Teroris Bertahan di Kasino

Ada Jasad Teroris Perempuan
NAIROBI,SNOL Setelah berlangsung empat hari, pasukan khusus Kenya menyatakan merebut sepenuhnya Mal Westgate, Nairobi, dari penguasaan teroris. Tadi malam (24/9) beberapa petugas penjinak bahan peledak menjinakkan sejumlah bom waktu yang dipasang kelompok militan di beberapa lokasi di dalam Westgate.
“Kami sedang membersihkan bahan peledak yang dipasang para teroris di dalam mal,” kata kepolisian Kenya melalui akun Twitter-nya kemarin sore.
Namun, bersamaan dengan keluarnya statemen kepolisian Kenya tersebut, tembakan gencar terdengar dari lantai atas mal.  Bersamaan dengan itu, sebuah tweet mengatasnamakan para anggota kelompok militan Al Shabaab mengatakan, mereka masih menahan sejumlah sandera dalam penyerangan Westgate.
“Para sandera yang ditahan para mujahidin di dalam Mal Westgate masih hidup. Terlihat tidak nyaman, namun setidaknya mereka masih hidup,” bunyi pernyataan Al Shabaab melalui akun Twitter-nya. Pernyataan Al Shabaab itu membantah pernyataan pemerintah Kenya yang yakin seluruh sandera sudah dibebaskan.
Sebetulnya, klaim menguasai mal dari kepolisian Kenya memang terlalu terburu-buru. Pasukan khusus Kenya mengakui masih harus menghadapi satu atau dua anggota militan yang bersembunyi di dalam mal. Pernyataan tersebut diperoleh dari seorang anggota pasukan keamanan yang ikut terlibat dalam operasi pembersihan di pusat perbelanjaan itu.
Sumber tersebut mengatakan, para penyerang kini terisolasi di dalam atau di sekitar sebuah kasino yang terletak di lantai paling atas kompleks perbelanjaan itu. Sejumlah saksi mata menyatakan masih mendengar suara tembakan secara sporadis dari dalam gedung mal dini hari tadi.
Sampai tadi malam jumlah korban tewas yang terlacak oleh Palang Merah Kenya masih 62 orang. Dari dua pihak yang berperang, tiga tentara Kenya gugur dan tiga teroris tewas. Sementara 175 orang menderita luka-luka. Korban tewas termasuk 6 warga Inggris, 2 perempuan Prancis, 2 orang Kanada yang salah satunya diplomat, 1 orang warga Tiongkok, 2 India, 1 Korea Selatan, 1 Afrika Selatan, dan 1 perempuan Belanda. Di antara korban tewas terdapat sastrawan Ghana dan mantan Duta Besar untuk PBB Kofi Awoonor, 78, sementara putranya terluka.
Warga Kenya memperlihatkan simpatinya terhadap para korban. Ratusan orang Kenya berbondong-bondong mendatangi rumah sakit untuk menyumbangkan darah. Mereka juga mengumpulkan lebih dari USD 400.000 untuk membantu keluarga korban
Saat pasukan khusus Kenya melumpuhkan para militan di dalam Mal Westgate, spekulasi soal perempuan Inggris yang terlibat dalam serangan maut itu terus merebak. Perempuan berjuluk Janda Putih tersebut diduga ikut tewas dalam aksi baku tembak dengan polisi Senin lalu (23/9). Namun, keabsahan laporan itu masih diragukan selama belum diperoleh bukti yang benar-benar kuat.
Perempuan bernama asli Samantha Lewthwaite, putri seorang pensiunan tentara Inggris dan janda pelaku bom bunuh diri di London, 7 Juli 2005, Lindsay Germaine. Menurut Daily Mail, informasi ini didapatkan dari tiga sumber, terdiri atas seorang agen intelijen dan dua tentara.
Menurut mereka, salah satu di antara tiga anggota kelompok Al Shabaab yang tewas adalah seorang perempuan. Lewthwaite memang telah lama menjadi anggota Al Shabaab dan terlibat dalam pengeboman di Mombasa tahun lalu.
Namun, hal itu masih diragukan. Kepolisian Kenya mengatakan, ada kemungkinan jenazah perempuan yang dikira sebagai Lewthwaite tersebut adalah salah seorang sandera juga. Namun, dia mengenakan baju salah seorang anggota teroris.
Pemerintah Kenya, lewat Menteri Luar Negeri (Menlu) Amina Mohamed, membenarkan adanya seorang perempuan Inggris di dalam kelompok penyerang mal itu. “Dia sudah melakukan hal ini beberapa kali,” kata Amina kepada stasiun televisi PBS.
Namun, pernyataan berbeda datang dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Kenya Joseph Ole Lenku yang membantah keberadaan seorang perempuan di antara kelompok militan tersebut. Joseph hanya mengatakan, sejumlah anggota penyerang memang mengenakan pakaian perempuan.
Pemerintah Inggris sendiri enggan terseret pernyataan Amina. Seorang juru bicara Kemenlu Inggris hanya mengatakan, pihaknya “mendengar” pernyataan Amina itu. “Kami terus berhubungan dengan pemerintah Kenya dan mendukung investigasi mereka terkait serangan ini,” kata juru bicara tersebut.
Harian terbitan Nairobi Daily Nation mengutip sejumlah sumber keamanan yang menyebut kelompok ekstremis di pesisir Kenya memanggil Samantha Lewthwaite dengan nama Dada Muzungu atau Saudari Putih dalam bahasa Swahili. Pada Januari 2012 Lewthwaite lolos dari penangkapan saat pasukan Kenya menyerbu beberapa vila yang diyakini menjadi tempat persembunyiannya.
Sementara itu, harian The Standard mengabarkan, polisi menerima ratusan telepon dari sejumlah orang yang menawarkan bukti-bukti keberadaan Si Janda Putih. Namun, sejauh ini belum ada satu pun orang yang mengaku pernah bertemu langsung dengan Lewthwaite alias Si Janda Putih. (AP/rtr/CNN/c9/kim/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.