Lailly Prihatiningtyas, Calon Direktur Utama BUMN Termuda

UMURNYA belum genap 28 tahun. Namun, Lailly Prihatiningtyas mendapat kehormatan menjadi orang nomor satu di sebuah badan usaha milik negara (BUMN). Ada cerita menarik di balik pemilihan tersebut.

M. SALSABYL AD’N, Jakarta
KISAH hidup Lailly Priahtiningtyas bak roller coaster. Kamis pekan lalu (21/11) dara kelahiran Jombang, Jawa Timur, 22 Desember 1985, itu masih melakoni tugas kesehariannya. Yakni, membantu rapat pimpinan di PT Dok Kodja Bahari (DKB). Sebagai Kasubdit Penyajian Informasi di Kementerian BUMN, salah satu tugas Tyas -panggilan akrab Lailly Priahtiningtyas- adalah menyediakan bahan yang menjadi pertimbangan pada rapat pimpinan (rapim) yang diadakan setiap pekan.
“Pak Dahlan (Menteri BUMN Dahlan Iskan, Red) orangnya tak suka laporan tertulis. Dia lebih suka duduk mendengarkan penjelasan langsung dan langsung membahas. Nah, kami di bagian penyajian informasi yang bertugas mengumpulkan bahannya sekaligus mendampingi sewaktu rapim. Kebetulan waktu itu saya yang bertugas,” terangnya.
Saat itu Tyas mengaku tak punya pikiran apa pun. Dia sudah tahu soal rencana pergantian direktur utama PT TWC (Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Candi Boko). Namun, dia tak tahu siapa yang bakal ditunjuk untuk menggantikan Ricky Siahaan, direktur TWC sebelumnya.
“Tiba-tiba Pak Dahlan bilang, ya sudah, Dirutnya Tyas saja. Langsung ditanyakan ke pejabat eselon I yang hadir dan mereka semua setuju. Saya kan hanya pejabat eselon IV, tidak bisa bicara apa-apa. Ketika ditanya, ya saya bilang baik asal dijalankan dulu prosedurnya. Masak saya mau bilang nggak,” kata Tyas.
Tiba-tiba ditunjuk jadi direktur tentu membuat Tyas kaget bukan kepalang. Sebab, dia merasa belum punya pengalaman memimpin perusahaan.
“Saya ini pejabat eselon IV. Memang sudah manajerial, tapi ini masih fifty-fifty dengan teknis. Apalagi, jabatan itu kan butuh soft competence yang tinggi. Secara skill dan pengetahuan, mungkin saya percaya diri. Tapi, masalah soft competence, saya belum punya pengalaman,” ungkap perempuan yang suka ngojek saat berangkat ke kantor itu.
Belum lagi mengatur hati, dia langsung menjadi gula-gula bagi media. Begitu rapat berakhir, Dahlan memberitahukan kabar penunjukan Tyas kepada media. Otomatis, seluruh teman dan kerabat Tyas mendengar kabar itu. Bahkan, kabar tersebut sudah menyebar ke orang tua sebelum Tyas memberi tahu secara pribadi.
“Setelah rapim saya masih ada kerjaan lain. Jadi, baru sempat memberi tahu orang tua setelah itu. Ternyata beritanya sudah nyebar di mana-mana. Saya sendiri kaget. Mulai SMS, Twitter, Facebook, BBM, e-mail, semuanya berisi pesan selamat. Terus, banyak wartawan yang tiba-tiba wawancara. Tanya bagaimana kebijakan ke depan. Ya, saya bilang saja saya belum ada di posisi untuk menjawab,” tuturnya.
Tyas menganggap jabatan tersebut belum ada di pundaknya. Sesuai dengan permintaannya, Kementerian BUMN saat ini sedang menjalankan fit and proper test terhadap perempuan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) itu.
“Ini bukan hanya masalah prosedur. Meski prosesnya terbalik, saya masih ingin dilakukan. Karena ini juga memberi assurance (kepastian, Red) bahwa saya memang pantas. Saya sendiri nggak pernah nilai gimana kualitas diri sendiri. Kan memang tidak pernah membayangkan jadi Dirut dalam waktu dekat,” katanya.
Sikap tegas fit and proper test Tyas ternyata punya cerita menarik. Perempuan lulusan Tilburg University, Belanda, itu ternyata punya hubungan erat dengan proses kualifikasi tersebut. Dia mengaku bidang tersebutlah yang digeluti sewaktu pertama bekerja di Kementerian BUMN.
