Belum Disodet Meluap Duluan

Ribuan Rumah di Pinggiran Cisadane Terendam
TANGERANG, SNOL Alasan penolakan sodetan Ciliwung-Cisadane yang ditentang tiga kepala daerah di Tangerang, langsung dibuktikan kemarin. Sungai Cisadane, sungai yang melintasi Tangerang meluap aki­bat tidak kuat menampung debit air yang terus meningkat dari hulu, Bogor. Ribuan rumah terendam dan ribuan kepala kelu­arga mengungsi. “Iya, airnya sudah meluap ke jalan umum setinggi 30 sentimeter. Kendaraan mulai berhati-hati melintas,” kata Mufid warga Karawaci, Kota Tangerang, Selasa (21/1).
Arus di sungai Cisadane saat ini dalam kondisi kencang. Debit air pun terus bertambah karena limpahan dari Bogor. Saat ini, ketinggian air di sungai Cisadane pun terus bertambah. Pemukiman warga di Panung­gangan Barat, Cibodas, telah terkena dampak banjir dari lua­pan air Sungai Cisadane. “Warga di Panunggangan yang berdeka­tan dengan Sungai Cisadane sudah terkena dampak banjir. Ketinggiannya sampai setengah meter lebih. Banjir merendam di dua RW dan 4 RT,” kata Ju­madi, warga Panunggangan.
Luapan Cisadane kemarin juga membuat Masjid Al-Itihad di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Tangerang, bagian bela­kangnya hancur tergerus akibat luapan sungai cisadane.
Firman, salah seorang warga di lokasi mengatakan, bagian belakang masjid yang tergerus arus sungai Cisadane yakni sepanjang 4 meter. “Pagar pembatas antara masjid dan sungai pun ikut tergerus arus air sungai cisadane yang sangat kencang,” kata Firman.
Dikatakannya, debit air sun­gai Cisadane sejak kemarin me­mang mengalami peningkatan. Namun, pada sore hari ini ket­inggiannya meningkat drastis. Tak hanya itu saja, arus sungai Cisadane pun begitu kencang. Hal itu yang membuat bangu­nan belakang masjid tergerus.
Di Kota Tangerang Selatan, banjir akibat luapan Cisadane juga merendam ratusan rumah di perumahan Pesona, Desa Kade­mangan Kecamatan Setu, seting­gi satu meter. Sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) dari tiga Rukun Tetangga (RT) di perumahan itu terpaksa harus mengungsi.
Pantauan Satelit News, banjir yang melanda RT.9, 10 dan 13 RW.03 itu terjadi mulai pukul 14.00 Siang. Banjir terjadi aki­bat meluapnya sungai Cisadane yang berjarak hanya 500 meter dari perumahan itu. “Air ini bu­kan akibat hujan di Tangerang, tapi akibat kiriman dari Bogor,” kata Khomsu Rijal, warga yang rumahnya terendam banjir.
Hingga pukul 18.00 WIB, air masih menggenangi perumahan tersebut. Warga takut menem­pati rumahnya lantaran kha­watir debit air sungai Cisadane kembali meningkat pada malam hari. Mengingat, kondisi curah hujan di Bogor sulit terdeteksi. “Untuk sementara kami mantau dulu di dataran lebih tinggi. Ka­lau sudah dianggap aman, baru kami tempati lagi,” terangnya.
Camat Setu Bani Khosyatullah saat ditemui di tenda pengungsian mengatakan, sebagai langkah an­tisipasi pihaknya intens berkoor­dinasi dengan dinas-dinas terkait seperti BPBD, Satpol PP, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kesejahteraan Sosial (Disnaker­transos) serta pihak terkait lain­nya untuk menanggulangi ben­cana banjir ini dan banjir susulan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. “Untuk membantu warga kor­ban banjir saat ini, kami sudah menerjunkan para petugas dari dinas-dinas terkait. Kami juga sudah mendatangkan perahu karet untuk mengevakuasi war­ga,” terang Camat.
Selain di Kademangan, pihaknya juga terus memantau di titik lainnya, seperti di Perum Citra 2 Keranggan dan di dekat jem­batan JLS Keranggan. “Di Pe­rum Citra 2, air solokannya ga bisa mengalir ke kali Cisadane karena debit ketinggian air Cisa­dane lebih tinggi. Jadi air solo­kannya berbalik dan bisa meng­genangi perumahan,” tuturnya.
