih satu bulan itu ditangkap di tempat persembunyianya di sebuah perkampungan di Kota Serang, Senin (1/7) lalu.
“Kami sempat kesulitan lantaran DR sempat bersembunyi di Jakarta sehingga tidak terdeteksi keberadaannya,” kata Kapolres Serang AKBP Yudi Hermawan saat ditemui sejumlah wartawan, kemarin.
Dari data riwayat hidup diperoleh dari seorang sumber di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Serang, DR ternyata merupakan mantan anggota polisi dengan pangkat terakhir Komisaris Polisi dan bertugas sebagai staf di Mabes Polri.
DR masuk ke Sepa Milsuk Polri pada tahun 1982 yang kemudian ditugaskan di Polda Irian Jaya selama 14 tahun dan memiliki beberapa jabatan yang diantaranya sebagai PA Kesehatan Polda Irian Jaya, Kasi Kerjas Polres Merauke, Kasubag Wat Pers Polres Merauke, Kanit Kasamapta Disdokkes Polda Irian Jaya dan terakhir menjabat sebagai Staff Ahli Mabes Polri. Tak hanya itu, DR juga pernah mengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Provinsi Banten.
Namun, hal itu dibantah Kapolres. Yudi menyebutkan, sebelumnya DR memang bercita-cita menjadi polisi, namun tidak terlaksana. “Kami tidak tahu secara pasti, namun yang jelas kalau dia pernah pengen jadi polisi itu benar,” kata Yudi.
Yudi mengungkapkan DR telah menyalahgunakan profesinya sebagai dokter untuk melakukan aborsi ilegal dengan membuka praktik klinik. “Motifnya jelas dia membuka praktik sama dengan dokter kandungan lainnya, namun dia menyalahgunakan. Tersangka mengakui lima janin terakhir yang kami temukan itu hasil aborsi dengan kurun waktu dua sampai tiga tahun dan tarifnya Rp5 juta,” jelasnya.
Yudi menjelaskan, sementara ini pengakuan tersangka dirinya melakukan aborsi sendiri tanpa bantuan para asisten maupun perawat. DR hanya menggunakan dua alat yaitu alat pemecah ketuban dan pembuka kelamin. “Dia melakukan itu sendiri,” ungkapnya.
Penyidik juga telah menetapkan status tersangka terhadap ND seorang ibu yang mengaborsi kandungnya. Namun ND saat ini belum ditahan. Polisi juga masih memburu pacar ND yang diduga memiliki peranan untuk melakukan aborsi pacarnya tersebut.
Atas tindakan dokter DR, polisi menerapkan pasal ancaman dengan Pasal 348 jo 349 KUHP dan pasal 149 UU nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara lebih dari 10 tahun.
Tersangka DR yang ditemui di ruang penyidikan membantah telah melakukan aborsi. Dia hanya mengaku melakukan induksi, yakni mengeluarkan janin yang sudah mati di dalam perut korban.
“Yang saya lakukan adalah induksi, yakni mengeluarkan janin yang sudah mati dari rahim, kalau tidak dikeluarkan bisa membusuk. Jadi saya hanya menyelamatkan ibunya,” kata tersangka kepada wartawan di hadapan penyidik.
Dia juga mengaku bukan sebagai dokter spesialis kandungan, melainkan dokter umum. “Dulu saya pernah ikut jadi asisten dokter kandungan. Saya buka praktik kurang lebih sudah 16 tahun,” katanya.
Dia mengungkapkan, proses mengeluarkan janin itu mulanya dengan cara memberikan obat induksi kepada pasiennya. Kemudian memasukkan alat pemecah ketuban dan alat pembuka kelamin.
“Proses itu kurang lebih selama 15 menit. Kemudian keluarnya janin sekitar lima menit kemudian. Sang ibu dalam keadaan sadar, tapi lemah,” jelasnya seraya mengatakan dirinya memasang tarif bervariasi.
Sebelumnya Polsek Ciruas, membongkar praktek aborsi di sebuah klinik yang terletak di Bumi Ciruas Permai, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (4/6). Empat orang yang diduga kuat terlibat diamankan. (bagas/ ned/enk/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.