Pada 2006 Tyas yang baru lulus dari STAN harus langsung bekerja karena terikat kewajiban menjadi pegawai negeri sipil (PNS) selama sepuluh tahun. Saat disodori pilihan lembaga, Tyas pun memilih Kementerian BUMN.
“Saya ada di bagian SDM. Kerjanya ngurusin fit and proper test Dirut,” jelasnya.
Tyas mulai dari nol. Pengetahuannya di dunia akuntansi sama sekali tak terpakai di bidang tersebut. Dia pun harus tanya sana sini dan banyak membaca buku.
“Sama sekali tidak ada akuntansinya. Ya, kerjanya seperti recruiter. menganalisis CV, track record, rekomendasi, bahkan menelepon orang yang ngasih rekomendasi untuk mengecek,” ungkapnya.
Pekerjaan itu dijalani Tyas hampir lima tahun, sambil juga mengasah kemampuan yang dipelajari ketika kuliah. Kementerian BUMN sempat kekurangan staf di teknis. Dia pun ditarik menjadi staf untuk mengalkulasi keuangan BUMN. “Saya sempat satu tahun dobel pekerjaan,” tambahnya.
Karirnya di subdit penyajian informasi baru dimulai saat Dahlan memimpin Kementerian BUMN. Saat itu Tyas masih menempuh pendidikan S-2 akuntansi di Belanda.
“Waktu kembali kan ada perubahan budaya. Kalau dulu rapim hanya dilakukan saat penting. Tapi, Pak Dahlan minta dilakukan setiap minggu. Karena saya pernah melakukan hal serupa, akhirnya saya ditarik ke bagian itu,” jelasnya.
Kini Tyas mempersiapkan diri untuk mengemban tugas tersebut. Tidak hanya siap secara teknis, tapi juga mental.  “Alhamdulillah semua mendukung dan memberi nasihat. Nilai pesannya sama. Jangan rendah diri, tapi jangan juga tinggi hati,” ujarnya.
Ada satu pesan yang ampuh membesarkan hati Tyas. Yakni, pesan singkat dari Muhamad Zamkhani, deputi Bidang Usaha Industri Primer Kementerian BUMN. Dalam pesan itu, Tyas diberi tahu bahwa situasi yang dihadapi saat ini serupa dengan yang dialami waktu pertama menjabat pejabat eselon I. Saat itu Zamkhani yang memegang jabatan eselon II ditunjuk Dahlan sebagai deputi. Dengan usia yang cukup muda, dia berhasil memegang amanah tersebut hingga sekarang.
“Yang paling mengena itu. Dia bilang, kadang kematangan datang karena dipaksakan. Tapi, ketika kita bisa melewatinya, insya Allah kita bisa melewati yang lebih besar juga,” tuturnya.
Tyas sedikit demi sedikit mencari tahu profil perusahaannya. Mulai laporan manajerial hingga posisi perusahaan tersebut di mata regulator dan stakeholder. “Kalau laporan keuangan itu sudah pasti wajib. Itu kan yang saya pelajari mulai D-3 hingga S-2. Saya paling percaya diri mengenai itu,” terangnya.
Dari langkah tersebut, dia menemukan bahwa PT TWC punya tantangan tersendiri. Yakni, banyak dan rumitnya orang yang berkepentingan di perusahaannya. Sebab, aset yang dikelola merupakan warisan budaya. Itu mengundang banyak pihak “hingga taraf internasional” untuk mengawasi langkah perusahaannya.
“Secara keuangan memang stabil. Karena kan yang dikelola adalah Borobudur. Kasarannya, tidak diapa-apakan juga turis akan datang. Meskipun, tetap harus membuat pengunjung nyaman. Tapi, banyak pihak yang terlibat. Mulai UNESCO, pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM, hingga penyuka sejarah. Inilah tantangannya. Bagaimana merangkul stakeholder dan mem-preserve (melestarikan) aset yang ada,” ujarnya.
Berdasar semua data yang diperoleh, Tyas pun sudah ancang-ancang menemukan potensi baru. Menurut dia, potensi Borobudur dan candi lainnya seharusnya bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Tidak hanya menjual sebuah monumen, seharusnya Indonesia juga bisa menjual aspek budaya secara utuh dari Jawa Tengah.
“Seperti di Bali. Yang dijual kan bukan hanya pantainya. Tapi, memang masyarakat dan budayanya menarik,” ungkap dia. (*/c10/ca)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.