Raja Solo Terkurung 12 Jam

SOLO,SNOL Konflik di Keraton Kasunanan Surakarta kembali memanas. Rekonsiliasi dwitunggal seolah tidak mempan untuk melunakkan kerasnya kepentingan dua kubu di internal keraton.
Acara halalbihalal sekaligus pengukuhan KGPH Panembahan Agung (PA) Tedjowulan sebagai mahamenteri keraton pada Senin (26/8) justru berujung pengusiran. Malam harinya pintu Sasana Putra didobrak dengan menggunakan mobil jip oleh warga Baluwarti lantaran ingin mengetahui kondisi Sinuhun (Paku Buwono/PB XIII Hangabehi) yang dikabarkan terkurung selama 12 jam.
Jawa Pos Radar Solo melaporkan, Raja Solo PB XIII Hangabehi mengaku sempat terkurung di dalam keraton. Dalam situasi itu dia kesulitan untuk mendapatkan makanan karena semua akses keluar tertutup rapat. “Tadi malam saya sempat terkurung selama 12 jam. Karena penuh tekanan, kesehatan saya kemudian menjadi drop,” ungkapnya di Sasana Putra kemarin (27/8)..
Hangabehi menceritakan, selain terkurung, dirinya mendapatkan kekerasan secara psikis. Sebab, pada saat itu sejumlah orang terlihat membawa senjata tajam. Bukan hanya itu, menurut Sinuhun, sejumlah abdi dalem juga mengalami kekerasan secara fisik. Atas kondisi tersebut, Sinuhun memerintah mendobrak pintu Sasana Putra. Hal itu dilakukan lantaran dia merasa terancam.
“Yang disayangkan itu kenapa abdi dalem juga mendapatkan kekerasan secara fisik. Beberapa dari abdi dalam ada yang dipukuli,” ungkap Sinuhun.
Acara halalbihalal, menurut Hangabehi, dimaksudkan untuk bertemu dengan semua adiknya. Namun, hal itu tidak berjalan lancar. Justru terjadi pembubaran dan pengusiran terhadap para tamu. “Saya itu pengin ketemu dengan adik-adik semuanya, kemudian sungkeman. Lha kok malah ada penyerangan seperti ini,” keluhnya.
Di tempat yang sama KGPH PA Tedjowulan mengatakan, acara halalbihalal bertujuan untuk membawa keraton lebih baik. Namun, sambung dia, hal tersebut justru dimaknai lain. “Sebenarnya tujuan awalnya itu agar semua hubungan terjalin baik. Ada sungkeman dari adik-adik. Lha kok malah kejadiannya seperti ini. Kami terus terang menyesalkan,” ucap Tedjowulan.
Sementara itu, Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton KP Eddy Wirabhumi membantah perihal penyanderaan Sinuhun oleh dewan adat. Menurut dia, hal tersebut merupakan rekayasa. Bahkan, dia menduga penyanderaan dilakukan kubu Sinuhun dan Tedjowulan sendiri. “Kami tekankan bahwa di peristiwa tadi malam itu tidak ada penyanderaan,” tegas Eddy.
Mengenai akses pintu ke ruangan Sinuhun yang dirantai, Eddy mengaku tidak mengetahui sepenuhnya. Dia kembali menduga kubu Tedjowulan yang membawa kunci rantai akses menuju ruangan Sinuhun. “Malam kemarin, saat kami akan masuk ke dalam ruangan PB XIII, justru tidak bisa. Ini karena akses masuk ke dalam ruangan itu dikunci dan dirantai,” katanya. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.