Tewas Dipukul Gelas, Makam Balita Dibongkar

Diduga Dianiaya Teman Main
LABUAN, SNOL Curiga atas kematian tidak wajar seorang bolita, Maman Rohman (4), warga Kampung Jaya Makmur, RT 04/06, Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Pan­deglang, dibongkar lagi, Kamis (31/10). Pem­bongkaran makam dilakukan untuk kebutu­han penyelidikan.
Anak dari pasangan Ijan (35) dan Wati (30) ini, sudah dimakamkan sejak 47 hari lalu. Ke­matian balita ini diduga akibat adanya penganiayaan, sehingga pihak ke­polisian membongkar makam atas izin pihak keluarganya.
Digalinya kembali makam Maman menjadi tontonan warga sekitar. Meski ban­yak warga yang berkerumun mencoba mendekati makam tersebut, namun pihak kepoli­sian bisa mengendalikannya. Penggalian makam itu, selain disaksikan pihak keluarga juga disaksikan Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat.
Kematian Maman diduga akibat dianiaya oleh salah seorang tetangganya sekitar 47 hari lalu atau pada bulan September 2013. Pelakunya diduga bocah di bawah umur yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD) berinisial Mh. Saat itu, pelaku sedang bermain ber­sama adiknya berinisial Rn.
Setelah peristiwa tersebut terjadi, Maman mengalami sakit dan sempat dibawa ke Puskesmas, namun harus dirujuk ke Rumah Sakit Pan­deglang. Lantaran orangtu­anya tidak mampu, akhirnya Maman kembali dibawa pu­lang. Satu hari di rumah, Ma­man menghembuskan nafas terakhirnya.
Keluarga alhamrhum Ma­man sempat mendatangi keluarga Mh, untuk me­musyawarahkan kejadian tersebut. Namun sampai men­inggalnya Maman, keluarga Mh tidak pernah mau minta maaf, bahkan sempat marah-marah. Akhirnya pihak ke­luarga almarhum melaporkan kejadian itu ke pihak yang berwajib.
Ketua RT 04, Ali membena­kan upaya musyawarah antara keluarga almarhum dan ke­luarga Mh sempat terjadi, na­mun tidak menemukan titik terang. “Tidak ada yang tahu persis kejadianya seperti apa, tapi semua memiliki praduga bahwa Maman dipukul saat main bersama adik Mh yakni Rn, yang juga seumuran den­gan almarhum Maman. Saat main, Rn nangis oleh Maman dan Rn ngadu ke Mh. Akh­irnya Mh diduga memukul korban (Maman,red),” kata Ali, Kamis (31/10).
Kepala Desa Kalanganyer, Ibnu Hajar mengaku prihatin dengan kejadian ini, namun ia juga tidak bisa berbuat ban­yak karena ini merupakan hak semua warga negara. Apalagi penggalian makam ini juga untuk keperluan penyelesaian kasus ini.
“Saya hanya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak berbuat atau mengambil tindakan sendiri ketika terjadi perselisihan di masyarakat. Apalagi soal anak kecil,” himbaunya.
Perwakilan dari keluarga korban, Cakra mengatakan, masalah itu awalnya tidak akan dilaporkan ke polisi jika keluarga Mh mau mem­inta maaf pada keluarganya atas kejadian ini. Terlebih, sebelumnya juga sempat ada musyawarah di tingkat RT dan Desa. Karena tersangka tetap tidak mau minta maaf, akh­irnya pihak keluarga memilih jalur hukum.
“Kami harap masalah ini bisa terungkap, dan kami mo­hon kepada kepolisian untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Soal pembong­karan makam memang kami izinkan,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Pan­deglang AKP Gatot Priyanto mengatakan, pembongkaran makam korban dilakukan guna mencari bukti untuk kebutuhan penyelidikan. Pihaknya belum bisa men­jelaskan hasilnya karena akan diperiksa terlebih dahulu.
“Ini bagian dari langkah penyelidikan, dan kami mem­butuhkan sejumlah barang bukti serta petunjuk lainnya. Barang bukti sementara yang kami simpan yaitu gelas, karena dari data yang ada di­duga korban dipukul gelas di bagian kepala belakang,” tan­dasnya. (mardiana/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.