Dokter Aborsi Dituntut Ringan

SERANG,SNOL Terdakwa pelaku aborsi sekaligus pemilik Klinik Mulya Medika yang berlokasi di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Djaja Rachmat dituntut ringan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Kamis (21/11). Djaja hanya dituntut satu tahun enam bulan.
Padahal, dalam ancaman hukuman yang tertuang dalam dakwaan, Djaja terancam hukuman 10 tahun penjara dengan pasal berlapis diantaranya Pasal 194 Undang-undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Pasal 349 KUHP dan 348 KUHP dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara.
Dalam sidang yang dipimpin Hakim Lian Henry S dengan JPU Andri Saputra itu, terdakwa dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana aborsi, membantu mengugurkan kandungan wanita dengan persetujuannya sebagaimana diatur dalam Pasal 349 KUHP. “Memohon kepada majelis hakim menyatakan saudara terdakwa bersalah melakukan tindak pidana mengugurkan kandungan wanita. Dan menghukum terdakwa dengan hukuman penjara selama satu tahun dan enam bulan,” kata Andri.
Dalam pertimbangan hukumnya, JPU mengatakan, hal yang memberatkan pada terdakwa adalah akibat perbuataanya itu telah membuat janin meninggal. Serta perbuatan terdakwa juga telah melanggar kode etik kedokteran. Bahkan terdakwa juga pernah dihukum dalam kasus yang serupa.
“Sedangkan hal yang meringankan terdakwa, selama persidangan terdakwa bersikap sopan,” imbuhnya. Menyikapi tuntutan tersebut, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan akan melakukan pledoi atau pembelaan. Majelis hakim kemudian memutuskan sidang ditunda hingga pekan depan dengan agenda pledoi terdakwa.
Sementara itu, usai sidang terdakwa menolak tuduhan JPU yang menyatakan dirinya melakukan aborsi salah satunya terhadap korban bernama Amroyati. “Saya bukan melakukan aborsi. Tapi menolong dia mengeluarkan janin yang sudah mati,” kata Djaja yang juga mantan Perwira Polisi berpangkat Kompol tersebut. Sebab, lanjut Djaja, saat wanita yang juga dijadikan tersangka dalam berkas terpisah itu datang pada dinihari, saat diperiksa janin dalam kandungannya sudah mati.
“Sudah mati kok janinnya. Saya tegaskan lagi. Saya hanya menyelamatkan ibunya. Bukan melakukan aborsi,” kilahnya. Untuk diketahui, Djaja sendiri pernah terbelit kasus yang sama pada 2003 lalu dan dijatuhi hukuman percobaan selama tiga bulan. Dia mengundurkan diri dari kepolisian pada 1999 dengan alasan penghasilan menjadi dokter lebih menjanjikan dibanding menjadi seorang anggota polisi. (ned/igo/gatot/bnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.