Atut Curhat Berurai Air Mata

Tuding Ada yang Ingin Ambil Kekuasaan di Banten
SERANG, SNOL Uneg-uneg Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang selama ini dipendam akhirnya tumpah. Saat menghadiri peringatan Tahun Baru Islam 1435 H di Masjid Raya Al-Bantani di KP3B, Curug, Kota Serang, Rabu (6/11), orang nomor satu di Provinsi Banten itu meluapkan kegundahan isi hatinya sambil berderai air mata saat memberi sambutan.
Kegelisahan Atut tidak lain terkait reaksi mahasiswa dan kelompok masyarakat yang meminta Komisi Pem­berantasan Korupsi (KPK) mengusut tuntas dugaan korupsi suap sengketa Pemi­lihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lebak, dan sejumlah proyek dari APBD Provinsi Banten.
Atut menuding ada kelom­pok yang menghendaki dirinya turun dari jabatan sebagai gu­bernur karena tidak senang ter­hadap pembangunan dan kema­juan yang ditorehkannya selama menjabat sebagai orang nomor satu di Banten. Menurutnya, hujatan dan cacian yang saat ini disampaikan oleh sekelompok orang itu akan disikapinya den­gan bijak dan tenang.
“Selama ini apa yang saya lakukan untuk membuat Provinsi Banten lebih maju lagi sudah sesuai dengan keten­tuan. Sementara saya sekarang dihujat dan dicaci maki oleh segelintir orang menurunkan saya. Kalaupun itu terjadi saya ikhlas. Semoga ujian ini, dan dengan momentum Muharram 1435 Hijriah ini saya terlahir kembali dan menjadi orang yang lebih baik baik, dan saya mendapatkan perlindungan dan mendapatkan keselama­tan dari Allah SWT,” kata Atut sambil meneteskan air mata.
Ini untuk pertama kalinya Atut bicara di depan umum terkait kasus yang membe­lit adiknya, Tubagus Chaeri Wardhana sebagai tersangka pemberi suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Muchtar. Pada ka­sus tersebut, Atut juga dicekal ke luar negeri dan telah men­jalani pemeriksaan di KPK. Selain Atut, adik tirinya yang juga Walikota Serang Tuba­gus Haerul Jaman juga telah menjalani pemeriksaan.
Gubernur wanita pertama di Indonesia itu juga menye­salkan pemberitaan di media massa yang banyak memojok­kan dia dan keluarganya. Atut meminta kepada wartawan agar selalu mengedepankan fakta. “Untuk seluruh war­tawan yang hadir, semoga selalu diberi kesehatan dalam bertugas dan selalu diberkahi Tuhan. Saya doakan agar se­mua wartawan masuk surga,” tukas Atut dengan bata-bata.
Meski begitu, Atut mengaku tetap akan menghormati kebe­basan pers yang berlaku saat ini. Selain itu, Atut juga menya­takan akan menghormati proses hukum di KPK yang melibat­kan adik kandungnya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.
“Saya juga meminta kepa­da pak KH Hasyim Muzadi (mantan Ketua PB NU, red) untuk meluruskan adanya kel­ompok ulama yang menyebut­kan saya menggunakan santet kepada KPK,” jelas Atut.
Atut juga meminta kepada masyarakat Banten untuk mendoakan dirinya agar se­lalu diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menghadapi ujian dan selesai menjalankan roda pemerintahaannya hing­ga masa jabatanya berakhir tahun 2017 mendatang. ”Saya mohon doa, doakan saya un­tuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan saya terharu sekali, pada saat acara ber­temu masyarakat, masih ban­yak maayarakat yang men­cintai saya, dan semoga saya dapat menjalankan amanah ini sampai masa akhir jaba­tan,” ungkapnya.
Sementara, terkait permint­aan Atut, mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi meminta kepada ulama untuk mem­buktikan dugaan santet yang dilakukan Atut terhadap KPK. “Mereka harus membuktikan (soal santet, red). Tetapi, kalau tidak terbukti mereka harus minta maaf,” tegasnya.
Pada bagian lain, KPK kem­bali melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah PNS di Setda Provinis Banten. Kali ini giliran staf Tata Usaha Pimpinan pada Biro Umum Setda Provinsi Banten, Nur Aisah Kinanti alias Kiki yang diperiksa untuk tersangka pen­gacara Susi Tur Andayani.
Namun, Kiki enggan berko­mentar banyak perihal pemer­iksaan yang dijalaninya. Usai diperiksa KPK, Kiki hanya mengaku ditanya seputar di­rinya pada saat menjalani pemeriksaan di KPK. “Sepu­tar saya,” kata Kiki Aisah usai menjalani pemeriksaan di KPK, Jakarta. Namun de­mikian, ia tidak menjelaskan lebih detil mengenai itu.
Ketika disinggung apakah ditanyakan penyidik menge­nai pertemuan Atut, adik Atut Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dengan mantan Ketua MK, Akil Mochtar di Singapura, Kiki enggan men­gomentarinya. “Nanti ya,” ujar Kiki. Jawaban yang sama dikeluarkan Kiki saat ditanya­kan apakah dirinya ikut men­dampingi Atut ke Singapura.
Kemudian ia mengaku tidak didengarkan rekaman sadapan apapun pada saat menjalani proses pemeriksaan di KPK. “Enggak,” katanya.
Diketahui, Nur Aisah Kin­nati alias Kiki saat ini menjadi staf di Sub Bagian (Subag) Tata Usaha (TU) Pimpinan pada Biro Umum, di bawah penga­wasan langsung Riza Martina yang sebelumnya telah diper­iksa oleh KPK bersamaan den­gan Sekretaris Pribadi (Sekpri) Ratu Atut, Linda Agustina.
Kiki sendiri datang ke KPK mengenakan jilbab merah dan baju batik bercorak senada, tiba di kantor KPK sekitar pu­kul 11.00 WIB. Dia ditemani seorang saksi dalam perkara sama yang juga PNS Provinsi Banten, Zainal Mutaqin. Da­lam struktur pemerintahan Provinsi Banten, Zainal men­jabat Asisten Daerah III.
Selain mereka berdua, KPK kemarin menjadwalkan me­meriksa ajudan wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, yakni Deni Saputra, serta Anggota DPRD Provinsi Banten yang juga calon Wakil Bupati Leb­ak, Kasmin Bin Saelan.
“Saksi Nur Aisah , Zainal Mutaqin, dan Deni Saputra diperiksa untuk tersangka AM (Akil Mochtar, STA (Susi Tur Andayani), dan TCW (Tubagus Chaeri Wardana),” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Infor­masi KPK, Priharsa Nugraha melalui pesan singkatnya. (mg-12/rus/deddy/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.