Korban PHK Tidur Dipabrik Sampai Masuk Angin

PASAR KEMIS,SNOL Lelah, letih, pucat dan kusut terlihat jelas di wajah dan penampilan ratusan buruh PT Sentraco Garmindo. Maklum saja, sudah lima hari terakhir ini mereka nekad menginap di pabrik tempatnya bekerja di Kawasan Industri Pasar Kemis Kecamatan Pasar Kemis.
Mereka tidur di halaman depan pabrik hanya beralaskan kertas karton. Angin malam yang jahil meresap kulit tubuh. Penyakit pun hinggap. Ada yang terserang flu, ada juga yang masuk angin. “Namanya juga tidur di luar, pakai karton lagi alasnya. Jadi banyak yang masuk angin sampe dikerokin sama temen-temen bergantian,” tutur ucap Sriyeti (33), buruh bagian QC Lingking saat ditemui di lokasi.
Mereka menginap bukan karena betah tinggal di pabrik, melainkan karena menjadi korban PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang dilakukan sepihak oleh manajemen perusahaan produksi pakaian hangat tersebut. Buruh boleh pulang hanya untuk mandi dan bawa bekal makanan.
Diantara buruh tersebut ada juga yang tengah hamil. Namun hal itu tak menjadi hambatan baginya untuk ikut serta mendukung rekan-rekannya menggelar aksi.
Buruh lainnya Tohyati (34) menambahkan, aksi tidur di halaman dalam pabrik ini sudah dilakukan sejak lima hari lalu. Buruh terpaksa melakukan aksi ini karena perusahaan secara tiba-tiba merumahkan seluruh buruh yang berjumlah sekitar 300 orang. “Kami menuntut untuk dipekerjakan kambali oleh perusahaan. Kami tidak yakin perusahaan sudah menghentikan produksinya karena dilakukan secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan lebih dulu,” tegasnya.
Ia mengaku diberikan gaji oleh perusahaan sebesar Rp2,2 juta. Namun untuk uang makan hanya diberikan Rp3000/hari dan transport Rp1500/hari. Pihaknya berharap perusahaan dapat mempekerjakan kembali seluruh buruh. “Kalaupun ingin memberikan pesangon, ya harus sesuai dengan aturan ketenagakerjaan. Masak sudah kerja puluhan tahun hanya diberikan tiga bulan gaji, ya gak masuk akal. Terlebih produk sweeter yang diekspor hingga ke Amerika tidak ada masalah, lancar-lancar saja ordernya,” ungkapnya.
Hamdiyah pengurus PUK Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) menegaskan, hasil pertemuan bipartid antara perwakilan buruh dengan manajemen berakhir deadlock. “Pertemuan akan dilanjutkan kembali pada Jumat depan. Sementara ini manajemen masih tetap memberikan pesangon tiga bulan gaji, sebab pengusahanya tidak mampu. Bagaimana mungkin bisa perusahaan ini beroperasi, sementara informasi yang berkembang pengusahanya mampu membangun pabrik lain di daerah lain,” tandasnya.
Terkait masalah ini, G Dale Roy GP, manajer personalia PT Sentraco Garmindo mengatakan, saat ini perusahaan telah mengalami kerugian sejak dua tahun terakhir. Kemudian perusahaan kalah bersiang untuk mendapatkan order, sehingga akhirnya sampai saat ini manajemen mengalami sepi order. Perusahaan akan memberikan pesangon kepada setiap karyawan sebanyak tiga bulan gaji, karena manjemen telah memutuskan perusahaan ditutup sejak Sabtu 2 November 2013.
“Manajemen akan kembali mengadakan pertmuan pada Jumat besok, dan manajemen akan mengikuti sesuai peraturan pemerintah hingga ke tingkat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Tangerang. Soal adanya pabrik lain di daerah yang satu manajemen dengan PT Sentraco Garmindo itu tidak benar,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Kesejahteraan Pekerja pada Disnakertrans Kabupaten Tangerang, Deni Rohdiani mengungkapkan, pihaknya sudah mengirim tim pengawas untuk memantau masalah buruh di pabrik tersebut. “Sedang kami pantau perkembangannya. Laporan detilnya belum saya terima,” pungkasnya. (aditya/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.