Buku Kurikulum Baru Muncul Indikasi Plagiat

Tidak Mencantumkan Sumber Gambar
JAKARTA,SNOL Pengadaan buku kurikulum 2013 memang benar-benar sarat masalah. Padahal jumlah sekolah yang menjalankan kurikulum anyar ini hanya 2 persen dari seluruh populasi sekolah di Indonesia. Kasus terbaru muncul kabar indikasi plagiat dalam buku kurikulum baru.
Laporan dugaan pembajakan ini muncul dari Jogjakarta. Laporan yang diterima Koran ini menyebutkan bahwa dugaan plagiat muncul di buku paket kurikulum 2013 untuk siswa kelas 1 SMP mata pelajaran Bahasa Inggris. Dalam buku tersebut, ada gambar ilustrasi yang tidak menyebutkan sumber awal kutipannya.
Rinciannya, dugaan plagiat ini ada di buku paket bahasa Inggris kelas 1 SMP keluaran Kemendikbud di halaman 99 dan 155 sama dengan buku cerita kelas 6 SD tadi di halaman 6 dan 24 (gambar tikus). Lalu di buku paket kelas 1 SMP keluaran kemendikbud di halaman 174 sama dengan di buku cerita halaman 23 (gambar singa).
Masyarakat yang melapor ini mengatakan, gambar yang ada di buku paket SMP tadi persis dengan buku cerita kelas 6 SD berjudul A Story of The Lion and The Mouse terbitan Pustaka Daffa. “Padahal semangat kurikulum 2013 ini adalah melawan plagiarisme,” katanya.
Sumber Jawa Pos itu menyebutkan kasus pelaporan ini muncul dari seorang guru SMP yang kebetulan sekolahnya menjadi sasaran kurikulum 2013. Nah, seorang guru itu mendapat keluhan dari anaknya yang duduk di bangku kelas 6 SD.
“Si anak itu bilang, lho kok gambarnya sama dengan buku saya (yang terbit lebih dulu, red),” ujar dia. Nah ketika dicek, gambar di buku terbitan Kemendikbud tadi tidak menyertakan sumber kutipan gambar.
“Dalam budaya akademik, karya yang keluar belakangan itu wajib mencantumkan kutipan dari mana dia merujuk suatu naskah atau gambar,” ujarnya. Dia berharap Kemendikbud segera menyikapi dugaan plagiat ini, supaya semangat kurikulum 2013 yang menekankan pembentukan karakter tetap terjaga.
Untuk klarifikasi, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Kapuskurbuk) Ramon Mohandas tidak bisa dihubungi. Lalu Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemendikbud Ibnu Hamad mengatakan, dirinya belum mengecek dan membandingkan secara rinci dua buku ini.
“Tapi intinya kami mengapresiasi terhadap perhatian atau atensi dari masyarakat,” kata dia.
Apakah Kemendikbud akan menarik buku ini untuk diperbaiki? Guru besar ilmu komunikasi Universitas Indonesia (UI) itu belum bisa berkomentar. Dia masih ingin memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau tidak, dalam kasus ini. Meskipun begitu, Ibnu mengatakan idealnya dalam dunia akademis pengutipan gambar atau tulisan wajib mencantumkan asal sumbernya. (wan/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.