12 Ilmuwan Internasional Pamerkan Temuan

SETU,SNOL Sebanyak 12 Il­muwan dari enam negara pa­merkan temuan dan karyanya di Seminar Internasional Ino­vation Research In Science Technology and Culture 2013 di Gedung Widya Bhakti Pus­piptek, Kecamatan Setu, Se­lasa (19/11).
Mereka berasal dari Ing­gris, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan In­donesia sendiri. “Ke 12 karya itu kami kelompokan dalam tiga kategori, antara lain bi­dang science, teknologi, dan culture,” ujar Kepala Steer­ing Commitee Institut Sainsdan Teknologi Nasional, Prof Dahmir Dahlan, selaku penyelenggara acara.
Salah satu ilmuwan peneliti dari Impacticity dari London Inggris, Dr Dan David Fullict, sudah mengamati transportasi dan tata ruang di Jabodetabek. Makanya, dia mempunyai ide konsep MRT tak hanya untuk Jakarta, melainkan bisa ter­padu dan menyambungkan Jabodetabek.
“Konsep saya nantinya akan ada 600 stasiun, 200 di­antaranya berada di bawah ta­nah,” ujar Dr Dan. Menurut­nya, Indonesia sudah menjadi negara besar yang mampu untuk mengembangkan MRT, seperti negara maju lainnya.
Kemudian ada lagi tiga profesor dari Technishe Uni­versitat Berlin (TU Berlin) yang memaparkam konsep kereta api Maglev. Mereka adalah Prof Juergen Thorbek, Prof Mnich, dan ilmuwan asal Indonesia yang berkarya di negeri Ratu Elizabeth itu, Profesor Suhadi Wiromojo.
“Kami menginginkan ad­anya sambungan kereta api Magnet, seperti di Jepang yang ada di Indonesia. Cita-cita saya, kereta ini akan menghubungkan dari Sabang sampai Merauke, dengan ke­cepatan yang tinggi,” papar Prof Suhadi.
Bahkan kereta api sebagai misi penyambung nusantara ini, sudah diberi nama oleh penemunya yakni TDSM, atau Transrapid Djuanda Sa­bang Merauke. “Nama ini se­bagai penghargaan kepada Ir H Djuanda, sebagai deklara­tor Wawasan Nusantara,” pungkasnya.
Sementara, dalam seminar internasional yang digelar se­lama dua hari itu, hadir pula mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyampaikan materi pembuka. Sebagai pembuka dan memotivasi para ilmuwan dalam dan luar nege­ri, Kalla menyampaikan pen­tingnya inovasi di Indonesia.
”Pertama makanan, kemu­dian energi dan terakhir sum­ber daya, baik alam maupun manusia,” ujar Jusuf Kalla saat berkesempatan menjadi pembicara utama dalam In­ternational Seminar tersebut.
Bila sudah mengetahui apa yang menjadi masalah dan kebutuhan, Kalla pun mengungkapkan betapa penting­nya berinovasi. Terlebih un­tuk kepentingan pasar bebas Asean 2015. Menurutnya, untuk menghasilkan inovasi, ada beberapa rangkaian yang harus ditempuh. ”Yakni be­rawal dari ide, kemudian re­search, baru inovasi,” ujar­nya. Namun, inovasi tak akan menjadi berguna bila tak ada industri untuk mengaplikasi­kannya dan pasar untuk me­nerjunkannya kepada masy­arakat.
Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua PMI ini, bila para ilmuwan dan juga penggerak industri su­dah melakukan hal tersebut, sudah pasti Indonesia siap menempuh pasar bebas Asean 2015. (pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.