Pembunuh Bayaran Ngumpet di 5 Kuburan

Ditangkap di Pandeglang, Kasus Tewasnya Istri Siri Pejabat BPK
PANDEGLANG, SNOL Pelarian Pago Satria Permana salah satu kawanan pembunuh Holly Anggela Hayu di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, telah berakhir. Sopir angkot K 44 jurusan Kampung Rambutan-Komsen ini ditangkap di Kampung Ciseket, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (8/11).
Holly merupakan istri siri Auditor Utama Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Gatot Supiartono. Gatot sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunu­han berencana itu.
Kepala Unit V Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Ditreskrimum Polda Metro Komisa­ris Polisi Antonius Agus mengatakan, Pago yang masuk Daftar Pencarian Orang sejak 9 Oktober 2013 itu sempat mendatangi seorang dukun di Banten. Bahkan, dia sempat berdoa di kuburan su­paya tak ditangkap polisi set­elah sebelumnya mendengar rekan-rekan mereka sudah diringkus aparat.
“Dia sempat tidur empat hari empat malam di kuburan yang sama (di Banten), sam­bil berdoa supaya selamat dan tidak ditangkap,” kata Anto­nius Agus dalam jumpa pers di Markas Polda Metro Jaya, Jumat (8/11) didampingi Ka­bid Humas Kombes Rikwan­to.
Antonius membeberkan, setelah ikut dalam pembunu­han Holly, Pago pada 1 Ok­tober 2013 bertemu dengan tersangka Surya Hakim dan Abdul Latif di Cibinong. Di sana Pago mendapatkan bagian uang Rp 130 juta un­tuk menghabisi nyawa Holly.
Pago mendapat jatah Rp 40 juta, tersangka lain Ruski Rp 40 juta serta Rp 50 juta untuk keluarga El Risky Yudhistira, yang tewas di Tempat Keja­dian Perkara.
Menurut Antonius, Pago menyerahkan uang bagian El Risky kepada istrinya, mela­lui Ruski. Sebab, Ruski meru­pakan teman El Risky. “Saat itu Pago menyerahkan uang kepada Ruski di Banten, lalu setelah itu Pago dan Ruski kembali ke Jakarta,” ujarnya.
Nah, setelah mendengar La­tief dan Surya ditangkap poli­si, Pago dan Ruski kemudian kabur lagi ke Banten. Saat di Cimahi Ujung Kulon, kata dia, kedua tersangka sem­bunyi bahkan tidur mengi­nap di kawasan kuburan setempat. “Dan berpindah-pindah kuburan. Sekitar lima kuburan,” katanya.
Bahkan, lanjut Antonius, tersangka sempat menginap di sebuah goa selama dua malam hingga kemudian naik perahu. “Tersangka sempat menginap di Goa Sang Hyang Sira, selama dua malam. Lalu tersangka dalam pelariannya naik perahu, masuk ke hutan di daerah Ujung Kulon Ban­ten. Kebanyakan dengan cara jalan kaki,” terang Antonius.
Pada 5 November 2013, Pago dan Ruski berpisah. Pago menginap di rumah saudaranya di Ciseket. Ruski mencari tempat persembuny­ian lain. Kini Ruski masih diburu petugas.
Pago Satria Permana (41) langsung digelandang ke Polda Metro Jaya, usai di­tangkap di Kampung Cike­set, Pandeglang, Banten. Ia tiba di Mapolda Metro Jaya sekitar pukul 11.35 dengan mengenakan baju hitam dan celana jeans. Tak banyak per­kataan yang diucapkan Pago saat digelandang petugas.
Saat ditanya berapa ba­yaran yang diterimanya untuk menghabisi nyawa Holly di Apartemen Kalibata City, Ja­karta Selatan, Pago menjawab singkat. “Dibayar Rp 40 juta,” ujarnya di Ditreskrimum Pol­da Metro Jaya, Jumat (8/11). (boy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.