Andi Ditahan, Anas Menanti

Huni Rutan KPK, Bawa Sekoper Buku
JAKARTA, SNOL Janji Ketua KPK Abraham Samad untuk menahan Andi Mallarangeng akhirnya ditepati. Mantan Menteri Olahraga itu kemarin sore (17/10) resmi menjadi penghuni rumah tahanan KPK. Andi mengaku siap menerima keputusan itu dan berharap kasusnya segera bisa disidangkan.
Sebelum ditahan, pria kelahiran Makassar itu kemarin memang diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik KPK. Andi yang datang sekitar pukul 10.00 bersama kuasa hukumnya mengaku sudah siap jika KPK memutuskan harus me­nahan dirinya. “Iya saya dipanggil sebagai ter­sangka. Kalau memang hari ini harus ditahan ya saya siap. Sudah ada koper di mobil saya,” ujar mantan Juru Bicara Presiden SBY itu.
Setelah diperiksa sekitar enam jam, akhirnya Andi keluar ge­dung KPK sekitar pukul 16.00. Dia keluar menggunakan rompi oranye tanda statusnya resmi se­bagai tahanan KPK. Pada sejum­lah wartawan yang telah menung­gu di pintu keluar gedung KPK, Andi berupaya masih tersenyum.
Dia pun mengaku menerima penahanannya. “Hari ini saya me­mulai penahanan sesuai ketentuan KPK. Saya harus menerima ini se­bagai proses untuk mempercepat penuntasan kasus ini,” paparnya. Dia berharap perkaranya itu bisa segera dibawa ke persidangan. “Saya berharap disidang seadil-adilnya sehingga tahu yang salah dan yang benar,” paparnya.
Andi sempat dibawa dengan mobil KPK menuju pintu tahanan yang hanya berjarak sekitar 50 me­ter. Tak lama kemudian sejumlah orang membawa koper dan masuk melalui pintu gerbang tahanan. Ada enam koper dan tas yang dibawa untuk bapak tiga anak itu.
Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan beberapa kali, peny­idik akhirnya memutuskan perlu menahan Andi Mallarangeng. Pe­nahanan Andi itu dilakukan untuk 20 hari pertama. “Yang bersang­kutan ditahan di Rutan Cipinang cabang KPK,” papar Johan.
Johan sendiri tidak menjelas­kan secara spesifik kenapa Andi baru ditahan hari ini. Menurut dia kewenangan penahanan ada pada penilaian subyektif dan obyektif penyidik. Yang pasti penahanan Andi dilakukan kar­ena KPK telah memperoleh alat bukti yang cukup.
Andi menghuni sel yang sebe­lumnya ditempati anak buahnya, Dedy Kusdinar (Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian Olahraga). Lantaran perkara yang membelit Andi dan Dedy Kusdinar sama, maka pena­hanan keduanya dipisahkan. Dedy saat ini dititipkan ke tahanan Pol­res Jakarta Selatan. “Di samping karena faktor perkara yang sama, tahanan kita juga sudah penuh. Saat ini ada 13 orang yang ditahan di Rutan KPK,” jelas Johan.
Johan mengatakan, dengan ditahannya Andi bukan berarti kasus Hambalang berhenti pada orang-orang yang kini telah di­jadikan tersangka saja. Seperti diketahui dalam perkara Ham­balang, KPK telah menetapkan empat tersangka.
Selain Andi dan Dedy Kusdinar, KPK juga menetapkan petinggi PT Adhi Karya (kontraktor proyek Hambalang) Teuku Bagus Mo­hammad Noor dan Anas Urbanin­grum (mantan Ketua Umum Par­tai Demokrat) sebagai tersangka. Namun kemungkinan besar Teuku Bagus dulu yang akan menyusul Andi dan Dedy Kusdinar ke pen­jara. Sedangkan Anas kemungki­nan sementara waktu masih bisa menghirup udara bebas.
Sebab kemungkinan KPK masih akan menelusuri keterlibatan pihak lain melalui Anas. Seperti diketahui dalam audit investigasi yang dikeluarkan BPK diketahui ada peran 30 anggota DPR dalam penganggaran dana proyek.
Selain itu diduga juga uang suap untuk proyek Hambalang tidak hanya mengalir ke Anas Urban­ingrum. Bahkan beberapa waktu lalu, terkait kasus Hambalang KPK juga menyita furniture dari rumah anggota DPR RI asal PDIP Olly Dondokambey di Minahasa.
