Hari-hari Chris John setelah Putuskan Gantung Sarung Tinju

Tak Ingin Jauh Dari Olahraga, Siap Menjadi Politisi
CHRIS John, sang legenda tinju Indonesia telah pensiun. Rencana ke depan telah disusun. Kini, dia mulai menikmati kesuksesannya di atas ring.
MUHAMMAD AMJAD, Jakarta
PUKULAN beruntun dilepaskan Petinju Afrika Selatan, Simpiwe Vetyeka kepada Chris John pada pertarungan kelas bulu di Metro City, Perth, Australia, 6 Desember lalu. Memasuki ronde keenam, wasit  Gustavo Padilla asal Panama akhirnya menghentikan pertarungan setelah The Dragon, julukan Chris John, mengalami cedera parah di pelipis matanya.
Chris pun dinyatakan kalah TKO sekaligus mengakhiri rekor tanpa kalah dalam karir tinju profesional. Dengan kekalahan ini, rekornya menjadi 52 kali bertanding, 48 kali menang (22 KO), sekali kalah, dan tiga kali imbang.
Bukan hanya rekor yang terhenti, kekalahan itu pun menjadi akhir karir Petinju 34 tahun itu. pada 19 Desember lalu, dia mengumumkan gantung sarung tinju selamanya di Jakarta.
Chris John yang menjadi legenda baru tinju Indonesia sebelumnya telah berhasil mempertahankan 18 kali gelar superchampions kelas bulu. Kesuksesannya di ring tinju itu juga ditegaskan dengan keberhasilannya untuk tetap hidup dalam kondisi yang cukup dengan investasi dan hasil jerih payahnya selama bertinju.
Itu jelas terlihat Saat Jawa Pos ke apartemennya.  Berbagai foto dengan sabuk juara dan berbagai trofi penghargaan tertata rapi di sebuah ruang tamu Apartemen yang terletak di daerah Sudirman, Jakarta, tersebut. Berbagai alat elektronik lengkap terdapat di dalamnya.
Di ruangan yang lain, terdapat beberapa alat fitness, latihan yang masih terlihat baru. Kesan ruangan latihan olahraga semakin terlihat dengan adanya sebuah lapangan tenis meja di tengah-tengah ruangan tersebut.
Kondisi yang ditunjukkan itu, seakan menjadi antitesis dari juara dunia tinju yang dimiliki Indonesia sebelumnya. Ellyas Pical (Juara kelas Bantam yunior IBF) sempat terjarat kasus Narkoba, sampai akhirnya kini menjadi staf KONI.
Demikian juga Nico Thomas (juara dunia terbang mini IBF), sempat terlunta-lunta, kini dia akhirnya dibantu oleh Kemenpora untuk mendapatkan rumah. Sekarang, Nico sebagai anggota Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI).
Petinju berjuluk The Dragon itu mengakui, dia ingin membuktikan bahwa menjadi seorang petinju tidak identik dengan masa depan suram setelah pensiun.
“Kalau kita bisa mengatur, saya yakin petinju juga bisa hidup dengan baik setelah pensiun,” katanya,  kemarin (2/1).
Terlunta-lunta? Tidak, Chris John menegaskan bahwa sedari masih aktif bertinju, dia sudah memikirkan masa depannya. Berbagai macam investasi dilakukan, agar hasil jerih payahnya tak habis begitu saja setelah pensiun dari tinju.
Kiatnya selain memiliki manajemen keuangan, Chris juga banyak belajar dari cerita mantan petinju yang dulu menjadi juara dunia. Beruntung, dia memiliki istri yang mampu menjadi teman untuk mengatur keuangannya, Anna Maria Megawati .
“Kuncinya, mencari istri seperti istri saya,” ujarnya lantas tertawa. “Dia adalah manajemen keuangan yang baik. Dia pula yang mengatur investasi kami untuk masa depan,” tambah lelaki 34 tahun itu.
Dari hasilnya berkarir di dunia tinju selama 15 tahun, ada beberapa rumah dan tanah yang dimilikinya. Selain itu, dia juga menginvestasikan uangnya di tabungan asuransi dari Eropa yang ditangani langsung oleh istrinya.
Dengan investasi-investasi itu, Chris kini bisa mulai mengatur bagaimana cara menikmati hasil keringatnya terdekat. Terdekat, dia dan istri sudah menyusun program liburan keliling Asia, sampai ke Eropa.
“Kami sudah planning, ke Vienna (Austria), Korea, Jepang, Tiongkok. Ada beberapa Negara lagi yang menjadi tujuan liburan kami,” ujar sang istri saat mendampingi Chris kemarin.
