Yayasan Dompleng Nama Mushola, Kasus Bansos Banten

TIGARAKSA, SNOL  Yayasan Al Muqarobah di Kampung Sodong RT 04/01 Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang diduga fiktif.
Keberadaan sekretariat yayasan yang tersandung kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Pemprov Banten dari APBD tahun 2012 sebesar Rp 500 juta tersebut hingga kini tidak jelas dan tidak diketahui pasti oleh warga.
Penelusuran Satelit News kemarin (8/7), yayasan tersebut berada di tengah perkampungan di Desa Sodong yang cukup jauh dari Kantor Desa Sodong dan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang. Namun sekretariat Yayasan Al Muqarobah tidak jelas dimana, yang ada hanya mushola bernama Al Muqarobah.
“Kami sudah dengar soal kasus dugaan korupsi Rp 500 juta yang mengatasnamakan Yayasan Al Muqarobah di desa kami. Sempat didemo sama lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga dulu. Uang bantuan yang diterima tidak tahu dikemanakan, itu yayasan tidak jelas dan diduga fiktif,” kata warga yang enggan disebutkan namanya saat ditemui Satelit News di Kantor Desa Sodong, Senin (8/7).
Warga menyebut nama Iom Romdoni sebagai ketua Yayasan Al Muqarobah. Warga sendiri tidak tahu persis bagaimana dana tersebut bisa diterima oleh yayasan. Seharusnya dana tersebut dipergunakan untuk bantuan sarana pendidikan dan keagamaan.
“Nah, realisasinya kami belum melihat itu, makanya warga menilai ini fiktif. Kasusnya juga sedang diusut kejaksaan,” timpalnya.
Saat disambangi Satelit News di Kampung Sodong, tidak ditemukan Sekretariat Yayasan Al Muqarobah. Syahrudin alias Udin adik ipar Iom Romdoni mengaku tidak ada sekretariat Yayasan Al Muqar-obah.
“Yayasan Al Muqarobah itu pondasi awal pembangunan mushola Al Muqarobah di kampung kami. Makanya namanya mushola Al Muqarobah,” kata Udin sambil menunjuk ke mushola yang ada persis di depan rumahnya.
Udin mengaku tidak tahu menahu soal aktifitas yayasan yang dipimpin kakak iparnya itu. Setahu dia, yayasan tersebut sudah mengelola mushola Al Muqarobah dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Ditanya apakah pembangunan mushola dan PAUD tersebut berasal dari dana bantuan sosial Biro Kesra Provinsi Banten tahun 2012, Udin langsung membantahnya.
“Bangunan Mushola Al Muqarobah ini sudah lama sekali, puluhan tahun, kalaupun ada rehab kecil itu dari swadaya masyarakat di sini. Begitu juga dengan PAUD yang juga sudah tahunan keberadaannya, bukan baru-baru ini, cuma namanya bukan Al Muqarobah. Soal adanya dana Bansos saya belum dengar, apalagi sampai nilainya Rp 500 juta,” terangnya.
Apakah aktifitas rapat yayasan dilakukan di mushola? Udin mengaku tidak pernah melihat pengurus yayasan mengadakan rapat di mushola. Bahkan Udin juga tidak mengetahui dimana kantor sekretariatnya.
“Saya tidak tahu dimana sekretariatnya, kalau ketuanya memang kakak ipar saya Iom Romdoni. Cuma pengurusnya saya tidak tahu siapa saja,” tutupnya.
Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Tigarakasa, Ricky Tommy Haseholan mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan terhadap kasus dugaan korupsi dana Bansos sebesar Rp 500 juta.
“Masih dalam pemeriksaan, sejauh ini belum ada perkembangan atau tersangka baru. Nanti akan kami sampaikan jika ada perkembangan,” tandasnya saat dihubungi Satelit News, kemarin.
Sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tigaraksa telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus tersebut, yakni pengurus yayasan setempat. Selain itu, Kejari juga sudah memeriksa 11 orang pejabat dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Banten. (aditya/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.