14 Jam Yang Melelahkan

Kuli Bangunan SDN Rawabuntu 1 Kerja Dari Pagi Sampai Malam Setiap Hari
SERPONG,SNOL Batas waktu sudah mendesak. Belasan pekerja dibuat kalangkabut menyelesaikan proyek pembangunan Tambah Ruang Kelas (TRK) baru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rawabuntu 1 Kelurahan Rawabuntu Kecamatan Serpong.
Rasa lelah diabaikan. Keringat bercucuran tak dihiraukan. Setiap hari mereka bekerja lembur dari pukul 08.00 pagi hingga 22.00 Wib malam. Itu bukan lagi jam kerja normal. Sehari 14 jam bekerja dan hanya istirahat di jam-jam tertentu saja.
“Harus lembur demi target pembangunan selesai di bulan Desember nanti,” ujar Asnawi, Mandor para pekerja bangunan di salah satu SDN Rawabuntu 1 Serpong, Rabu (6/11).
Pada proyek senilai Rp5,9 miliar yang dikerjakan oleh PT Surtini Jaya Kencana itu, sebanyak 15 pekerja bangunan asal Bogor Jawa Barat di bawah koordinasinya terpaksa harus bekerja dimulai saat matahari terbit sampai ketemu bulan lagi.
Namun semua itu bukan berarti kerja rodi. Para kuli bangunan ini diberikan waktu untuk istirahat sholat dan makan, alias ishoma. Jam istirahatnya Seperti jadwal para pejabat yang mengikuti seminar saja, yakni waktu sarapan pagi sebelum bekerja, waktu makan siang, coffee break di warteg ala kadarnya di sore hari, kemudian bekerja kembali hingga malam hari.
Memang, dalam area sekolah tersebut ada satu warteg yang dibuat dadakan selama masa pengerjaan bangunan sekolah dasar itu saja. Di warteg itulah, biasanya para pekerja melakukan delevery dengan cara berteriak untuk memesan kopi hitam.
Asnawi mencoba memberi kenyamanan bagi belasan pekerjanya. Makanya, dia pun heran mengapa beberapa hari lalu ada 24 pekerjanya yang baru tiga hari dia datangkan, mengaku dipecat sepihak olehnya.
“Malam itu memang saya datangi mereka, tapi saya bukan memecat melainkan melarang mereka untuk verja lembur dulu. Jadi jam 4 atau jam 5 sore berhenti dulu saja, sebab bahan material saat itu belum datang,” tutur Asnawi mengklarifikasi pernyataannya sekitar sepekan lalu kepada wartawan.
Namun kebijakan si mandor malah disalah artikan, sehingga membuat ke 24 pekerja tersebut merengek minta pulang. Asnawi pun berinisiatif memulangkannya pada sore keesokan harinya. “Saya datang memang untuk memberikan mereka uang pulang. Akhirnya saya ongkosin Rp 3 juta buat mereka pulang, itu kok keinginan mereka,” pungkasnya.
Padahal seharusnya, pembayaran dilakukan dua minggu sekali. “Itu kesepakatannya,” pungkas Asnawi. Setelah 24 pekerja itu pulang ke kampung halamannya, akhirnya Asnawi pun memilih untuk fokus memberdayakan 15 pekerja asal Bogor. Mereka merupakan pekerja yang lebih dulu mengerjakan proyek pembangunan sekolah dasar itu dari awal.
Sementara, Dinas Tata Kota dan Pemukiman Kota Tangsel mengklaim bahwa pengerjaan gedung sekolah kini sudah jauh lebih baik. “Presentasenya berapa kami belum hitung pasti. Tapi silahkan dicek, pengerjaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Kepala Bidang Pembangunan Dinas Tata Kota dan Pemukiman Kota Tangsel, Mukodas, Rabu (6/11).
Pengerjaan ruang kelas baru sekolah pun jauh lebih disiplin dan ditambah jam kerjanya. Kegiatan tersebut mencolok di sejumlah proyek pembangunan sekolah di beberapa titik, seperti SDN Cilenggang dan SDN Rawa Buntu 1, Serpong.
Terpisah, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, mengatakan akan menecek langsung ke lapangan. “Sewaktu-waktu akan saya cek ke lapangan, agar tahu sampai sejauh mana progress nya,” pungkas Airin.
Airin meminta agar Dinas Tata Kota dan Pemukiman, serta SKPD terkait rajin mengontrol ke lapangan untuk memantau perkembangannya. “Jangan seminggu atau sebulan sekali. Tapi dalam satu minggu itu harus beberapa kali, agar terkontrol prosesnya,” tegas Airin. (pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.