Ratusan Satpam Puspiptek Mundur

SETU,SNOL Sebanyak 133 satpam Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berlokasi di komplek Puspiptek, Kecamatan Setu, resign massal. Akhirnya, 19 balai yang berada dinaungan BPPT pun tak ada yang men­jaga keamananya. Mereka berhenti kerja lantaran upah tak dibayar sesuai UMR dan tak diberikan jaminan kes­ehatan.
Ke 19 balai yang teran­cam keamanannya tersebut bisa dikatakan sangat vi­tal fungsinya. Antara lain B2TKS, Laboratorium Aero­gas dan Dinamika, Meppo, Balai Termodinamika Me­sin dan Proposi, Balai Besar Teknologi Energi, Lap Tiab, Balai Teknologi Lingkungan, Balai Inkubator Teknologi, Bioteknologi, Sentra teknolo­gi kuniler, dan balai besar lainnya.
Sebelum resign massal, ra­tusan satpam tersebut melaku­kan aksi mogok kerja. “Dari hari Selasa (7/1) lalu kami tak jaga pos keamanan. Baik sift pagi, siang, ataupun malam,” ungkap salah seorang petugas keamanan, Oo Rusmansyah (27).
Dikatakan pria asli Muncul, Kecamatan Setu ini, aksi mer­eka dilakukan karena upah bu­lanan yang selama ini diteri­ma tak sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) Kota Tangsel. Gaji yang dia dan ratusan temannya terima hanya Rp1.450.000 saja per­bulannya.
“Padahal UMR Kota Tang­sel itu sudah Rp2.442.000 perbulannya. Bedanya sangat jauh,” ungkap Oo didampingi oleh ratusan satpam lain­nya, di lapangan Perumahan Batan, Puspiptek, Kota Tang­sel, Kamis (9/1).
Upah perbulan tersebut pun tanpa ditambah tunjangan makan atau transportasi lain­nya. Bahkan untuk jaminan kesehatan dan pekerja Jam­sostek saja tak didapatkan para security ini sejak tahun 2012. Padahal sejak tahun 2011 hingga 2012, semua se­curity mendapatkan jaminan Jamsostek tersebut.
Pihak perusahaan/yayasan yang menaungi para satpam saat bertemu dengan para petu­gas keamanan itu mengaku, nilai tender yang ditawarkan BPPT Puspiptek tak mencuk­upi tuntutan yang dipinta para petugas keamanan. “Itu alasan mereka kepada kami. Makan­ya, kami memutuskan untuk resign,” ungkap Oo.
Meski sudah tak lagi beker­ja, hingga Sabtu (10/1) nanti, ratusan satpam akan menung­gu hingga hak sisa yang be­lum dibayarkan dibayar PT Gomsu sebagai perusahaan outsourshing yang mempe­kerjakan mereka. Antara lain iuran Jamsostek yang sudah dibayarkan pekerja dari 2011 dan 2012, sebelum perusa­haan tak menggunakan Jam­sostek lagi.
“Kami tunggu mereka membayarkan hak kami hing­ga Sabtu (10/1) nanti,” pung­kasnya.
Pengawas tenagakerjaan Dinsosnakertrans, Rusli Pardede, mengaku pihaknya belum mengetahui kejadian yang menimpa ratusan satpam di Pusat Penelitian Ilmu Pen­getahuan dan Teknologi (Pus­piptek) itu. Meski demikian, dia bersama staf pengawasan akan datang ke BPPT Puspi­ptek untuk memastikan hal tersebut.
“Malam ini kita akan datang untuk melakukan koordinasi, seperti apa permasalahan yang mereka hadapi sebena­rnya,” ungkap Rusli, saat di­hubungi melalui sambungan telepon, Kamis (9/1).
Lebih lanjut Rusli men­gatakan, Dinsosnakertrans be­lum mengetahui secara jelas, perusahaan mana yang ber­tanggung jawab sebagai pihak ketiga yang mempekerjakan ratusan satpam di kawasan Puspiptek itu. Karena BPPT merupakan badan negara, bi­asanya dibayar melalui nega­ra, namun dibawah UMR sep­erti halnya TKS atau honorer.
“Kita akan cek terlebih da­hulu, baru bisa memberikan keterangan,” pungkasnya. (pramita/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.