Teroris Komunikasi Via Email

Satu Teroris Hendak Berangkat ke Suriah
JAKARTA, SNOL Keterkaitan antara ketujuh tersangka teroris di Ciputat dengan dua kelompok teroris besar, yakni Santoso dan Abu Roban sudah terendus cukup lama. Mabes Polri mengklaim te­lah melakukan sejumlah langkah untuk mempersempit gerakan kedua kelom­pok tersebut. salah satunya, meminta bantuan TNI di Sulteng.
Kapolri Jenderal Sutarman mengung­kapkan, pihaknya beberapa waktu lalu meminta bantuan Kodam VII/Wirabua­na untuk mempersempit ruang gerak kelompok Poso. Caranya, menjadikan kawasan perbukitan di Tamanjeka, Poso, sebagai salah satu lokasi latihan TNI AD. Kawasan tersebut sudah lama ditengarai sebagai pusat latihan parami­liter kelompok Santoso.
Hasilnya, aparat menemukan sejumlah amunisi yang dikubur di beberapa titik di perbukitan tersebut. “Kelompok mereka menandai lokasi penguburan amunisi itu dengan GPS, sehingga sewaktu-waktu mereka datang ke sana mudah ditemu­kan,” terang Sutarman kemarin.
Penggunaan teknologi informasi oleh kelompok teroris sudah bukan lagi ba­rang baru. Mereka sudah tidak asing lagi dengan email dan media sosial. Email kini sudah menjadi alat komu­nikasi utama, karena penggunaan tele­pon sangat berisiko.
Menurut Sutarman, kelompok Dayat cs dan kelompok lainnya membuat satu akun email yang digunakan bersama. Semua anggota memiliki password sehingga bisa men­gakses. Untuk berkomunikasi, cukup dengan membuat pe­san yang kemudian disimpan di draft email. Dengan de­mikian, aparat yang mencoba melacak email mereka akan kesulitan karena memang tidak pernah ada email yang keluar dan masuk.
Mantan Kabareskrim itu menuturkan, pihaknya mendapat informasi jika salah satu anggota kelom­pok Dayat, yakni Nurul Haq, hendak pergi ke luar negeri. “Informasinya, yang bersang­kutan sedang dalam proses membuat paspor untuk pergi ke Suriah,” ucapnya.
Kemarin siang, Kapolri membesuk salah satu anggota Densus 88 di sebuah RS di Ja­karta. Dia tertembak saat beru­paya menyergap Dayat yang keluar rumah menggunakan motor. Demi meyakinkan pub­lik jika penggerebekan itu su­dah sesuai prosedur, Sutarman mengajak sejumlah wartawan untuk melihat kondisi korban.
Anggota yang tidak disebut­kan identitasnya itu mengalami luka tembak di lutut kiri dan paha kanan. Menurut Sutar­man, karena melihat rekannya tertembak, anggota Densus yang lain batal melumpuhkan Dayat. Mereka langsung men­garahkan senjata ke bagian tubuh Dayat yang terbuka dan menembak mati.
Sutarman meyakinkan jika langkah yang dilakukan ang­gotanya mengepung rumah kontrakan di Ciputat itu sudah sesuai prosedur. Setelah men­embak mati Dayat, anggota Densus yang sebelumnya hanya mengintai di sekitar kontrakan langsung bergerak mengepung rumah berukuran 3×8 meter persegi tersebut.
Saat rumah yang menjadi target terkepung, komandan lapangan berteriak meminta semua penghuni kontrakan keluar dan menyerah. “Per­intah itu diulangi sampai tiga kali. Karena tidak direspons, mereka (Densus) berupaya merangsek masuk,” tutur alumnus Akpol 1981 itu.
Langkah tersebut, lanjut­nya, langsung disambut tem­bakan dari dalam. Densus pun urung masuk dan memutus­kan membalas. Tidak berapa lama, sebuah bom rakitan dilempar keluar rumah. Ke­beradaan bom yang meledak beberapa saat setelah jatuh ke tanah itu membuat kerumu­nan Densus semburat.
Sementara itu, hingga tadi malam belum ada satupun ke­luarga yang mengklaim kee­nam tersangka teroris yang tewas. Mereka saat ini terbar­ing di kamar mayat RS Polri Kramat Jati, Jakarta. “Kami sedang siapkan foto-foto mereka,” terang Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Boy Rafli Amar kemarin.
Untuk saat ini, belum ada satupun identitas asli mer­eka yang terungkap. Menurut Boy, nama yang diberikan oleh tersangka yang tertang­kap hidup, yakni Anton, ada­lah nama panggilan sehari-hari. Dari Anton pula, didapati keterangan jika keenam orang tersebut berasal dari Jawa Ba­rat dan Jawa Tengah.
Penggeledahan rumah kon­trakan di Rempoa, Ciputat, menghasilkan temuan se­jenis dengan yang disita di kontrakan Kampung Sawah. Yakni, alat komunikasi, kom­puter, sejumlah dokumen, dan uang tunai senilai Rp 90 juta. Rumah itu dikontrak oleh Dayat.
Kesimpulan sementara pihak kepolisian, motif gera­kan kelompok Dayat cs ada­lah solidaritas terhadap ko­munitas muslim Rohingya di Myanmar. Serangan terhadap kedubes Myanmar yang gagal dan Vihara Ekayana di Ja­karta Barat merupakan awal serangan.
Didapatkannya informasi mengenai adanya salah satu dari kelompok Dayat cs yang hendak menuju Suriah ini mengingatkan kembali akan prediksi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebelumnya. BNPT pernah mengatakan bahwa para muhajidin yang sedang berada di Suriah berkesempa­tan untuk “mempraktekkan” ilmu yang mereka dapatkan di sana. Atau dengan kata lain berpeluang untuk menjadi teroris di Indonesia.
Menanggapi hal ini, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sendiri masih be­lum berencana untuk memu­langkan sekitar 50 orang yang masih berada di sana. Pihak Kemenlu juga enggan menge­mukakan apakah akan ada koordinasi secara langsung untuk memblokir visa mereka yang akan bepergian menuju negara perang. Terutama yang menjadikan negera tersebut berpotensi membentuk WNI di sana menjadi kelompok teroris baru.
“Secara umum, mengenai WNI di Suriah sejak awal konflik sudah diimbau agar WNI mempertimbangkan atau meninjau ulang kunjungan ke Suriah. Terkait isu terorisme sebaiknya ditanyakan ke in­stansi yang menangi untuk keterangan lebih lengkap,” ungkap Juru Bicara Kemen­terian Luar Negeri Michael Tene saat dihubungi kemarin. (byu/mia/kim/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.