Kepala Dinas Koperasi Tangsel akan Ajukan Penangguhan

SERPONG, SNOL Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangsel Nurdin Marzuki, tersangka dugaan korupsi pengadaan alat uji KIR Tangsel senilai Rp 3,4 miliar tahun 2010, akan mengajukan penangguhan penahanan.
Hal ini diungkapkan pengacara tersangka yang siap mengajukan surat penangguhan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Tigaraksa. Syaiful Hidayat dari LBH Matahati mengatakan pihaknya sudah mengusulkan ke pihak keluarga agar mengajukan permohonan penangguhan ke Kejari.
“Masalah nanti apakah akan disetujui tergantung dari Kejari,” ungkap Syaiful yang mengaku ditunjuk Nurdin Marzuki sebagai pengacaranya sejak awal Juli.
Saat ini belum ada perkembangan lebih lanjut terkait kasus ini. Namun Syaiful merasa ada ketimpangan dalam kasus ini. “Ini kan masalah pengadaan barang dan jasa, seharusnya yang berhak bertanggungjawab PPTK-nya, kenapa langsung kepala dinas,” tanyanya.
Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, masalah yang menimpa Nurdin Marzuki diharapkan berjalan sesuai prosedur hukum. “Yang sabar, ini merupakan musibah untuk pak Nurdin,” katanya.
Benyamin mengaku sudah melakukan komunikasi dengan keluarga melalui bagian hukum Pemkot Tangsel, “Jika keluarga menginginkan dan meminta penangguhan penahanan akan dibantu,” ungkapnya.
Ditanya apakah Pemkot akan segera menunjuk pejabat pelaksana (Plt) untuk mengisi kekosongan jabatan Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Benyamin mengatakan belum perlu dilakukan penunjukan Plt.
“Kita akan memaksimalkan Sekdis untuk mengakomodir pekerjaan yang ada di Dinas Koperasi dan UKM,” jelasnya.
Kantor Dinas Koperasi dan UKM terlihat seperti biasa, aktivitas berjalan seperti hari-hari biasanya. “Kita memang belum bisa berkomunikasi dengan bapak kadis (Nurdin-red), namun kita sudah melakukan komunikasi dengan keluarga, istri bapak sedih mendengar kejadian ini,” ungkap Kepala Bidang Koperasi Nurhayati.
Kasi Pidsus Kejari Tigaraksa, Ricky Tommy mengatakan, kasus Nurdin Marzuki diperkirakan merugikan negara hingga ratusan juta. “Angka pastinya belum bisa saya sebutkan karena masih dalam proses penyidikan,” kata Ricky Tommy.
Dalam kasus ini sudah 20 orang yang diperiksa. “Kami lihat dulu alat buktinya, kalau memang ada pihak atau elemen lainnya yang terkait kasus ini ya ditindaklanjuti. Sebab masih kami dalami terus,” papar Ricky.
Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas 1 Tangerang di Jambe, Budi Hardiono menyatakan Nurdin ditempatkan di blok A11 dan Antonius ditempatkan di Blok A12.
Rutan Kelas 1 Tangerang di Jambe baru pertama kali menerima tahanan kasus dugaan tindak pidana korupsi. “Semua tahanan di Rutan ini diperlakukan sama, bahkan Nurdin dan Antonius ditempatkan di rutan yang sama dengan tahanan kasus lainnya,” tandas Budi.
Nurdin Marzuki tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan alat uji KIR Tangsel senilai Rp3,4 miliar. Penahanan Nurdin dilakukan bersamaan dengan bos PT Mayindo, Antonius Hutauruk selaku pelaksana proyek pengadaan KIR yang dibiayai Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel melalui APBD pada 2010 lalu. (aditya/irm/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.