Airin Larut ‘Dibawa Gelombang’

PAMULANG, SNOL Ekspresi Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany tampak serius. Entah karena gugup atau karena kegundahan hatinya. Meski demikian, walikota cantik ini tetap berusaha larut menjiwai saat membacakan puisi berjudul “Dibawa Gelombang” buah karya Sanusi Pane.
Airin membacakan puisi karya pujangga kebanggan Indonesia itu saat pembukaan Jambore Perpustakaan II Tahun 2013 di Pamulang, Rabu (13/11).
Awalnya Airin mulai ragu, khawatir intonasi atau kata yang dibacakan dalam puisi tersebut salah diucap. “Mohon maaf pak Taufik, bila nanti cara membaca saya salah,” pintanya kepada sastrawan Indonesia Taufik Ismail, yang duduk di bangku paling depan menyaksikan Airin.
Taufik tersenyum sembari mengangguk, siap mendengarkan performa Airin membacakan puisi. Mengenakan kaos berkerah orange, bercelana panjang dan berkerudung cokelat, Airin mantap membacakan puisi.
Pianis terkenal, Aris Sutedja, mengiringi Airin membaca puisi. Alunan piano pertama sebagai intro pembuka, membuat Airin menghela nafas, bersiap memulai membacakan puisi yang ada di genggamannya.
“Dibawa Gelombang, karya Sanusi Pane,” Airin memulai puisinya dengan suara mantap. Agar tak salah dalam membacakan puisinya, Airin selalu tertuju pada secarik kertas yang dipegangnya.
 
Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berteman
Entah ke mana aku tak tahu
 
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad abad
Dengan damai mereka meninjau
Kehidupan bumi yang kecil amat
 
Aku menyanyi dengan suara
Seperti bisikan di daun
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun alunan
 
Aku membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang tidak berkawan
Entah ke mana aku tak tahu
 
Dengan lancar, Airin membacakan puisi berisi empat bait tersebut. Sepanjang membacakan puisi, pianis cantik asal Pamulang itu, tetap menjentikan jemarinya di atas not piano.
Ribuan pengunjung Jambore Perpustakaan II Tahun 2013, hening di sepanjang Airin membacakan puisi. Bisik-bisik kagum dan tepuk tangan meriah, menyudahi akhir kalimat puisi.
“Bagus ya. Menggambarkan sekali suasana hati ibu,” bisik tamu dari Pandeglang, sembari terus bertepuk tangan. Airin pun turun panggung, dia langsung menyalami Taufik Ismail.
Tanpa diminta, sastrawan Indonesia itu memuji cara Walikota Tangsel membacakan puisi legendaris tersebut. “Bagus bu,” katanya sembari tersenyum. Airin membalasnya dengan senyuman sembari mengungkapkan rasa terimakasihnya.
Namun, wajah ramah dan senyum manis walikota cantik berubah ketika di akhir acara pembukaan Jambore Perpustakaan II Tahun 2013 itu usai. Awak media yang sudah menunggunya sejak di awal acara mencoba untuk meminta komentarnya terkait ditetapkannya tiga nama oleh KPK soal dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Tangsel yang salah satunya adalah suaminya, Tubagus Chaeri Wardana.
Fokus Airin langsung tertuju pada dua awak media nasional yang terlebih dulu memberondong pertanyaan mengenai kasus yang menetapkan suaminya sebagai salah satu tersangka. “Kalian wartawan nasional kan? Sudah besok saja bertemu di KPK,” singkatnya kemudian masuk mobil dan pergi meninggalkan tempat acara.
Seperti diketahui, setiap Senin dan Kamis, merupakan agenda Airin menjenguk suaminya di rutan KPK. Airin memilih untuk bersuara saat dia menjenguk suaminya hari ini (14/11) di Gedung KPK.
 
Tertutup
Terpisah, pihak Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan menolak berkomentar soal status tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) Pemkot Tangsel. Kuasa hukum Wawan, Pia Akbar Nasution, tidak mau banyak bicara. Alasannya, dia belum tahu banyak selain yang diberitakan media.
“Maksud kedatangan saya adalah untuk ketemu Mas Wawan. Membicarakan status dia yang baru sekarang. Cuma, ternyata dia sedang diperiksa,” kata Pia di KPK kemarin. Dia butuh berbicara dengan kliennya karena selama ini Wawan tidak pernah mengungkapkan hal tersebut secara mendalam, sebatas singgungan kecil.
Menurut dia, informasi yang muncul tidak banyak karena selama ini kliennya baru sekali diperiksa sebagai tersangka. Padahal, setiap minggu selalu ada isu baru menyangkut kliennya. Keluarga juga tidak bisa berbuat banyak dan memilih menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada dirinya.
“Mas Wawan dan keluarga menganggap ini trial by the press karena di dalam Mas Wawan nggak dilakukan apa-apa. Tetapi, di luar beritanya ramai dan berganti-ganti isunya,” tutur Pia. Meski demikian, pihaknya siap menghadapi apa pun tuduhan KPK. Bagi dia, berat ringan harus dihadapi karena merupakan bagian dari proses hukum.
Selain Wawan, tersangka lain adalah Dadang Prijatna, petinggi PT Mikkindo Adiguna Pratama, yang merupakan tangan kanan Wawan serta Mamak Jamaksari, pejabat pembuat komitmen di Tangerang Selatan.
“Nilai proyeknya Rp 23 miliar,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi kemarin. Dia mengungkapkan, penyidik lembaganya langsung menggeledah RSUD Tangerang Selatan, Dinas Kesehatan Tangerang Selatan, dan Kantor Layanan Pengadaan secara Elektronik Tangerang Selatan. (pramita/dim/c5/kim/deddy/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.