Dengan Grobogan Tidak Perlu Impor

Manufacturing Hope 107

HOPE3KITA belum tahu siapa yang akan menjadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun ini. Minggu depan, dalam acara yang biasanya dihadiri 5.000 wirausaha muda, kita baru tahu siapa dia. 

Tiap tahun Bank Mandiri memang mengadakan lomba wirausaha untuk anak muda. Juaranya selalu hebat.

“Saya juara tahun lalu, Pak,” ujar Adi Widjaja saat menyalami saya di sebuah desa di Purwodadi, Jateng. Saya memang ke Desa Krangganrejo untuk bertemu warga di situ.

Desa ini dekat stasiun yang akan dirancang untuk disinggahi KA kelak. Saat ini stasiun yang dulu tidak disinggahi KA itu sedang dibangun dan sudah terlihat gagahnya.

Adi Widjaja datang ke Krangganrejo dengan membawa dua bungkus plastik kedelai. Satu bungkus berisi kedelai impor dari Amerika Serikat. Satunya lagi berisi kedelai hasil tanamannya sendiri yang dibiayai dari hadiah Rp 1 miliar yang dia dapat dari Bank Mandiri. Adi ingin agar saya melihat sendiri bahwa kedelai hasil tanamannya lebih bagus daripada kedelai Amerika.

Waktu ikut lomba di Bank Mandiri dulu Adi memang mengajukan proposal bisnis kedelai yang menguntungkan. Proposal ini menarik perhatian, terutama ketika Indonesia kekurangan kedelai. Kita harus impor kedelai besar-besaran karena produksi kedelai kita sangat kecil.

Itu karena petani tidak mau menanam kedelai yang hasilnya kalah dari tanam padi atau palawija. Produktivitas tanaman kedelai kita hanya sekitar 1,5 ton/hektare. Kalau harga kedelai hanya Rp 7.000/kg, berarti satu hektare sawah hanya menghasilkan uang sekitar Rp 11 juta.

Adi Widjaja mengajukan proposal mengejutkan: bisa 3 ton/hektare. Bahkan, bisa 3,4 ton/hektare. Kalau ini benar, berarti satu hektare sawah bisa menghasilkan Rp 21 juta lebih. Cukup bersaing dengan tanaman padi. Apalagi, kedelai Adi ini sudah bisa dipanen dalam 75 hari.

Adi yang lulusan S-1 Biologi Universitas Satya Wacana Salatiga dan S-2 di Victoria University Melbourne, Australia, itu mengaku hanya mengembangkan penemuan bapaknya. Sang ayah, drh Tjandramukti yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), meninggal dunia tiga tahun lalu dalam usia 75 tahun.

Kalau penemuan Adi ini dikembangkan, gugurlah tesis selama ini bahwa kedelai tidak cocok ditanam di negara tropis seperti Indonesia. Selama ini text book mengatakan bahwa kedelai hanya cocok ditanam di negara subtropik yang mataharinya bersinar lebih panjang.

Dari logika “sinar yang lebih panjang” itulah Tjandramukti berangkat melakukan penelitian. Sang ayah ingin membuktikan bagaimana sinar yang pendek bisa ditangkap secara maksimal sehingga hasilnya sama dengan sinar yang panjang.

Tjandramukti fokus membuat daun kedelai yang mampu menangkap sinar dalam waktu yang lebih pendek, tapi daya serapnya lebih besar. Dalam kasus singkong, para penemu membuat daun singkongnya lebih banyak dan tidak cepat rontok.

Dalam hal kedelai ini, ayah Adi tidak ingin membuat daun kedelai yang lebar dan banyak. Ini karena daun yang lebar cenderung melengkung kalau terkena terik matahari yang sangat panas. Kalau daun itu melengkung, daya serapnya terhadap sinar berkurang.

Tjandramukti justru ingin menciptakan daun kedelai yang tebal. Dengan demikian, posisi daun tidak mudah melengkung saat ditimpa terik matahari. Lalu, ruas-ruas batang kedelai dia buat pendek untuk efektivitas sistem transportasi. Untuk menciptakan dua hal itu (daun tebal dan ruas pendek) diperlukan pupuk khusus.

Walhasil, pupuk khusus inilah yang ditemukan Tjandramukti. Jenis pupuk yang bisa mengubah tanah dan mengubah tanaman.
Adi yang meneruskan penelitian sepeninggal ayahanda merahasiakan formula pupuknya. Tapi, dia mau menjelaskan bahwa semua itu berbasis kotoran sapi.

“Hanya, makanan sapinya kami atur secara khusus,” kata Adi. “Tetap ada unsur serat, protein, dan karbohidrat, tapi kami campur dengan ramuan khusus,” tambahnya.

Begitu mendapat hadiah Rp 1 miliar dari Bank Mandiri, Adi langsung bergerilya mencari petani yang mau sawahnya ditanami kedelai dengan benih dan pupuk khusus. Dia mendapat sawah seluas 950 hektare. Minggu lalu kedelai hampir 1.000 hektare itu panen. Hasilnya 3,4 ton/hektare. Sama dengan produktivitas kedelai Amerika.

Hebatnya, kedelai Adi ini bukan teknologi transgenik. Ini kedelai organik. Butirannya lebih seksi dan sedikit lebih besar daripada kedelai Amerika.

Mengapa hanya menanam 950 hektare? “Itulah maksimum volume pupuk yang bisa kami buat. Kami hanya punya 50 sapi,” ujar Adi. “Kami perlu membeli sapi tambahan untuk bisa bikin pupuk khusus yang lebih banyak.”

Sambil meninggalkan Purwodadi kemarin, saya merasa bersyukur karena Bank Mandiri bisa “menemukan” Adi Widjaja. Tantangan berikutnya tinggal mengembangkannya. Kita sudah mendapat kendaraan untuk swasembada kedelai. Kita tinggal menyediakan jalannya. Kita bisa! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.