Napi Tinggalkan Janin di Rutan

LEBAK, SNOL Ruang tahanan wanita kelas 2B di Rumah Tahanan (Rutan) Rangkasbitung, menjadi saksi bisu bagi narapidana (napi)  bernama Masyitoh (25) binti Muin, warga Kecamatan Sajira. Lepas dari pengawasan petugas Rutan, Masyitoh diduga melakukan aborsi dengan cara meminum obat pelancar haid.
Kemudian Masyitoh membungkus janin hasil aborsi menggunakan plastik berwarna hitam, lalu dibuang ke tempat sampah di halaman Rutan. Peritiwa aborsi terjadi pada Jumat (18/10) lalu.
Petugas Rutan, baru mengetahui kejadiannya pada Senin (21/10), setelah Masyitoh bebas bersayarat pada Minggu (20/10). Penemuan janin hasil aborsi pertama kali diketahui oleh Ahmad (41), warga binaan pemasyarakatan (WBP) Rutan Rangkasbitung pada Minggu (20/10), saat akan membersihkan sampah di halaman Rutan. “Awalanya saya menduga bau hewan kurban, karena ada perayaan Idul Adha 1434 Hijriah. Ternyata janin,” kata Ahmad di Rutan Rangkasbitung, Rabu (6/11).
Tak mau mengambil resiko, Ahmad menyerahkan temuan janin itu kepada petugas Rutan Rangkasbitung pada Senin (21/10) untuk diperiksa lebih lanjut. “Para petugas Rutan kemudian memeriksanya dan petugas Rutan kaget,” beberanya.
Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Rangkasbitung, Adi Susanto membenarkan penemuan janin tersebut. Namun dia membantah janin tersebut hasil dari aborsi. “Setelah meminta keterangan dari para napi, kami baru sadar ada napi yang sudah bebas bersyarat sehari sebelumnya yakni Masyitoh, kemudian kita panggil dia,” tukasnya.
Pihaknya mengintrogasi Masyitoh dengan menghadirkan saksi-saksi dan barang bukti. “Masyitoh mengakui dia membuang janin di tempat sampah pada Jumat (18/10) lalu setelah melayani kunjungan tamu dinas,” ujarnya.
Dari pengakuan Masyitoh diketahui, janin tersebut hasil hubungan gelapnya dengan napi lain bernama Anton (30) warga Kecamatan Lebakgedong. Mereka sudah menjalin cinta kasih di dalam Rutan sejak 7 Juni 2012.
“Namun Masyitoh membantah sudah melakukan aborsi. Ia mengaku hanya keguguran saja,” ujar Adi menceritakan pengakuan Masitoh, seraya menyebut Anton sudah bebas panda akhir Agustus 2013 lalu.
Masyitoh dipenjara selama dua tahun dalam kasus aborsi pada awal tahun 2012 lalu. Sedangkan Asep dipenjara selama dua tahun dalam kasus curanmor (pencurian kendaraan bermotor).
Kasatreskrim Polres Lebak AKP Wiwin Setiawan mengaku belum mengetahui dugaan penemuan janin tersebut. Kendati demikian, pihaknya akan melakukan penyelidikan jika mendapatkan laporan. (ahmadi/eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.