Bareskrim Garap Bekas Istri Pejabat Bea Cukai

JAKARTA,SNOL Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri menjadwalkan pemeriksaan terhadap Widyawati.
Widyawati adalah bekas istri Kepala Sub Direktorat Ekspor Direktorat Jenderal Bea Cukai Heru Sulastyo tersangka dugaan suap dan pencucian terkait ekspor impor, Rabu (30/10).
Heru yang juga mantan Kasubdit Penindakan dan Penyidikan di Direktorat BC Tanjung Priok itu diduga menerima suap dari pengusaha Yusron Arif yang sudah dijadikan tersangka.
“Hari ini Widyawati diperiksa sebagai saksi,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Arief Sulistyanto, Rabu (30/10).
Polisi memeriksa Widyawati karena menduga turut menerima uang suap yang diterima Heru dari seorang pengusaha ekspor impor, Yusran Arif alias Yusron.
Menurut Arief, status Widyawati dalam kasus ini akan ditentukan penyidik setelah menjalani pemeriksaan. “Mudah-mudahan datang, karena dia punya bayi tujuh bulan,” ujarnya. (boy/jpnn)
Seperti diketahui, Sub Direktorat Money Laundering Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI menangkap dua tersangka kasus dugaan suap dan tindak pidana pencucian uang terkait masalah ekspor impor.
Kali ini yang dilibas adalah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Sulistiono (46) dan pengusaha Yusran Arif (47).  “Tadi pagi penangkapan kami lakukan terhadap dua orang tersangka,” tegas Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto di Bareskrim Polri kepada wartawan, Selasa (29/10) sore.
Heru ditangkap di rumahnya di Perumahan Victoria River Park, Serpong, Tangerang, Banten. Sedangkan Yusran diringkus di Jalan H Aselih, Ciganjur,  Jagakarsa, Jakarta Selatan.  YA diduga sebagai pemberi suap kepada HS.
YA merupakan pengusaha yang bergerak di bidang ekspor impor.  Awalnya ia mendirikan dua perusahaan. Kemudian,  mendirikan beberapa perusahaan lagi.  Perusahaan ini kemudian melakukan ekspor impor. Namun, belum setahun perusahaan ditutup. Berikutnya, mendirikan perusahaan lagi. “Ini dilakukan untuk menghindari audit Bea dan Cukai. Itu modusnya,” kata Arief.
Menurut Arief, ada beberapa cara dugaan suap yang dilakukan YA. Antara lain, memberi polis asuransi atas nama yang bersangkutan kemudian dicairkan sebelum jatuh tempo. Tak hanya itu, YA diduga juga melakukan transfer tunai. Bahkan, lanjutnya, ada juga pemberian mobil yang diberikan kepada kerabat HS.  “Dengan praktek ini sudah teridentifikasi terjadi tindak pidana suap,” tegas Arief.
Ditemukan pula transaksi atau pemberian uang yang dipindah-pindahkan. Diduga, kata dia, ini merupakan upaya untuk mengaburkan atau mengalihkan hasil kejahatan. “Ini merupakan TPPU. Saat ini kita sedang melakukan pemeriksaan intensif,” ujarnya.
Kasubdit Money Laundering Komisaris Besar Agung Setya mengatakan, YA sebagai Komisaris PT Tanjung Utama mengendalikan 11 perusahaan. Kemudian, kata dia, YA bekerjasama dengan BM yang melakukan kegiatan ekspor impor.
YA kemudian memerintahkan seseorang bernama AW untuk membuat rekening. “Tapi, AW tidak tahu rekening untuk apa,” tegas Setya di kesempatan itu.
Dalam kasus ini polisi sudah menyita mobil Ford Everest dan Nissan Terrano, satu unit Air Soft Gun, enam handphone, dokumen polis asuransi, buku tabungan, dokumen transaksi dan dokumen-dokumen perusahaan. Sebanyak 25 saksi sudah diperiksa. (boy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.