Sejumlah Guru Masih Bingung Sambut Kurikulum 2013

BOGOR,SNOL Beberapa bulan lagi, seluruh sekolah di Tanah Air akan menerapkan sistem ajaran baru, yakni Kurikulum 2013. Setelah diujicobakan di sejumlah sekolah sasaran sepanjang 2013, sedianya di 2014 mendatang, semua sekolah sudah menerapkan sistem serupa. Sayangnya, sistem ini masih menuai polemik, karena sejumlah guru masih banyak yang kebingungan.
Ketua Persatuan Guru Repuplik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bogor, Dadang Suntana mengatakan, keluhan terbanyak dari para tenaga pendidik adalah pembelajaran yang lebih sering menggunakan media teknologi. Sedangkan kondisi saat ini, masih banyak guru yang minim  pengetahuan ilmu teknologi. “Sekarang juga pelaporan diklat secara online. Memang maksudnya agar media pembelajaran guru lebih ditingkatkan,” akunya kepada Radar Bogor, kemarin.
Dia menjelaskan, perbedaan yang paling menonjol di Kurikulum 2013 lebih menekankan kepada sikap dan perilaku anak. Semisal, mata pelajaran seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) yang mengalami penambahan jam belajar.
Keluhan serupa juga disampaikan guru bagian Kurikulum SMPN 3 Bogor, Didi Rosadi, Dia mengungkapkan, ada sejumlah guru yang mengaku bingung atas sistem yang diusung kurikulum baru. Tapi menurutnya, itu terjadi karena mereka belum mendapatkan pelatihan-pelatihan secara mendalam. “Ada saja yang bingung. Tapi itu mungkin karena belum ikut pelatihan dari dinas.
Jadi masih menduga-duga. Setelah pelatihan juga pasti kesulitan yang dibayangkan sudah tidak ada, karena semua langkah-langkah pembelajaran di kurikulum baru sudah ada di buku pedoman untuk guru,” kata Didi.
Meski masih ada guru yang mengaku kebingungan, Didi memastikan pihaknya siap menerapkan Kurikulum 2013. Bahkan sekolahnya sudah pernah mengajukan untuk menerapkan Kurikulum 2013 mulai beberapa bulan lalu. “Tapi imbauan dari dinas, jangan dulu diterapkan, karena belum siap. Jadi, saat ini SMPN 3 sedang melakukan beberapa persiapan seperti mengikuti pelatihan guru,” tambahnya.
Kondisi serupa juga terlihat di SMPN 1 Bogor. Wakil kepala sekolah, Budiman mengatakan, kebingungan para guru masih terbilang wajar.
“Semua orang kalau menghadapi sesuatu yang baru pasti akan bingung. Tapi kalau Bogor ini untungnya dekat dengan pusat. Selain itu, orang-orang Bogor banyak orang-orang pusat juga. Jadi informasi lebih akurat, tidak dari mulut ke mulut. Kita bisa menyerap langsung, kemudian praktik,” katanya. Budiman menambahkan, agar penerapan kurikulum berjalan maksimal, perlu digeber pelatihan-pelatihan bagi para guru.(jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.