Itu sebagai rangkaian pendukung dari program Chris dan istri untuk menambah momongan, Dia sangat menginginkan anak laki-laki. Sebab, saat ini dua anak yang dimiliki adalah perempuan, Maria Luna Ferisha, 8 dan Maria Rosa Rosa Christiani, 5.
Setelah pensiun, Chris ingin melanjutkan gelar lainnya yang sudah disandang cukup lama dan belum dijalani dengan maksimal, yakni sebagai seorang ayah.
“Sekarang saya lebih banyak waktu untuk keluarga. Bisa mendampingi anak-anak saya, hal yang sulit dilakukan kalau saya masih aktif bertinju,” katanya.
Ke depan, lelaki bernama lengkap Christian Yohanes John itu juga sudah memikirkan langkah lain agar dirinya bisa mendapatkan penghasilan dari karirnya sebagai petinju pro. Dia bersama manajemen Dragon Fire Promotion, bendera promotornya dulu, akan menyiapkan buku yang berisi biografinya.
Dari situ, Chris bisa mendapatkan royalti. Selain itu, dia juga sudah mempersiapkan diri untuk menjadi komentator, dan mulai belajar menjadi promotor tinju. Tapi, sebelum itu, Chris akan terlebih dulu menjadi matchmaker tinju, seperti hasil diskusinya dengan sang promotor, Raja Sapta Oktohari.
“Saya sudah punya banyak planning. Saya harus menunjukkan bahwa tinju juga bisa membuat kita sukses, tidak hidup kekurangan setelah pensiun. Selanjutnya saya akan berkarir di dunia yang tak jauh dari tinju,” tegas lelaki kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 14 September 1979 silam itu.
Chris menegaskan, pasca pensiun, apapun pekerjaan dan kegiatannya, tidak jauh-jauh dari olahraga. Dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk dunia olahraga yang telah membesarkan namanya.
Bahkan dia menegaskan keinginannya untuk  mengikuti jejak Manny Pacquiao, juara dunia kelas Welter WBO yang terjun ke politik dan kini menjadi anggota dewan di Filipina. Meski belum ada yang menghubunginya untuk menjadi wakil rakyat, dia menyebut sangat tertarik ke dunia politik.
Hanya, poinnya terjun ke dunia politik adalah mampu menjadi corong dan penggerak untuk memajukan olahraga di Indonesia. Sebab, selama ini dia menilai dunia olahraga, termasuk tinju masih perlu dikembangkan lagi.
“Kalau ada yang meminta saya ke politik, kenapa tidak. Tujuan saya jelas,saya ingin konsen untuk membantu pengembangan olahraga, disamping tugas yang lainnya,” terang petinju yang dulunya juga atlet Wushu tersebut.
Apapun partainya, Chris siap asalkan dia tidak dihalangi untuk menyumbangkan idenya demi kemajuan olahraga Indonesia. Dia melihat, olahraga sejatinya juga bemanfaat besar bagi negara, bukan hanya dari sisi olahraga sendiri, tapi juga berimbas ke lain hal.
“Olahraga bukan hanya untuk meraih prestasi bagi negara. Tapi juga banyak faktor ekonomi, budaya, pariwisata, ataupun faktor lainnya yang bisa terangkat dengan olahraga,” tegas the legend tersebut.
Nah, apa saran dia agar tinju di Indonesia bisa lebih berkembang? Chris menyebut pembinaan dan turnamen menjadi kunci. Saat ini, intensitas kejuaraan tinju di level lokal mapun nasional sangat minim.
Padahal, dia bisa menjadi seperti sekarang, juga tdak bisa dilepaskan dari banyaknya kejuaraan yang digelar pada era 1990-an akhir dan awal 2000-an. Memang, saat itu beberapa stasiun televisi banyak menggelar kejuaraan.
“Tinju profesional dan amatir harus sinergis. Saya siap menyumbangkan pemikiran saya, tapi itu juga butuh komitmen pemerintah dan perusahaan di Indonesia,” tegasnya.
Dengan kemampuan dan pengalamannya, Chris yakin bisa memberikan sumbangsih pemikiran hingga akhirnya nanti bisa melahirkan atlet yang berprestasi bagi Indonesia. Dia juga berharap besa bisa membantu Indonesia melahirkan petinju-petinju juara dunia, sebagai penerusnya dan  Daud Yordan, satu-satunya juara dunia tinju yang dimiliki Indonesia sekarang.
“Harus ada regenerasi. Saya siap untuk mencurahkan ide, tenaga saya untuk membesarkan tinju Indonesia,” tegas  mantan petinju yang memiliki tato naga di punggungnya itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.