Sungai Cisadane rencananya akan dijadikan limpahan dari Kali Ciliwung Bogor sesuai rencana Gubernur DKI Ja­karta dan Gubernur Jawa Ba­rat. Namun demikian, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskan­dar, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah dan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Ra­chmi Diany menolak rencana tersebut karena akan berdampak terhadap banjir di Tangerang.
Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, penolakan rencana pembuatan sodetan Ciliwung-Cisadane diperlihatkan dengan me­luapnya sungai Cisadane, ke­marin yang membuat beberapa wilayah di Tangerang terkena banjir yang cukup parah.
“Apa yang kami sampaikan bukan alasan, tapi realita. Lihat saja sekarang sebelum dilaku­kan sodetan pun kita bisa me­lihat betapa bahayanya sungai Cisadane,” papar Zaki kepada Satelit News, Selasa (21/1).
Zaki menambahkan, seharus­nya pemerintah pusat melaku­kan pengkajian dahulu berapa kekuatan yang dimiliki oleh tanggul-tanggul di sepanjang Cisadane apakah mampu me­nahan debit air yang besar.
“Saya jamin sampai saat ini belum ada pengkajian terhadap berapa kekuatan tanggul-tang­gul di Cisadane seperti di pintu air 10. Berapa kekuatannya dan berapa lama akan bertahan. Jika tetap dipaksakan bukan tidak mungkin Pintu Air 10 bisa je­bol,” tegas Zaki.
Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah mengatakan, peno­lakan pembangunan sodetan Sun­gai Ciliwung-Cisadane karena kondisi Cisadane dan Bendung Pasar Baru Cisadane atau Pintu Air 10 tidak mendukung rencana tersebut. “Kalau dilihat dari kon­disi Pintu Air 10, kondisinya tidak akan kuat menahan gempuran aliran air dari sodetan. Jadi, sode­tan sangat tidak layak dilakukan,” kata Arief, Selasa (21/1).
Arief mengatakan, jika so­detan itu jadi dibangun dan menimbulkan banjir, maka dampaknya akan dirasakan oleh warga Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Dari ha­sil pemantauannya di Pintu Air 10, Arief mengatakan, penjaga pintu juga membenarkan bah­wa bendungan tersebut tidak akan sanggup menahan air dari sodetan Ciliwung.
“Dari penjelasan penjaga pintu air itu saya mengambil kesimpu­lan bahwa program sodetan ini tidak bisa diterapkan di Kota Tangerang. Kalau pihak lain pu­nya argumen teknis tentang pro­gram sodetan, maka kami punya argumen realistis,” kata Arief.
Senada, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengatakan, tidak ada manfaat yang dirasakan buat Tangerang atas rencana sodetan Ciliwung-Cisadane itu. “Kaji dululah secara teknis. Kalau tak membawa manfaat untuk Tangsel, buat apalah!” ujarnya saat ditemui di gedung DPRD, Selasa (21/1).
Hingga saat ini saja, menurut Benyamin, Pemprov DKI Ja­karta, belum pernah diajak be­runding untuk mengatasi ban­jir. Termasuk pertemuan pada Senin (20/1) di lalu, Pemkot Tangsel tidak diundang. “Tidak ada pemberitahuan. Makanya kaji kembali saja secara teknis, manfaatnya jangan hanya untuk DKI Jakarta. Tapi juga untuk kota dan kabupaten yang ada di sekelilingnya,” pungkasnya.
Rencana pembangunan sode­tan Ciliwung-Cisadane pernah diusulkan pada tahun 2000 silam. Gagasan itu kembali dimuncul­kan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Usulan tersebut disetujui dalam rapat koordinasi antarpemerintah daerah dan Ke­menterian Pekerjaan Umum di posko pantauan Katulampa, Bo­gor, Senin (20/1). Namun, karena Pemerintah Kota dan Kabupaten Tangerang tidak hadir dalam rapat tersebut, Kementerian PU akan mengonsultasikannya lebih dulu dengan pemerintah di ked­ua daerah tersebut. (jojo/aditya/jarkasih/deddy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.