KPK juga masih mendalami adanya dugaan aliran dana ke Anas yang kemudian digunakan dalam kongres Partai Demokrat. KPK juga kini masih melaku­kan penyelidikan baru yang pen­gadaan peralatan Hambalang. Di­duga hal itu juga menyeret Anas.
Sayangnya, Johan Budi sendiri kemarin mengaku belum mener­ima informasi terkait kapan para tersangka lain akan dipanggil dan dilanjutkan dengan penahanan. “Sampai hari ini saya belum men­erima informasi jadwal pemang­gilan tersangka lainnya,” ungkap Johan. Dia juga mengatakan sam­pai saat ini KPK juga belum men­erapkan tindak pidana pencucian uang untuk Andi Mallarangeng.
Adik Andi, Rizal Mallarangeng kemarin ikut datang ke KPK. Dia mengaku penahanan itu bisa diterima keluarga dengan besar hati dengan harapan kasusnya cepat selesai. “Saya sangat ingin tahu dakwaan dari KPK seperti apa. Saya pribadi berpandangan kali ini KPK salah menduga dan menahan orang yang tidak ber­salah,” ujarnya.
Dia mengaku selama ini telah mempelajari perkara ini dan tidak ada yang membuat Andi bisa dikatakan sebagai pihak yang salah. Terkait sangkaan Andi menerima sejumlah uang, menu­rut Rizal itu hanya pernyataan sepihak dari mantan Sekretaris Menpora, Wahid Muharam.
Lantas terkait sangkaan bahwa Andi menyalagunakan kewenan­gan, Rizal mengatakan itu hanya sebuah konsep bukan fakta hu­kum. “Faktanya perlu kita lihat bagaimana KPK membuktikan konsep menyalagunakan ke­wenangan itu,” paparnya.
Menurut dia, bisa saja dalam perkara ini yang terjadi malah kewenangan Andi disalahguna­kan oleh orang lain tanpa sep­engetahuannya. Namun apapun itu, Rizal mengaku keluarga menerima penahanan yang di­lakukan KPK terhadap Andi.
Pada Rizal, Andi mengaku pe­san buku karangan Dan Brown yang berjudul Inferno. “Malam ini saya berupaya belikan dan serahkan agar dia bisa baca di dalam sana,” ungkapnya. Andi memang telah mempersiapkan penahanannya dengan membawa sejumlah buku dalam koper.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie menyatakan lega me­nyikapi keputusan KPK yang akh­irnya menahan Andi Malarangeng. “Kalau dari sisi Demokrat, situasi ini membuktikan bahwa kami komit menjadikan hukum sebagai panglima,” kata Marzuki.
Dia menambahkan, kalau se­lama ini partainya telah berdarah-darah terkait kasus Hambalang. Bukan hanya karena sejumlah kader utamanya yang terseret, na­mun juga karena kasus yang mulai muncul sejak 2011 itu juga belum benar-benar tuntas hingga saat ini.
Terkait Andi misalnya, mantan seketaris Dewan Pembina itu sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak sekitar setahun yang lalu. Namun, yang bersangkutan baru mendapat kepastian ditahan kemarin.
“Bisa saja (Demokrat) in­tervensi, atas nama stabilitas. Dorong KPK supaya cepat, tapi tidak (kami) dilakukan,” tegas Marzuki. Demokrat, kata ketua DPR itu, tidak mau masuk ke ra­nah hukum. “Hukum harus tetap mandiri, meski kami berdarah-darah,” tambahnya.
Sebagai personal, Marzuki menyatakan kalau dirinya hanya bisa berharap dan berdoa agar mantan menpora itu diberikan ke­sabaran, keikhlasan, dan kekua­tan dalam menghadapi proses hukum. “Andi punya keyakinan tidak bersalah, mudah-mudahan keyakinan itu akan menjadi se­mangat dalam menegakkan ke­benaran dan keadilan,” katanya.
Disinggung soal korupsi yang marak di tanah air, Marzuki mengajak semua pihak tanpa terkecuali untuk melakukan re­fleksi diri masing-masing. Hal itu mengingat korupsi telah merambah semakin luas di hamir semua lapisan masyarakat. “Apa pun benderanya, levelnya, dari tukang parkir sampai pejabat tinggi terjangkit penyakit koru­psi. Ini PR kita bersama, bahwa ada yang salah di sumber daya manusia kita hari ini,” imbuh­nya. (gun/dyn/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.