Rugi, Pedagang Tahu Tempe Pasrah

Tiga Hari Masih Hilang di Pasaran
TANGERANG, SNOL Tiga hari pasca aksi mogok produksi, tahu tempe masih sulit ditemukan di sejumlah pasar di Tangerang. Bahkan akibat pengrajin mogok produksi ini, sejumlah pedagang eceran makanan khas In­donesia itu mengalami kerugian hingga jutaan rupiah karena tidak ada barang yang dijual.
Hantono misalnya, pedagang tempe di Pasar Anyar, Kota Tangerang ini mengaku jika selama tiga hari dirinya terpaksa tidak bisa berjualan akibat tidak adanya pasokan dari pengrajin. “Barangnya gak ada, mau jualan apa? Rugi sudah pasti lah,” ujar Har­tono saat ditemui Satelit News, Rabu (11/9).
Dikatakan Hartono, dalam sehari dirinya bisa menjual hingga 50 buah tempe dan 2 keranjang tahu basah dengan nilai omset berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. “Lumayan lah, sehari bisa dapet paling sedikit Rp 500 ribu. Cuma kalau sekarang, ya saya gak bisa jualan. Paling nongkrong aja di pasar,” pungkasnya.
Berbeda dengan Hartono, Abdul Kodir penjualan tempe yang biasa menjajakan barang dagangannya di Pasar Ciledug, Kota Tangerang mengaku masih mendapatkan pasokan dari se­jumlah produsen di kawasan Neglasari, meski dalam jumlah yang relatif sedikit. “Ada sih ba­rangnya, tapi sedikit banget. Pal­ing sehari cuma dibawain satu keranjang tahu, harganya mahal lagi. Bisa dua kali lipat dari bi­asanya,” terangnya.
Meski demikian, Abdul juga tak menampik jika dirinya sem­pat dihantui rasa takut akibat langkah yang diambilnya den­gan terus berjualan tahu. “Takut sih ada, karena kalau ketahuan bisa ribet urusannya. Makanya saya jualannya cuma dari siang sampe sore aja. Gak berani kalau dari pagi,” pungkasnya.
Bendahara Koperasi Berkah Amanah Sejahtera (KOPBAS) mewakili Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe (Gakopti) Kota Tangerang, Kasbari mengaku jika kerugian pasti dialami oleh para pengrajin karena aksi mogok ini. Akan tetapi mereka rela melaku­kannya demi mendesak pemer­intah agar segera menstabilkan harga kedelai yang saat ini sudah menyentuh angka Rp 9.700 per kilogramnya. “Jelas rugi, karena kita tidak ada pemasukan. Malah pengeluran yang banyak, untuk gaji karyawan,” katanya dengan nada penuh keluh kesah.
Kasbari mengatakan, dalam sehari industri rumahan pem­buatan tahu tempe di kali sifon Gondrong Kecamatan Cipondoh ini dapat memproduksi 80 kilo­gram tempe dan 220 kilogram tahu. “Kerugiannya hampir Rp 10 juta. Dalam sehari bisa dapat omset Rp 2,7 juta. Labanya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu,” terangnya.
Meski tidak memproduksi selama tiga hari, tetapi Kasbari harus tetap membayar biaya kes­eharian para karyawannya yang berjumlah enam orang. “Kary­awan tetap harus diberi upah. Karena kan gajiannya memang tiap bulan. Gak bisa dipotong karena 3 hari mogok,” tukasnya.
Saat masih melakukan produksi, Kasbari menjual tempe dengan harga Rp 5 ribu per potongnya, sedangkan tahu ia jual seharga Rp 500 per buah. Dan untuk menutup biaya operasi pihaknya terpaksa menjual makanan olahan seperti otak-otak, bakso, sosis dan nugget. “Ini sudah menjadi komitmen kami sebagai pengrajin tempe. Langkah apa pun akan kami tempuh untuk bisa menstabilkan harga kedelai, walaupun harus merugi atau bah­kan alih profesi,” tukasnya.
Namun, saat disinggung soal langkah yang akan ditem­puh pasca mogok produksi ini pihaknya mengaku masih akan berkoordinasi dengan Gakopti Pusat. “Katanya sih Menteri Per­dagangan sudah berhasil menu­runkan harga Kedelai. Ya kita lihat lah besok (hari ini). Kalau masih tinggi mungkin kita akan melakukan aksi yang lebih dah­syat lagi,” tegasnya.
Kelangkaan tahu tempe juga masih terjadi di sejumlah pasar di Kota Tangerang Selatan (Tang­sel). Seperti yang terpantau di Pasar Modern Bintaro, Pondok Aren, Rabu (11/9).
Di pasar tersebut pada blok khusus penjual tahu tempe, berganti menjadi lapak bumbu- bumbu dapur. Yang tersisa han­ya bungkus daun pisang untuk membungkus tahu tempe terse­but. “Ini para pedagang tempe tahunya masih pada mogok. Be­lum ada yang ke pasar. Besok (hari ini) baru berjualan lagi,” ujar Syaiful, penjual beras dekat dengan blok tersebut.
Terpisah, Pengamat Eknomi dari Universitas Negeri Tirtayasa (Untirta) Serang, Dahnil Anzar mengatakan, aksi mogok para pengrajin tahu tempe disebab­kan pemerintah belum mampu menstabilkan harga kedelai. Se­lain labilnya pasokan juga aki­bat adanya permainan sejumlah pihak yang menguasai kedelai.
“Persoalan ini bukan semata tingginya harga kedelai yang ber­dampak pada suplai yang terba­tas, tetapi ada masalah kartel per­dagangan kedelai yang dikuasai oleh beberapa pihak, sama dengan kasus kartel pangan lainnya sep­erti daging sapi,” ujar Dahnil An­zar saat dihubungi, Rabu (11/9). (kiki/pramita/bagas/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.